Horizzon

Praktik Konyol Antigen Bekas

Satu di antara pertanyaan yang cukup mengganjal adalah apakah hanya stiknya saja yang didaur ulang atau berikut dengan test pack-nya?

Editor: suhendri
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP 

PRAKTIK penggunaan stik bekas untuk swab test antigen di Bandara Kualanamu masih menyisakan banyak pertanyaan. Satu di antara pertanyaan yang cukup mengganjal adalah apakah hanya stiknya saja yang didaur ulang atau berikut dengan test pack-nya?

Berhari-hari mengikuti pemberitaan soal antigen bekas pakai ini, pertanyaan tersebut tak juga memperoleh jawaban.

Hampir semua media yang memberitakan kasus tersebut hanya berhenti pada bagaimana sindikasi tersebut melakukan daur ulang pada stik yang sudah digunakan, kemudian dicuci dengan alkohol untuk dipakai kembali melayani permintaan tes antigen di Bandara Kualanamu.

Beberapa kawan jurnalis di Medan yang ditanya detail soal kasus ini juga terbatas pemahamannya terkait kasus ini. Mereka semua menunggu hasil penyelidikan dari pihak kepolisian yang kini tengah menangani kasus ini.

Keterbatasan akses tersebut kemudian membuat kawan-kawan jurnalis di Medan justru lebih fokus pada apa keuntungan yang diperoleh sang inisiator yang sekaligus Business Manager Laboratorium Kimia Farma yang konon bisa meraup hasil hingga Rp30 juta setiap harinya hingga membangun rumah mewah.

Pertanyaan lain tiba-tiba juga muncul dari kasus di Kualanamu ini. Pertanyaan itu adalah kenapa polisi tergesa-gesa mengekspose kasus ini dan tidak mencoba silence dan mencoba mengembangkan dugaan bahwa praktik serupa juga terjadi di tempat lain.

Sejauh ini, PT Kimia Farma adalah BUMN yang membuka layanan jasa tes antigen di hampir seluruh bandara di Indonesia. Namun, cara penanganan di Kualanamu ini, hampir pasti pertanyaan apakah praktik serupa juga terjadi di bandara lain menjadi sulit terjawab.

Tunggu dulu, jangan dulu pikiran kita dikembangkan untuk memelihara kecurigaan berlebih. Status PT Kimia Farma sebagai perusahaan farmasi pertama di Indonesia yang pasti bisa memproduksi stick untuk rapid antigen mematahkan dugaan tersebut.

Artinya jika memang apa yang terjadi di Kualanamu adalah kebijakan korporasi, maka tidak perlu melakukan daur ulang. PT Kimia Farma dengan sangat mudah membuat stik serupa dan praktik abal-abal rapid antigen tak perlu harus dilabeli menggunakan barang bekas.

Kita kembali ke modus di Kualanamu yang belum tuntas. Secara sederhana, kita bisa berandai-andai bagaimana modus praktik penggunaan antigen bekas ini berlangsung.

Skenario pertama adalah stick bekas yang sudah dibersihkan digunakan untuk melayani calon penumpang. Setelah dicolok ke hidung, sampel cairan di ujung stick ini tidak diujikan ke test pack namun langsung keluar surat keterangan hasilnya. Skenario ini bisa saja terjadi karena memang sejauh ini tidak ada keterangan bagaimana dengan test pack-nya.

Namun informasi yang beredar, kecurigaan polisi ini justru bermula ketika banyak hasil negatif dari calon penumpang, termasuk petugas kepolisian yang menyamar dan akhirnya mengungkap kasus ini.

Pada skenario kedua ini, prinsipnya sama, yaitu hanya mengambil sampel namun tidak diujikan ke test pack. Hasil positif abal-abal ini diberitahukan ke calon penumpang dan meminta kembali melakukan tes antigen dengan membayar kembali. Sejumlah skenario ini tak lebih dari dugaan sambil menunggu polisi melakukan penyelidikan dan merilisnya ke publik.

Yang juga tak kalah menariknya dari kasus ini adalah kita mencoba memahami apa yang dilakukan oleh lima oknum PT Kimia Farma Medan yang punya ide konyol sekaligus menjalankan kekonyolan ini.

Business Manager Laboratorium Kimia Farma dan jajarannya yang melakukan praktik konyol ini adalah orang-orang farmasi yang tentunya paham dengan pandemi yang tengah berlangsung.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved