Breaking News:

Tribunners

Sektor Informal Alternatif Keberlangsungan Ekonomi di Kala Pandemi

Dampak pandemi mengakibatkan adanya perubahan status pekerja yang cukup signifikan dibandingkan kondisi Februari 2020

Editor: suhendri
Sektor Informal Alternatif Keberlangsungan Ekonomi di Kala Pandemi
ISTIMEWA
Sri Hapsari M.H., M.Stat - Fungsional Statistisi BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

TIDAK dapat dihindari bahwa pandemi Covid-19 berdampak terhadap sektor usaha. Untuk menjaga kelangsungan usahanya, sebagian pengusaha melakukan pengurangan jam kerja bahkan memberhentikan pegawai/karyawannya, sebagian lagi menutup usahanya karena pendapatannya jauh berkurang.

Hingga Februari 2021, kondisi ketenagakerjaan masih merasakan dampaknya. BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merilis data dari 1.113.116 penduduk usia kerja, 6,33 persennya terdampak pandemi Covid-19. Sebesar 0,37 persen menjadi pengangguran, 4,97 persen mengalami pengurangan jam kerja, 0,79 persen sementara tidak bekerja, dan sisanya tidak masuk lagi sebagai angkatan kerja.

Kebutuhan hidup yang tidak mengenal kondisi pandemi, menuntut pekerja untuk beradaptasi secara cepat. Dengan terbatasnya lapangan pekerjaan pada sektor formal, fenomena yang muncul yaitu terdapat peningkatan jumlah pekerja di sektor informal.

Dari data Survei Tenaga Kerja Nasional (Sakernas) bulan Februari 2020 pekerja informal sebesar 48,71 persen, di bulan Agustus 2020 meningkat menjadi 52,93 persen. Sampai dengan Februari 2021 pekerja sektor informal masih lebih tinggi dibanding pekerja formal yaitu 50,73 persen.

Salah satu proksi penentuan kegiatan sektor formal dan informal adalah berdasarkan status pekerjaan utama. Termasuk kategori sektor informal yaitu pekerja dengan status berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap/tidak dibayar, pekerja bebas, dan pekerja keluarga.

Dampak pandemi mengakibatkan adanya perubahan status pekerja yang cukup signifikan dibandingkan kondisi Februari 2020. Pada Februari 2021 peningkatan jumlah pekerja informal lebih banyak didorong oleh pertumbuhan pekerja dengan status pekerja bebas yang naik 2,29 poin persen, diikuti berusaha dibantu buruh tidak tetap/tidak dibayar naik 0,53 poin persen, dan pekerja keluarga naik 0,26 poin persen.

Melihat data di atas, mengindikasikan bahwa pandemi menyebabkan masyarakat kehilangan mata pencarian. Namun sebagian lagi masih tetap bertahan dengan beralih ke sektor informal.

Dibanding sektor formal, kontribusi ekonomi sektor informal masih rendah, tetapi mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak. Daya serap sektor informal dengan berbagai kelemahan dalam menampung sumber daya manusia mampu menjadi penyelamat untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan.

Seperti diketahui bahwa penyerapan tenaga kerja pada sektor informal masih kurang berkualitas dilihat dari sisi pendidikan, akses pembiayaan, maupun jaminan sosial bagi pekerjanya. Tenaga kerja sektor informal di Bangka Belitung tergolong masih rendah. Data BPS (Sakernas, 2020), mencatat hampir 75 persen pekerja di sektor informal pendidikannya adalah SMP ke bawah.

Dengan pendidikan yang rendah menyebabkan kurangnya penguasaan teknologi, kurangnya keterampilan, dan rentan mengalami kesulitan finansial. Dampaknya adalah produktivitas rendah sehingga pendapatan yang diterimanya pun rendah.

Halaman
12
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved