Jumat, 1 Mei 2026

BUKAN Kakek Koswara yang Digugat Anak, Ini Koswara Lain yang Lebih Dulu Terkenal di Indonesia

Bahkan ketika kita mengetik kata kunci 'koswara' di mesin pencari google maka ada sekitar 2.480.000 hasil (0,68 detik) yang mencarinya

Tayang:
Penulis: Edy Yusmanto | Editor: Ardhina Trisila Sakti
(Tribun Jabar/Mega Nugraha)
RE Koswara (85) 

Kedua, menjadi intelijen. Intinya masuk ke jantung pertahanan, melihat kondisi medan, dan melaporkannya ke atasan yang menyusun strategi perang.

Bahkan, ada kalanya sniper ditugaskan untuk mengacaukan pertahanan lawan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi jatuhnya korban.

"Lawan kita itu Pasukan Fretilin yang tahu persis medan di Timtim. Mereka pun punya kemampuan gerilya yang hebat, makanya Indonesia menurunkan sniper untuk mengurangi jumlah korban," ujarnya.

Merah Putih

Pada suatu hari, Tatang ditugaskan masuk ke jantung pertahanan lawan. Tanpa disadari, Tatang berada di tengah kepungan lawan. Ada 30 orang bersenjata lengkap di sekelilingnya.

Tatang terperangkap dan tak bisa bergerak sama sekali. Dalam pikirannya hanya ada satu bayangan, kematian. Namun, sebelum mati, ia harus membunuh komandannya terlebih dahulu.

"Posisi komandannya sudah saya kunci dari pukul 10.00 WIB. Tapi, saya juga ingin selamat, makanya saya menunggu saat yang tepat. Hingga pukul 17.00 WIB, komandan itu pergi ke bawah dan saya tembak kepalanya," tuturnya.

Namun, ternyata, di bawah jumlah pasukan tak kalah banyak. Tatang dihujani peluru dan terkena dua pantulan peluru yang sebelumnya mengenai pohon.

"Darah mengalir deras hingga sudah sangat lengket. Tapi, saya tidak bergerak karena itu akan memicu lawan menembakkan senjatanya," ucapnya.

Tatang baru bisa bergerak malam hari. Ia mencoba mengikatkan tali bambu di kakinya. Dengan bantuan gunting kuku, dia mencongkel dua peluru yang bersarang di betisnya. Namun, darah tak juga berhenti mengalir. Ia pun melepas syal merah putih tempat menyimpan foto keluarga. Sambil berdoa, dia mengikatkan syal tersebut di kakinya.

"Saya memiliki prinsip, hidup mati bersama keluarga, minimal foto keluarga. Saya pun berdoa diberi keselamatan agar bisa melihat anak keempat saya yang masih dalam kandungan, lalu mengikatkan syal merah putih. Ternyata, darah berhenti mengalir. Merah putih menjadi penolong saya," ungkapnya.

Selama empat kali masuk ke medan perang, Tatang mengatakan, pelurunya telah membunuh 80 orang. Bahkan, dalam aksi pertamanya, dari 50 peluru, 49 peluru berhasil menghujam musuh.

Satu peluru sengaja disisakannya. Ini untuk memenuhi prinsip seorang sniper yang pantang menyerah. Sebagai seorang sniper, dalam keadaan terdesak, dia akan membunuh dirinya sendiri dengan satu peluru tersebut.

Lewat kelihaiannya itulah, Tatang didaulat menjadi salah satu sniper terbaik dunia, seperti dituliskan dalam buku yang ditulis Brookesmith itu. Tatang mencetak rekor 41 di bawah Philip G Morgan (5 TH SFG (A) MACV-SOG) dengan rekor 53 dan Tom Ferran (USMC) dengan rekor 41. Tatang memperoleh rekor tersebut dalam perang di Timor Timur pada 1977-1978.

Jadi Tentara

Suara mesin jahit terdengar sayup dari ruang keluarga. Tidak lebih dari 15 menit, suara tersebut hilang, beriringan dengan kemunculan seorang perempuan setengah baya dari balik pintu ruangan tersebut.

"Silakan diminum. Maaf seadanya," ujar Tati Hayati, istri Tatang Koswara (68), salah satu sniper (penembak jitu) terbaik dunia, di kediamannya di kawasan Cibaduyut, Bandung, Senin (2/3/2014).

Tati mengatakan, sejak menikah dengan Tatang pada 1968, ia sudah terbiasa hidup sederhana. Misalnya dalam hal pakaian. Untuk pakaian keluarganya, ia jarang membeli baju. Biasanya ia membeli kain kiloan di Cigondewah atau Pasar Baru, Bandung, untuk kemudian dijahit.

"Pakaian untuk dipakai sendiri saja, tidak untuk dijual," ucapnya sambil tersenyum.

