Harun Yahya Dihukum 1000 Tahun Penjara Setelah Terbukti Lakukan Pelecehan Seksual, Ini Jelasnya
Terbukti Lakukan Pelecehan Seksual, Harun Yahya Dihukum 1000 Tahun Penjara
Harun Yahya Dihukum 1000 Tahun Penjara Setelah Terbukti Lakukan Pelecehan Seksual, Ini Jelasnya
BANGKAPOS.COM -- Pria bernama Harun Yahya ini pernah viral di Indonesia pada tahun 2000an melalui VCD dan buku-buku agamanya.
Ya, pemilik nama asli Adnan Oktar ini dikenal di negaranya sebagai televangelis, penulis buku-buku Islam dan juga pendakwah.
Kini pria yang berusia 64 tahun itu ditahan oleh kepolisian Turki.
Nama Adnan Oktar atau lebih dikenal dengan Harun Yahya ramai diperbincangkan warganet dalam 24 jam terakhir.
Pasalnya, televangelis berkebangsaan Turki itu dijatuhi hukuman 1.075 tahun penjara karena terbukti melakukan kejahatan seksual.
Baca juga: Mabes Polri Selidiki 2 Identitas Palsu Penumpang Sriwijaya Air SJ-182, Ini Jelasnya
Baca juga: Sempat Ditangisi Keluarga Dikira Jatuh Bersama Sriwijaya Air, Yulius Ternyata Sudah Sampai Pontianak
Baca juga: Buka-bukaan Crazy Rich Surabaya Tom Liwafa Ditanya soal Poligami, Jawabnya ini Menohok, Tegas Setia
Adnan Oktar atau Harun Yahya sebelumnya ditahan oleh Kepolisian Istanbul pada 2018 bersama lebih dari 200 tersangka lain di kelompoknya.

Adapun vonis terhadap Harun Yahya dijatuhkan oleh pengadilan di Istanbul, Turki, pada Senin (11/1/2021) lapor BBC Indonesia.
Dilansir The Guardian, Adnan Oktar sebelumnya ditahan oleh kepolisian Istanbul pada 2018 bersama lebih dari 200 tersangka lain di kelompoknya.
Baca juga: Avsec Investigasi Terkait Dua Penumpang Sriwijaya Air SJ-182 Diduga Gunakan KTP Orang Lain
Baca juga: Fakta Video Disebut Detik-detik Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air, KNKT: SJ182 Hancur Membentur Laut

Dia disebut seorang televangelis karena kerap berdakwah di televisi bersama para wanita berpakaian minim yang dia sebut "anak kucing".
Dilansir dari Kompas.com pada (12/1/2021), di salah satu acara dakwahnya, Harun Yahya sering menyampaikan ide kreasionisme dan nilai-nilai konservatif.
Sementara terlihat ia dikelilingi para wanita mengelilinginya dengan pakaian terbuka, tampak dari mereka menjalani operasi plastik.
Melansir stasiun televisi NTV, Harun Yahya divonis lebih dari 1.000 tahun penjara karena melakukan penyerangan seksual.
Bahkan disebut juga ia juga melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, penipuan dan spionase politik dan militer.
Pengadilan juga menghukum dua eksekutif lain di organisasi Oktar, Tarkan Yavas dan Oktar Babuna, masing-masing selama 211 dan 186 tahun.
Baca juga: Daiana, Gadis Cantik Kazakhtan yang Dilamar Fiki Naki Youtuber Asal Indonesia, Begini Trik Gombalnya
Baca juga: Analisa Kapten Vincent Raditya Sriwijaya Air Kena Stall, Curiga Pesawat Oleng Tajam dalam 1 Menit

