Human Interest Story
Kisah Gadis Bangka 16 Kali Gagal Daftar di Perguruan Tinggi, Kini Sandang Pangkat Letnan Dua
Manusia berencana tetapi Allah SWT yang menentukan. Begitulah kurang lebih ungkapan yang tepat mengambarkan kisah perjuangan Septi Dwi Atikah.
Penulis: Cici Nasya Nita |
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Manusia berencana tetapi Allah SWT yang menentukan. Begitulah kurang lebih ungkapan yang tepat mengambarkan kisah perjuangan Septi Dwi Atikah.
Gadis asli Bangka Belitung (Babel) ini pernah terpuruk. Pasalnya dua tahun, usai lulus sekolah menengah atas (SMA), dirinya harus menerima berbagai cemoohan.
Lantaran pada umumnya, remaja seusia Septi harusnya sedang dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi atau bekerja, namun Septi harus menunda dulu.
Tak hanya hujatan, pandangan sebelah mata kerap kali diterimanya, apalagi dia sudah 16 kali gagal saat mendaftar diri untuk melanjutkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Cita-citanya saat itu sangat mulia, ingin menjadi dokter, namun apa daya belum kesampaian.
"Dua tahun saya seperti orang tidak jelas, sedih sekali. Setiap hari saya menulis di buku diary rasa sakit hati dihujat. Saya dipandang sebelah mata karena dalam dua tahun itu gagal ikut STIS 3 kali, ISI Jogja 2 kali, UGM 5 kali, UNY 1 kali, UIN Jogja 2 kali, UPN Jogja 2 kali dan Akpol daerah 1 kali," katanya, Minggu (8/8/2021), saat mengenang kisah masa menyedihkan waktu itu.
Tak elak, dukungan keluarga lah yang menjadi penguat putri pasangan Sunaryo dan Rosidah ini untuk tetap terus berjuang membayar rasa kekecewaannya.
Buah kesabaran dan kerja keras, hantarkan Septi menjadi satu-satunya calon taruni asal Bangka Belitung saat itu, yang lulus ke tahap pusat pada saat seleksi Akademi Angkatan Laut Tahun 2017 lewat jalur prawerving daerah.
"Berbagai tahapan seleksi dilewati, mulai dari administrasi, kesehatan, psikologi dan lainnya. Tahun 2016-2017 saya sudah mulai mempersiapkan diri, Alhamdulillah Allah SWT antarkan saya pada tempat ini," kata Septi.
Awalnya, anak guru sekolah menengah atas ini tak pernah percaya diri untuk menjadi Taruni, karena matanya minus sehingga sudah membuat ciut duluan.
"Mata kanan saya minus 2 dan kiri 1,75 jadi tidak percaya diri daftar taruni, kalau jadi dokter kan masih bisa waktu itu saya mikirnya begitu. Kemudian saya berobat dan melakukan terapi agar bisa lulus seleksi kesehatan tersebut," kata Septi.
Untuk masalah fisik, diakuinya dari duduk di bangku sekolah memang tergolong kuat dibandingkan teman lainnya
"Memang dari dulu kalau masalah fisik (jasmani) memang paling kuat dibanding kawan di sekolah. Jadi tinggal rutin latihan dan persiapan psikologi serta akademik," kata Septi.
Kini Septi sudah menyelesaikan pendidikan di AAL selama empat tahun lamanya dengan pengalaman yang luar biasa baginya.
"Alhamdulillah bahagia tentunya, bisa membanggakan orang tua, dan sudah bisa mengurangi beban keuangan orangtua juga. Jadi terlambat bukan berarti gagal tetapi Allah menggalkan rencana kita untuk menyiapkan ganti yang terbaik," kata Septi. (Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20210808-anggota-tni-al-asal-bangka-belitungsepti-dwi-atikah-strhan.jpg)