Babel Merawat Kebhinekaan
Tokoh Lintas Agama Mengajak Merajut Perbedaan Budaya dan Beragama di Bangka Belitung
Tokoh lintas agama di Provinsi Bangka Belitung hadir dalam dialog live streaming bersama Bangka Pos, pada Sabtu (3/4/2021) sore.
Penulis: Riki Pratama | Editor: khamelia
BANGKAPOS.COM, BANGKA --Tokoh lintas agama di Provinsi Bangka Belitung hadir dalam dialog live streaming bersama Bangka Pos, pada Sabtu (3/4/2021) sore.
Dialog ini, dilaksanakan bersamaan momentum perayaan Cheng Beng yang puncaknya dilaksanakan pada 4 April 2021.
Dengan nama kegiatan festival Ceng Beng, bertema Bangka Belitung Merawat Kebhinekaan.
Keuskupan Pangkalpinang Romo Hans, hadir sebagai pembicara dalam dialog yang dipimpin langsung oleh host dan juga editor cetak Bangkapos Ismed HS.
Dalam awal dialognya, Romo Hans mengatakan, dirinya melihat Bangka Belitung merupakan daerah yang unik, walaupun dari jumlah penduduk sedikit tetapi beragam etnis, budaya dan agama di dalamnya.
"Saya melihat Babel ini unik, karena dari segi populasi termasuk Provinsi kecil, tetapi tingkat keberagaman dari etnis dan agama. Saya yang juga aktif di forum kerukunan umat beragama, yang sering turun ke kampung-kampung melihat langsung bagaimana kehidupan beragama di Babel," jelas Romo Hans dalam berdialog melalui aplikasi Zoom disiarkan langsung melalui live streaming Facebook Bangka Pos, pada Sabtu (3/4/2021).
Romo Hans, menambahkan, selama ini umat Katolik di Bangka Belitung tidak pernah merasa dihalangi kegiatan beribadah. Kemudian adanya kerja sama antara umat Katolik dalam penyelenggaran beribadah dengan rekan lintas agama lainya dalam upaya menjaga kehidupan beragama.
"Secara alamiah masyarakat sudah terbiasa, seperti ngangung di mana antar katolik dan muslim saya hidup di Babel merasa nyaman, karena paling banyak hari rayanya bisa sampai lima kali, setiap hari raya saya mendapat kiriman makanan juga. Sama halnya, Keuskupan karena pandemi ini saja mengikuti protokol, sebelumnya selalu open house saat 1 Januari, yang datang juga bukan hanya umat Katolik, umat lain juga datang," katanya.
Dengan kebhinekaan yang tinggi di Bangka Belitung, Romo Hans memberikan apresiasi terkait segala hal yang baik sudah dilakukan masyarakat Babel dalam hidup bersama, dari level rendah di masyarakat hingga formal.
"Lalu saya ingin mengajak melek media, ini dalam artian mengerti perkembangan media ikut terlihat dan menajasi filter penyaring, kalau misalnya kita menahan jari saja untuk tidak menyebar hoax menyelamatkan relasi kita,"ujarnya.
Kemudian Romo Hans, juga mengajak, menjaga silaturahmi, komunikasi, tidak perlu saling curiga antar sesama, namun tetap waspada.
"Karena mungkin bukan yang tinggal di Babel merusak, tetapi orang dari luar malah merusak relasi yang sudah baik ini, saya mengajak mereka membanjiri ramai-ramai mengisi ruang publik dengan hal yang positif,"ajaknya.
Terpisah, Ketua NU Bangka Belitung KH. Jafar Siddiq, mengatakan sebelum Negara Indonesia ada, Nahdlatul Ulama telah ada, karena berdiri 31 Januari 1926.
"Mungkin yang lain notabene dahulu berdiri sebelum Indonesia, NU merawat keberagaman, suku, budaya, agama, bahkan keberagaman bahasa itu tetap dirajut oleh NU. Di dalam istilah NU persatuan kemanusian tidak melihat bahwa dia dari agama manapun, suku, selama Indonesia maka kita sudara," kata KH.Jafar Siddiq.
Kemudian berkaitan dengan peristiwa bom di Makasar menurutnya itu bukan jihad itu salah, dan NU mengutuk keras kejadian tersebut dapat terjadi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ohgfhfghf.jpg)