Disangkutkan dengan kudeta tahun 2016
Kantor berita resmi Turki, Anadolu melaporkan bahwa Harun Yahya juga dinyatakan bersalah karena membantu kelompok yang dipimpin oleh pendakwah Muslim yang berbasis di Amerika Serikat (AS) Fethullah Gülen yang disalahkan Turki karena melakukan upaya kudeta yang gagal pada 2016.
Meski begitu, ia membantah berkaitan dengan Gülen.
Sekitar 236 terdakwa menghadapi tuntutan, 78 di antaranya ditahan menunggu persidangan, menurut laporan Anadolu.
Sebagian besar tersangka tetap tidak bersalah sejak sidang pertama pada September 2019.
Baca juga: Melanie Subono Sentil Kapten Vincent yang Bikin Konten Jatuhnya Sriwijaya Air: Lumayan Ya Duitnya
Baca juga: Bye Mama, Anak 5 Tahun ini Naik Ambulans Sendirian untuk Karantina, Videonya kini Viral
Baca juga: Dicap Anak Durhaka, Agesti Ayu Perempuan Asal Demak Angkat Bicara dan Ngotot Penjarakan Ibu Kandung
Pengakuan yang memberatkan hingga 1075 tahun penjara
Selama persidangan yang diikuti media Turki, Pengadilan mendengar detail kejahatan seksual yang sangat mengerikan dari Oktar.
Kepada Hakim Ketua pada Desember lalu, Oktar mengaku memiliki kekasih hampir 1.000 wanita.
"Ada luapan cinta di hati saya untuk wanita."
"Cinta adalah kualitas manusia. Itu adalah kualitas seorang Muslim," katanya dalam sidang lain di bulan Oktober.
Dia bahkan menambahkan pada kesempatan persidangan lain bahwa dia "luar biasa kuat".
Oktar alias Harun Yahya pertama kali menjadi perhatian publik pada era 1990-an ketika dia dilaporkan sebagai pemimpin sekte yang terlibat dalam berbagai skandal seks.
Tak hanya di Indonesia, melansir dari Harian Metro Malaysia. Harun Yahya juga pernah viral di sana, dengan buku dan VCD dakwah kreasionisme-nya.
Saluran televisi A9 online miliknya mulai mengudara pada tahun 2011, menarik kecaman dari para pemimpin agama di Turki.
Saluran TV tersebut, yang sering didenda oleh pengawas media Turki RTUK, disita oleh negara dan ditutup setelah tindakan keras polisi terhadap kelompok Oktar.
Pengakuan korban
Salah satu wanita di persidangannya, yang hanya disebut bernama CC mengatakan bahwa Oktar telah berulang kali melakukan pelecehan seksual terhadapnya dan juga wanita lainnya.
Beberapa wanita yang diperkosa dipaksa minum pil kontrasepsi, menurut keterangan CC.
CC juga menambahkan bahwa dia sendiri telah bergabung dengan kelompok Oktar ketika dia berusia 17 tahun.
Ditanya tentang 69.000 pil kontrasepsi yang ditemukan di rumahnya oleh polisi, Oktar mengatakan bahwa pil itu digunakan untuk mengobati gangguan kulit dan gangguan menstruasi.
Otoritas Turki akhirnya menghancurkan vila milik Harun Yahya dengan berbagai bukti itu.
Vila tersebut juga digunakan untuk studio TV-nya, menyita semua propertinya pada 2018.
Oktar menolak teori evolusi Darwin dan telah menulis buku setebal 770 halaman berjudul "The Atlas of Creation" dengan nama pena, Harun Yahya.
Buku-buku dan VCD-nya tentang kreasionisme-nya ini pun pernah sampai di Indonesia dan ramai dibahas pada akhir tahun 1990-an hinnga awal tahun 2000an.
Bantah teori evolusi Darwin
Sepanjang kariernya, Oktar tak pernah luput dari kontroversi, di antaranya, yang paling terkenal adalah penolakan atas teori evolusi Darwin.
Dengan nama pena Harun Yahya, ia menulis buku setebal 770 halaman berjudul The Atlas of Creation untuk membantah teori evolusi Darwin.
Mengutip New York Times, 17 Juli 2007, argumen utama yang disampaikan Oktar dalam buku itu adalah makhluk hidup saat ini sama seperti makhluk hidup yang hidup di masa lalu.
Menurut Harun Yahya, evolusi tidak mungkin terjadi dan hanya sebatas ilusi, kebohongan, tipuan, dan krisis teori.
Dalam bukunya itu, ia menampilkan foto-foto fosil tumbuhan, serangga, dan hewan untuk mendukung klaimnya.
Ia mengatakan, hampir 100 juta fosil yang telah ditemukan sejauh ini menunjukkan tak ada evolusi apa pun dan semuanya diciptakan dengan cara yang sama oleh Tuhan.
Oktar juga berusaha mengungkap hubungan antara pandangan ilmiah dan kejahatan modern, seperti fasisme, komunisme, dan terorisme.
Buku terbitan tahun 2006 tersebut sempat menimbulkan kegemparan dan ditentang oleh para ilmuwan.
Untuk mendapat perhatian global, Harun Yahya disebut mengirim salinan karyanya itu ke banyak ilmuwan dan institusi di luar negeri.
Ahli biologi evolusi dari University of California Kevin Padian mengatakan, banyak rekannya hanya tercengang dengan ukuran, nilai produksi, dan omong kosong di dalam buku itu.
"Jika dia melihat gambar kepiting fosil tua atau sesuatu, dia berkata, 'Lihat, itu terlihat seperti kepiting biasa, tidak ada evolusi'" kata Padian.
"Kepunahan sepertinya tidak mengganggunya. Dia tidak benar-benar memahami apa yang kami ketahui tentang bagaimana hal-hal berubah seiring waktu," lanjut dia.
Namun, dukungan untuk Yahya banyak muncul dari kalangan Muslim seiring terbitnya The Atlas of Creation.
Seorang penulis biologi konvensional Dr Miller mengatakan, ia secara teratur menerima pesan email dari orang-orang yang mempertanyakan evolusi, dengan jumlah yang meningkat datang dari Turki, Lebanon, dan negara Timur Tengah.
Kebanyakan mereka mengutip karya Harun Yahya.
"Itu meresahkan, karena ide-ide Yahya melemparkan evolusi sebagai bagian dari pengaruh Barat yang merusak budaya Islam. Itu juga bisa mendorong sikap anti-sains yang mendalam," kata dia.
Dalam sebuah wawancara dengan The Guardian pada 22 Desember 2008, Oktar mengaku tak memiliki pengalaman atau latar belakang akademik.
Ia juga bukan seorang akademisi, tetapi pernah belajar mengenai desain interior.
Wartawan The Guardian pun dibuat bingung ketika ia tak mendapati satu pun laboratorium penelitian yang dapat digunakannya.
(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Rekam Jejak Harun Yahya, Pernah Jadi Sorotan karena Penolakannya atas Teori Evolusi Darwin", dan di Tribunstyle.com dengan judul Viral di Indonesia di Tahun 2000an, Harun Yahya Dihukum 1000 Tahun Penjara Karena Pelecehan Seksual dan juga telah tayang di serambinews.com dengan judul Terbukti Lakukan Pelecehan Seksual, Harun Yahya Dihukum 1000 Tahun Penjara