Tatang menuturkan, kepandaian Tati dalam menjahit telah membantu perekonomian keluarga. Dengan menjahit, ada nilai ekonomi yang bisa dihemat. Tati mencontohkan, ia beberapa waktu lalu melihat pakaian berharga Rp 300.000 di toko. Meski memiliki uang dengan jumlah tersebut, Tatang tidak membelinya. Ia mengantar sang istri mencari kain kiloan dan menjahitnya.

Hidup sederhana memang sudah diterapkan Tatang dan Tati sejak membina rumah tangga. Bahkan, bagi Tatang, ketika dirinya menyatakan bergabung ke TNI, bayangan hidup sebagai orang kaya tak pernah terlintas sedikit pun karena menjadi TNI seperti burung yang diberi makan (gaji) tepat pada waktunya.

"Menjadi TNI tidak akan kelaparan, tetapi tidak akan kaya. Saya sudah siap dengan itu. Makanya, saat akan menikah, saya bertanya kepada istri apa siap hidup sederhana dan mungkin pas-pasan. Ternyata istri saya mau," imbuhnya.

Begitupun saat kali pertama ia menyerahkan gaji ke istrinya. Saat itu, Tatang berpesan agar Tati pintar dalam mengelola keuangan yang seadanya. Namun, tanpa diberi tahu, sang istri pintar dalam mengelola keuangan. Pengalamannya di Persatuan Istri Prajurit (Persit) memberi banyak keahlian.

"Istri saya ini pintar memasak apa pun. Mau makanan Padang, Madura, Sunda, atau apa pun. Ini semua belajar dari Persit," tuturnya.

Karena kelihaiannya tersebut, ia dan sang istri pernah berbisnis katering untuk pabrik. Pegawai pabrik menyukai masakan sang istri. Selain karena enak, menu yang ditawarkan beragam. Misalnya, hari Senin makanan Sunda, lalu Selasa makanan Padang, Rabu makanan Madura, dan seterusnya.

Namun, kini ia dan istrinya hanya menjalankan bisnis rumah makan di Kodiklat TNI AD Bandung. Di rumah makan berukuran 4 x 3 meter yang berada di dalam Pujasera Serdadu tersebut, Tatang dan istrinya bahu-membahu menjalankan bisnisnya. Kini, setelah divonis penyakit jantung, usaha rumah makan tersebut dilanjutkan oleh anaknya.

Tatang mengatakan, suka duka menjadi tentara yang mengabdikan hidup hanya bagi negara menjadi bagian hidupnya sehari-hari. Namun, ia tidak pernah menyesal menjadi tentara. Bahkan, ia merasa bangga, apalagi ketika ia berhasil membesarkan keempat anaknya dengan baik. Bahkan, anak laki-lakinya kini menjadi pengacara.

"Anak saya enggak ada yang jadi tentara. Ada sih menantu saya yang jadi tentara. Satu mantu lagi seorang arsitek," tutupnya menceritakan buah dari kehidupan sederhananya.

2.  RE Koswara

Polemik ayah dan anak satu ini benar-benar menyita perhatian publik.

Tuntutan soal ganti rugi miliaran rupiah membuat banyak orang tak habis pikir.

Kemarahan Koswara (85) kepada anak-anaknya sangat beralasan.

Banting tulang, peras keringat, siang malam.

Tak pedulikan panas dan hujan ia bekerja untuk menafkahi keluarga dan anak-anaknya.

Ia juga harus membiayai kuliah semua kuliah anak-anaknya.

Tapi apa balasannya ketika sudah jadi sarjana. 

Anak-anaknya dinilai durhaka. Bapaknya yang sudah tua renta digugat hingga Rp 3 miliar.

Uang sebesar itu diakui Koswara harus didapatnya dari mana.

Ia pun marah hingga mencoret 4 anak-anaknya yang telah menggugatnya dari kartu keluarganya

Termasuk Deden dan almarhumah Masitoh dari kartu keluarga.

Hal itu dilakukan Koswara karena Deden tetap kukuh tak menyesal sudah gugat ayahnya, Koswara senilai Rp 3 M.

Kasus ini diketahui berawal saat Deden, pria asal Kabupaten Bandung yang menggugat ayahnya, RE Koswara ke pengadilan gara-gara tak lagi mengontrakan toko kepadanya lagi.

Selain gugat Rp 3 M, Masitoh dan Deden juga meminta bayar ganti rugi material Rp 20 juta dan immateriil senilai Rp 200 juta.

Mengetahui dirinya didugat sendiri oleh 3 anaknya, Koswara menangis histeris.

Kakek usia 85 tahun ini mengaku sudah banting tulang demi menyekolahkan semua anak-anaknya hingga sarjana.

"Semua anak saya sarjana. Satu orang sudah ( Masitoh) SH., MH," ucap Koswara sambil menangis.

