Pengamat Sebut Ada 3 Kelompok Penolak Calon Kapolri Listyo Sigit, Kenapa Nomor Tiga Paling Bahaya?

Jalan Komjen Listyo Sigit menjadi Kapolri diperkirakan bakal mulus. Namun, pengamat menyebut setidaknya ada 3 kelompok penolak Listyo Sigit.

Editor: Dedy Qurniawan
KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO
Pengamat Sebut Ada 3 Kelompok Penolak Calon Kapolri Listyo Sigit, Kenapa Nomor Tiga Paling Bahaya? - Kepala Bareskrim Polri, Komjen Listyo Sigit, dalam konferens pers penangkapan terpidana kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra tiba di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Kamis (30/7/2020). 

BANGKAPOS.COM - Jalan Komjen Listyo Sigit menjadi Kapolri diperkirakan bakal mulus.

Pasalnya, kekuatan di DPR diprediksi bakal menyetujui usulan calon tunggal Kapolri dari Presiden Joko Widodo itu dengan mudah.

Presiden Joko Widodo mengajukan Komjen Listyo Sigit Prabowo sebagai calon Kapolri baru.

Berbagai dukungan sudah disampaikan oleh partai politik, ormas maupun tokoh masyarakat.

Namun, masih ada juga yang menolak Listyo dengan berbagai alasan.

Direktur The Indonesia Intelligence Institute Ridlwan Habib menilai penolakan terhadap Komjen Listyo Sigit dilakukan oleh 3 kelompok.

"Ciri kelompok penolak itu ada tiga, terlihat dari karakter tokoh maupun aksi mereka, " ujar Ridlwan di Jakarta, Sabtu (16/1/2021).

Kelompok pertama, adalah mereka yang cemas dengan rekan jejak bersih Komjen Listyo Sigit.

"Ada yang khawatir kalau pak Sigit jadi Kapolri karena selama ini track recordnya lurus dan tanpa kompromi, " ujarnya.

Kelompok pertama ini cemas jika Kapolri baru melakukan penegakan hukum secara tegas dan tidak pandang bulu.

"Kelompok pertama ini diduga menggerakkan demonstran bayaran untuk mempengaruhi opini masyarakat, " kata Ridlwan.

Kelompok kedua yang menolak Komjen Listyo Sigit adalah kelompok intoleran yang memainkan narasi SARA.

"Padahal walaupun Pak Sigit nonmuslim, beliau sangat dekat dengan tokoh tokoh Islam maupun agama lainnya," kata Ridlwan.

Kelompok intoleran yang bermain SARA ini menurut Ridlwan berupaya mempengaruhi opini di media sosial.

"Mereka memakai akun anonim di twitter dan Facebook. Tapi tetap bisa dilacak oleh CCIC Mabes Polri, "ujar alumni S2 Kajian Stratejik Intelijen itu.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved