Petani Ini Simpan Puluhan Ton Lada di Rumah, Belum Mau Jual Meski Harga Naik, Ini Alasannya
Harga lada saat ini di tingkap pedagang pengepul berada antara Rp85 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram.
Penulis: Disa Aryandi |
BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Petani lada menyambut positif kenaikan harga lada yang mencapai dua kali lipat dari harga beberapa waktu lalu.
Harga lada saat ini di tingkap pedagang pengepul berada antara Rp85 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram. Sebelumnya harga lada sempat terpuruk di kisaran Rp45 ribu per kilogram.
Namun rata-rata petani lada di Belitung belum ingin menjual jual hasil panen mereka dan menunggu harga melambung tinggi seperti tahun 2015 lalu.
Satu di antara petani mempertahankan lada, dan belum menjual hasil panen, Satiman (68).
Lelaki biasa disapa Kakek ini, memiliki perkebunan lada seluas 4 hektar di Jalan tembus Buluh Tumbang, Desa Buluh Tumbang, Tanjungpandan, Belitung.
Hasil produksi lada di perkebunan ini, sudah puluhan ton. Kali pertama panen pada tahun 2018 lalu, hingga sekarang tidak pernah dijual. Mulai menanam pohon lada tersebut pada tahun 2015 lalu.
"Sudah empat kali panen tidak pernah dijual, karena harganya turun. Iya harga lada sudah mulai naik lagi ini, tapi kami belum jual, karena kemungkinan akan naik lagi," kata Kakek, Senin (5/4/2021) kepada posbelitung.co, senin (5/4/2021).
Sekarang, pohon lada terlihat kokoh di area perkebunan ini hanya sekitar 5.000 pohon dari angka 10.000 pohon sebelum nya sempat ditanam. Pohon lain sudah mati, lantaran terserang hama penyakit.
"Ya sekarang hanya panen buah penyelang saja istilahnya, tapi setiap hari masih dapat 10 ambong. Ini belum semua dipanen," ujarnya.
Selain harga mengalami penurunan sejak beberapa tahun belakang, produksi pada pohon lada ini mengalami penurunan. Pada tahun 2018 lalu, Kakek sempat memanen hingga 8 ton.
"Tahun kemarin (2020) hanya dua ton saja. Ya ini karena dampak tadi, terserang hama penyakit. Kalau menanam ini tidak begitu sulit, pelihara nya yang sulit," jelasnya.
Ia berharap, kepada Pemerintah Pusat agar memikirkan harga lada tersebut, sehingga tidak terjadi penurunan. Apabila terjadi penurunan, dampak pertanian akan sangat terasa.
"Kami mohon kepada menteri perdagangan, agar harganya mengalami kenaikan, karena kalau harganya kecil kita tidak makan, hanya cukup untuk beli pupuk saja," bebernya.
Terus Naik Hingga Tahun 2022
Kkenaikan harga lada ini diprediksi akan terus terjadi hingga tahun 2022 mendatang. Sala satu faktor kenaikan harga laga adalah produksi di pertanian menurun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/petani-lada-sumarlan-sedang-mengetik-lada-di-kebunnya.jpg)