"Dia (Masitoh) juga anak saya yang ketiga. Pengacara, Masitoh SH MH," kata Koswara.

Namun ketika kini ia digugat anaknya Rp 3 M, Koswara mengaku tak tahu kemana harus mencari uang sebanyak itu.

"Saya uang dari mana. Menyekolahkan mereka juga sudah lebih dari itu (Rp 3 M). Nyarinya juga hujan panas berangkat untuk cari uang demi keperluan mereka, sekarang mah saya mau istirahat," ucap Koswara.

Pada wawancara pekan lalu, Hamidah mengungkap bahwa bapaknya sempat membuat surat pernyataan tertulis sebagai bentuk kekecewaannya pada anak-anaknya yang menggugat.

Bapaknya membuat surat tertulis bermaterai dengan cap notaris yang menyatakan dia tidak lagi mengakui Masitoh, Deden, Ajid dan Muchtar sebagai anaknya lagi.

"‎Iya, bapak saya menulis pernyataan tertulis tidak mengakui empat orang, Deden, Masitoh, Ajid dan Muchtar sebagai anaknya."

"Itu ditandatangani tertulis oleh bapak saya, di hadapan notaris dan tujuh saksi. Itu karena bapak saya sangat kecewa, padahal semuanya anak seibu sebapak," ucap Hamidah.

Melihat sang ayah tiba-tiba mencoretnya dari KK, Deden pun langsung bertindak.

Ia nyatanya kini ingin meminta maaf dan berdamai dengan Koswara.

Ditemui di Pengadilan Negeri Bandung pada Selasa (26/1/2021), Deden mencurahkan isi hatinya.

Dengan mata berkaca-kaca, Deden mengaku punya banyak dosa kepada orangtuanya karena sudah gugat sang ayah, Koswara Rp 3 M.

Meski menggugat ayah, Deden mengaku sangat menyayangi orangtuanya.

"Saya punya dosa, orang tua lebih sayang sama saya, saya juga sayang sama orang tua. Saya minta maaf," ucap Deden, dilansir TribunnewsBogor.com dari TribunJabar.

Selain mohon ampun, Deden juga mengaku siap jika diminta bersujud di depan kaki sang ayah, Koswara.

"Saya juga sempat minta ke adik-adik saya untuk minta maaf ke bapak. Harus sujud ke orangtua, saya ngomong itu ke kakak dan adik saya," ucap Deden.

"Saya minta maaf. Saya sayang benar sama orangtua. Orangtua nyekolahin saya," pungkas Deden dilansir dari video TribunJabar.com, Rabu (27/1/2021).

Tak cukup sekali, Deden pun berkali-kali menyampaikan permohonan maaf atas perbuatannya kepada orang tuanya.

"Saya juga minta maaf kalau apabila saya benar-benar salah. Soalnya saya sayang sama orangtua. Benar-benar sayang dari lubuk hati.

Karena nanti mati juga, yang ditanya mana ibumu mana bapakmu," tambah Deden.

Lebih lanjut, Deden pun siap untuk berdamai dengan sang ayah, Koswara.

"Saya siap bersujud di kaki Bapak. Saya minta maaf, saya benar-benar salah, saya sayang sama orangtua.

Orangtua sekolahkan saya hingga seperti ini, saya siap untuk perdamaian," ucap Deden.

Deden pun curhat bahwa dirinya sempat ingin menemui Koswara dan meminta maaf.

Namun niatan Deden itu dihalang-halangi oleh adiknya sendiri, Hamidah yang juga ikut digugatnya.

Momen itu terjadi saat sang adik, Masitoh meninggal dunia.

Masitoh adalah anak Koswara yang sempat menjadi pengacara Deden.

Beberapa hari membela sang kakak, Deden, Masitoh pun meninggal dunia.

"Saya sangat sayang sama orangtua. Sebetulnya tidak ada apa-apa. Karena Hamidah menghalang-halangi saya mau ke Bapak. Saya mau ke Bapak, waktu meninggalnya ibu Masitoh, saya langsung ke rumah. Kata Hamidah disuruh ke pengadilan. Itu nantang," ungkap Deden.

Namun, meski minta maaf dan siap sujud, Deden mengaku tidak menyesal sudah menggugat ayahnya Rp 3 M.

"Saya tidak menyesal karena saya lebih sayang kepada orangtua," akui Deden.

Ditegaskan sang pengacara, gugatan yang dilayangkan Deden kepada sang ayah, Koswara ini adalah karena pembelaan diri.

"Bagi kami, ini tidak sesederhana opini orang, ada anak gugat orangtua. Apa yang dilakukan Deden adalah bagian dari membela diri, membela haknya," ucap Musa Darwin Pane, via ponsel dilansir dari TribunJabar.com. (Bangkapos.com/Edy Yusmanto/intisari/grid/tribun jabar/tribunnews.com)

Sumber: bangkapos
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved