Horizzon
Rawat dan Obati Mereka, Jangan Dibiarkan Mati
Jika kaitan dengan komorbid itu selalu ada, kenapa kita tidak kembali ke situasi normal dengan lebih fokus pada komorbid-nya saja
Namun kita juga harus jujur, data-data penting dibalik kasus-kasus kematian itu selalu kita abaikan. Yaitu data tentang penyakit bawaan atau penyakit utama dari setiap kasus kematian. Saat kita klaim bahwa matinya terkait covid-19, kita sudah merasa puas dan tak lagi bertanya penyebab utama kematiannya.
Sedangkan di pemahaman kita yang lain, kita tahu persis sebuah kenyataan bahwa banyak orang tetap baik-baik saja saat terpapar covid-19. Sebagian besar hanya mengalami gejala ringan dan bahkan lebih banyak lagi yang tidak sedikitpun memunculkan gejala.
bukankah dua kenyataan tersebut adalah sesuatu yang aneh? Coba kita berpikir ulang, satu virus yang sama tapi memunculkan akibat yang berbeda dan bahkan sangat bertolak belakang. Satu virus yang sama dituduh menjadi penyebab kematian pada sebagian kecil kasus, sementara virus yang sama juga bagi propabilitas yang lebih dominan tak menimbulkan gejala apapun.
Saat memahami hal ini, apakah kita masih layak meyakini bahwa kematian-kematian yang ada memang diakibatkan oleh faktor virus sebagai faktor penyebab utama? Pertanyaan ini tentunya hanya bisa dijawab oleh kalangan medis.
Saat virusnya sama, kenapa kita tidak mencoba untuk mencoba beralih dan lebih fokus kepada kormobidnya? Ini rasional, karena saat terpapar virus yang sama, maka yang menjadi pembeda adalah kormobid.
Lebih sederhana, jika memang kematian-kematian yang saat ini makin sering kita dengar ini selalu ada kaitanya dengan komorbid, kenapa kita tidak fokus pada kormobid yang jelas-jelas menjadi pembeda? Bahkan kita juga tahu bahwa dari data yang ada, jantung, diabetes dan hypertensi adalah tiga kormobid paling mematikan.
Dari pemahaman itu, bolehkah sedikit usul agar dalam protokol penanganan orang-orang yang sakit dengan keluhan jantung, diabetes dan hypertensi ini memperoleh prioritas penanganan. Baik mereka kena covid-19 atau tidak, maka mereka butuh untuk memeroleh pertolongan yang segera.
Jangan sampai, saat-saat mereka benar-benar membutuhkan penanganan, maka mereka tidak memeroleh secara layak. Layanan terhadap mereka harus tertunda, tidak maksimal hanya gara-gara protokol kesehatan terkait status mereka terpapar covid-19.
Bukankah kita tahu betul, terpapar covid-19 atau tidak, pasien dengan gejala berat pada jantung, hypertensi atau diabetes sangat rentan berakhir dengan kematian? Saat mereka kita biarkan berjuang sendiri dengan jantung atau gejala hyepertensi atau diabetes, tanpa pertolongan, maka sesunggunnya kita telah membunuh atau membiarkan mereka terbunuh.
Selanjutnya, saat mereka ini benar-benar mati, maka covid-19 akan menjadi kambing hitam untuk menjelaskan alasan kematiannya.
Bolehkah kita diskusi soal itu? Tentu saja boleh, meski semua harus dikembalikan kepada kalangan medis yang memiliki kapasitas keilmuan untuk menajwabnya. Yang tidak boleh adalah ketika kita diskusi soal kematiannya. sebab jika sudah sampai pada kematian, maka kita tak bisa lagi diskusi, karena urusan kematian mutlak menjadi kewenangan Allah SWT. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)