Kabar Gembira, Harga Timah Terus Beranjak Naik dan Kini Capai Rekor Tertinggi, Ini Penyebabnya
Di bursa timah ICDX, harga timah berhasil menyentuh rekor tertingginya sampai saat ini, yaitu US$ 32,400 per metrik ton
Penulis: Iwan Satriawan CC | Editor: Iwan Satriawan
Faisal bilang para oknum tersebut terlibat dengan menjadi pemilik tambang secara langsung maupun tidak langsung.
Menurutnya, banyak pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang tidak memenuhi syarat, sehingga hanya menjadi penadah hasil tambang ilegal.
Dia menekankan, maraknya penambangan dan ekspor ilegal tersebut membuat pelaku usaha timah legal kalah saing.
"Mereka (oknum-oknum aparat/pejabat) seperti raja di sana. Banyak pemegang IUP tidak memenuhi syarat. karena tujuannya hanya mau jadi penadah hasil tambang ilegal yang harganya lebih murah dibandingkan tambang legal," kata Faisal.
Senada, Praktisi pertambangan timah Indonesia, Teddy Marbinanda menyampaikan bahwa keterlibatan oknum aparat di pertambangan timah ilegal membuat pelaku industri yang patuh secara legal menjadi tidak berdaya.
Kata Teddy, pengabaian atas kekacauan tata kelola timah akan merugikan negara.
Sebab, negara kehilangan sumber daya tanpa mendapat penghasilan yang memadai.
"Hingga 90% lokasi penambangan ilegal ada di IUP PT Timah.
Sebagian besar hasil penambangan ilegal dijual ke pihak lain dengan harga murah. Tidak adil bagi PT Timah dan negara," terangnya.
Dari sisi ekspor, sejumlah negara tetangga tercatat masih mengimpor pasir timah dari Indonesia. Padahal, ekspor pasir timah sudah dilarang.
Bahkan, Singapura yang tidak punya tambang timah bisa mengekspor balok timah.
Menurut Faisal, kondisi itu terjadi karena lemahnya penegakan aturan meski aturannya sudah lengkap.
Selain itu, pemerintah juga tampak tidak begitu serius memperhatikan komoditas timah.
"Saya hampir tidak pernah melihat Menteri ESDM, Pak Luhut (Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi) membahas timah. Kalau nikel, bauksit sering," sebut dia.
Singapura Tujuan Utama
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Negara Singapura masih menjadi negara tujuan utama atau terbesar ekspor timah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hingga Desember 2020 kemarin.
Sekitar 16,44 persen ekspor timah pada Januari-Desember 2020 dikirim ke Negeri Singa Putih ini.
Koordinator Fungsi Statistik Distribusi BPS Provinsi Bangka Belitung, Taufik S.Si, M.A.P., membeberkan ekspor timah ke Singapura ini dengan total 161.582.251 US dolar.
"Singapura tujuan ekspor terbesar, seperti kita ketahui bahwa negara singapura dimana ekonominya digerakan dari perdagangan, diduga singapura setelah impor dari Indonesia mereka jual lagi," ujar Taufik, Rabu (17/2/2021).
Jika dibanding bulan Januari-Desember 2019, ekspor timah ke Singapura pada tahun ini turun sekitar 69,67 persen.
Sementara itu, negara India, Tiongkok, Korea Selatan, dan Amerika Serikat berada dalam lima negara tujuan utama ekspor timah pada Januari-Desember 2020.
Peran keempat negara berkisar antara 10,68 persen hingga 14,99 persen. Maka, lima negara utama tujuan ekspor timah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berperan sebesar 68,82 persen.
"Total nilai ekspor timah Babel tahun 2020 sebesar 982.752.991 US dolar," sebut Taufik.
Nilai ekspor komoditas timah naik 10,08 persen, dan nontimah naik 48,09 persen.
Oleh karena itu, jumlah nilai ekspor pada bulan Desember tahun ini sebesar 138,9 juta US dolar (bulan sama tahun sebelumnya 118,7 juta US dolar).
Dibanding bulan sebelumnya, nilai ekspor Desember 2020 naik 74,79 persen.
Peningkatan nilai ekspor didorong oleh naiknya ekspor timah sebesar 49,40 persen dan nontimah sebesar 300,92 persen.
Selama Januari-Desember 2020, peran timah dan nontimah masing-masing sebesar 82,66 persen dan 17,34 persen.
Badan Pusat Statistik tidak bisa memperkirakan peluang ada atau tidak kenaikan ekspor timah pada tahun 2021 ini.(kontan/kompas.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/balok-timah.jpg)