Konyol, Pemimpin Klan Samurai Jepang Tewas Hanya Gegara Kentut, Ini Kisahnya
Tapi, seperti kentut yang meninggalkan bau tahan lama bahkan setelah suaranya tak terdengar lagi, kebencian Mangoro pada cara Kunitane
"Mengapa menodai perayaan Tahun Baru dengan pertumpahan darah? Mengapa penguasa klan harus begitu peduli dengan tindakan tidak penting dari bawahannya?" ujar bawahannya
Tapi tetap saja, kemarahan Kunitane terlalu besar untuk segera mereda.
Tak jadi digorok, Mangoro pun dikirim untuk tinggal bersama salah satu pengikutnya selama jangka waktu tertentu.
Setelah itu, Kunitane pun memaafkan Mangoro, yang akhirnya kembali ke Istana Sakura dan sekali lagi mengambil tugas melayani tuannya.
Tapi, seperti kentut yang meninggalkan bau tahan lama bahkan setelah suaranya tak terdengar lagi, kebencian Mangoro pada cara Kunitane memperlakukannya di masa lampau pun tetap ada.
Pada suatu malam, Mangoro menyelinap ke kamar pribadi Kunitane, yang saat itu sedang tidur, dan menikamnya dengan belati dua kali--sesuai dengan jumlah kentut yang membuatnya hampir tewas di malam tahun baru.
Teriakan kesakitan Kunitane menarik perhatian para penjaga kastil.
Sementara itu Mangoro berhasil melarikan diri ke desa terdekat, hingga akhirnya dikepung di hutan, lalu tewas entah karena bunuh diri atau dieksekusi anak buah Kunitane.
Sementara itu, Kunitane berhasil bertahan hidup selama enam hari, tapi akhirnya menyerah pada luka-lukanya dan meninggal pada usia 28 tahun.
Ini adalah tragedi yang aneh dan mengejutkan. Dua nyawa hilang akibat dua kentut.
Tapi untungnya, periode Sengoku yang penuh kekerasan sudah berakhir, mengantarkan pada babak yang lebih damai dalam sejarah Jepang.(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tragedi Konyol Pemimpin Klan Samurai Jepang Tewas Hanya karena Kentut",
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/salah-satu-adegan-dalam-film-the-last-samurai_20161111_234034.jpg)