Breaking News:

Tribunners

Buruh dan Oase THR Musim Pandemi

Setiap Ramadan menjelang Lebaran target jangka pendek buruh adalah mendapatkan hak tunjangan hari raya (THR)

Buruh dan Oase THR Musim Pandemi
ISTIMEWA
Ribut Lupiyanto - Deputi Direktur Center for Public Capacity Acceleration (C-PubliCA)

Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) merevisi peraturan mengenai THR tersebut pada tahun 2016. Revisi tertuang dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) No. 6/2016.

Peraturan terbaru menyebutkan bahwa pekerja yang memiliki masa kerja minimal satu bulan sudah berhak mendapatkan THR. Selain itu, kewajiban pengusaha untuk memberi THR tidak hanya diperuntukkan bagi karyawan tetap, melainkan juga untuk pegawai kontrak, termasuk yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT) maupun perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT).
Petikan hikmah

Pemberian THR tentu memberikan kemanfaatan dan hikmah dari berbagai aspek. Hikmah ini penting sebagai refleksi agar THR mendapat nilai keberkahan dari Tuhan Yang Maha Kuasa serta mendapatkan manfaat yang nyata dan berkelanjutan.

Pertama, adalah hikmah spiritual. THR diberikan menjelang Lebaran atau perayaan Idulfitri. Pemberian THR tentu sangat berarti bagi kaum muslim guna menyempurnakan persiapan merayakan kemenangan.

THR dapat digunakan penerima untuk kembali disedekahkan, membayar zakat, belanja kebutuhan, mudik, dan lainnya. Semua ini menjadi pelengkap ibadah Ramadan dan menyongsong kemenangan Idulfitri. Tetapi penting diterapkan kepada penerima yang muslim jangan sampai efek pemberian THR adalah kontra produktif atau merusak ibadah. Misalnya digunakan berfoya-foya, melalaikan ibadah, dan lainnya.

Kedua, adalah hikmah sosial. Pemberian THR dapat menguatkan ikatan sosial di dunia kerja. Antara atasan dan bawahan akan terikat lebih kuat pascapemberian THR. Meskipun ini sudah menjadi kewajiban perusahaan atau lembaga, namun penerima umumnya tetap memberikan apresiasi personal terhadap atasannya. Apalagi jika THR yang diberikan melebihi rata-rata yang seharusnya diberikan.

Hal yang patut dihindari adalah jangan sampai pemberian THR ini menimbulkan kecemburuan sosial. Kecemburuan akan muncul dari pihak-pihak yang tidak mendapatkan THR. Penerima THR penting untuk tidak secara mencolok dalam belanja dan terus memiliki kewaspadaan adanya potensi kriminalitas, seperti pencurian, perampokan, dan sejenisnya.

Ketiga, hikmah ekonomi. Perputaran ekonomi akan terjadi pascapemberian THR. Aktivitas belanja penerima THR di pasar atau lokasi lain akan turut membantu roda perekonomian, khususnya bagi pedagang kecil atau usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Jika perputaran ini terus membentuk siklus, maka tidak mustahil akan turut memperbaiki roda perekonomian daerah hingga nasional. Untuk itu, patut diimbau agar penerima THR membelanjakan secara proporsional dan memilih pasar tradisional, pelaku UMKM, dan produk-produk dalam negeri.

Hikmah positif tentu harus dipetik, sedangkan hikmah negatif mesti dihindari dan diantisipasi. Bagaimanapun, THR di era kini sudah menjadi hak pekerja, bukan karena sikap dermawan atasan atau pemimpin. (*)

Editor: suhendri
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved