Mohammed bin Salman Tak Bisa Mengelak Lagi, Intel AS Punya Bukti Rekaman Pembunuhan Jamal Khashoggi
Direktul Intel AS akan segera merilis bukti rekaman percakapan Mohammed bin Salman terkait dengan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi
BANGKAPOS.COM, WASHINGTON DC, -- Intelejen Amerika Serikat (AS) memiliki beberapa bukti kuat atas keterlibatan Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) membunuh jurnalis Jamal Khashoggi.
Kabar ini disampaikan oleh The Washington Post media tempat Jamal Khashoggi bekerja sebelum dibunuh pada Oktober 2018.
Dalang pembunuhan Jamal Khashoggi disebut oleh media AS itu adalah MBS.
Salah satunya buktinya adalah telepon dari Pangeran MBS kepada saudaranya, Khalid bin Salman duta besar Arab untuk Amerika, yang dipantau oleh intel AS.
BACA JUGA:
--> Putra Mahkota Arab Saudi Terlibat Bunuh Jamal Kashoggi, Dokumen Sangat Rahasia Bocor, Ini Detailnya
Dalam telepon itu, Pangeran MBS menginstruksikan saudaranya untuk memberitahu Khashoggi agar ke Istanbul untuk mengurus dokumen pernikahannya dengan Hatice Cengiz, tunangannya.
Bukti lain adalah rekaman pembunuhan dari dalam konsulat Istanbul yang dibuat oleh intel Turki.
Rekaman itu menjelaskan apa yang terjadi, mengidentifikasi para pembunuh, dan menunjukkan komunikasi antara mereka dengan Riyadh.
Pangeran MBS berulang kali membantah tuduhan itu, yang menyebutnya telah memerintahkan atau mengetahui rencana pembunuhan Jamal Khashoggi, meski beberapa penasihat terdekatnya terbukti terlibat.
Sosok Mohammed bin Salman sangat kuat di "Negeri Petrodollar", dan ia telah memenjarakan sejumlah kritikus serta menyingkirkan faksi yang menjadi saingannya di keluarga kerajaan.
Meski begitu, beberapa pengamat Arab Saudi yakin bahwa pembunuhan Jamal Khashoggi bisa terjadi tanpa sepengetahuan anak Raja Salman tersebut.
Laporan rahasia akan dirilis
Direktur intel Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan merilis laporan yang menunjukkan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS), sebagai dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.
Laporan rahasia itu diyakini mengatakan, berdasarkan laporan intel yang dikumpulkan CIA dan badan mata-mata lainnya, Pangeran MBS merancang pembunuhan Jamal Khashoggi pada Oktober 2018 di Istanbul, Turki.
Kantor berita AFP pada Jumat (26/2/2021) mewartakan, pemerintahan Donald Trump tidak membuka laporan itu atau menuding Pangeran MBS, karena ingin memperkuat hubungan dengan Arab Saudi.
BACA JUGA:
--> Ngotot Tuduh Iran, Israel Ketahuan Bangun Proyek Senjata Nuklir Terbesar, Lokasinya di Bawah Tanah
Deklasifikasi laporan rahasia ini terjadi saat Presiden Joe Biden berupaya mengatur ulang relasi AS di Timur Tengah, dan mengembalikan prinsip-prinsip HAM ke posisi penting dalam kebijakannya.
Biden sempat menelepon Raja Salman ayah Pangeran MBS pada Kamis (25/2/2021), yang diklaim Gedung Putih bukan tentang laporan Khashoggi.
Namun sebelumnya pada Rabu (24/2/2021) presiden ke-46 AS itu berkata sudah membaca laporannya.
Khashoggi adalah jurnalis dan editor senior Arab Saudi yang dihormati. Ia mengasingkan diri dan tinggal di "Negeri Paman Sam", lalu menulis artikel yang mengkritik putra mahkota Arab Saudi di Washington Post.
Hanya satu bulan setelah pembunuhan Jamal Khashoggi, CIA sangat yakin Pangeran Mohammed bin Salman yang memberi perintah, menurut pemberitaan The Washington Post.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ini Potongan 2 Bukti Putra Mahkota Arab Saudi Terlibat Pembunuhan Jamal Khashoggi",
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/pangeran-mohammed-bin-salman-arab-saudi.jpg)