Bangka Pos Hari Ini

Inovasi Mahasiswi Asal Kampit Buat Camilan Sehat Berbahan Tepung Sukun

Dibimbing oleh Dosen Departemen Pariwisata UPI Bandung, Dias Pratami Putri, kelima mahasiswa ini mulai mengembangkan altilis cookies

Editor: Fitri Wahyuni
Ist/Dok Dias Pratami
Tim mahasiswa UPI yang mengembangkan Altilis Cookies. Tampak Junita Al Fora, mahasiswi asal Kampit, Belitung Timur mengenakan almamater abu-abu (paling kanan). 

BANGKAPOS.COM - Mahasiswi asal Kampit, Belitung Timur Junita Al Fora (21) bersama rekan setimnya Haura Annisa Salsabila, Kiyoko Kylanisa, Marsindi, dan Muhammad Fariz menciptakan sebuah inovasi cookies untuk anak autis berbahan dasar tepung sukun. Cookies tersebut diberi nama Altilis Cookies.

Inovasi cookies untuk anak berkebutuhan khusus ini mengusung tema satwa endemik Indonesia dengan menampilkan bentuk komodo, bekantan, beruang madu, rusa sambar, harimau Sumatera, badak Jawa, burung kasuari, pesut Mahakam, gajah Sumatera, dan kura‑kura leher ular rote.

"Sekaligus sebagai media pengenalan bagi anak‑anak autis, bahwa ada nih hewan‑hewan endemik yang terancam punah," kata Junita kepada Pos Belitung, Sabtu (7/8/2021).

Baca juga: Pemkab Bangka Buka Lagi Vaksinasi Dosis Pertama, Antusias Warga Sangat Tinggi Ikut Vaksin Covid-19

Menurutnya, ide pembuatan camilan ini tercetus oleh rekan timnya saat melihat banyak pohon sukun di kampus. Sayangnya, buah‑buah sukun hanya berjatuhan dan membusuk begitu saja.

Lalu muncullah ide agar memanfaatkan buah sukun itu menjadi camilan yang sehat.

Dibimbing oleh Dosen Departemen Pariwisata UPI Bandung, Dias Pratami Putri, kelima mahasiswa ini mulai mengembangkan cookies tersebut. Cookies atau biskuit berbahan dasar tepung sukun ini baik dikonsumsi bagi anak‑anak autis untuk diet gluten free casein free (GFCF).

"Diet makanan bebas gluten dan kasein ini dapat mempengaruhi perkembangan tingkah laku. Anak‑anak autis ini harus mengurangi konsumsi yang manis karena mengubah tingkah laku seperti tantrum. Makanya diberikan terapi diet seperti ini," ujar mahasiswi program studi pendidikan kebutuhan khusus tersebut.

Memiliki kandungan gizi yang baik, menurutnya biskuit ini juga bisa dikonsumsi siapa saja. Terutama bagi mereka yang sedang menjalani program diet.

Baca juga: Daftar 15 Link Twibbon Tahun Baru Islam 1 Muharram 1443 Hijriyah, Lengkap dengan Sejarahnya

Altilis Cookies yang dibuat saat ini hanya memiliki rasa original. Sebelumnya, tim pernah menguji coba penambahan rasa rempah agar biskuit yang dibuat memiliki rasa yang lebih Indonesia.

Namun karena cita rasa yang tak sesuai, ide tersebut urung dilanjutkan.

Junita menjelaskan, ia dan rekan tim mengembangkan Altilis Cookies ini juga sebagai program kreativitas mahasiswa (PKM). Pada Maret 2021 lalu, mereka membuat proposal program yang diajukan ke fakultas untuk diseleksi oleh reviewer.

Selanjutnya hasil review tersebut diseleksi, lalu diajukan ke  Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

"Kemudian dipilih PKM yang punya daya saing tinggi, apalagi kami PKMK (program kreativitas mahasiswa kewirausahaan) yang dapat memberikan sumbangsih terhadap masyarakat," tambahnya.

Setelah ini, akan ada penilaian lagi agar tim tersebut bisa masuk dalam pekan ilmiah mahasiswa nasional (PIMNAS).

Baca juga: Daerah PPKM Level 4 Perpanjangan Terbaru hingga 16 dan 23 Agustus 2021, Simak Daftar Lengkapnya

Sementara itu, Dosen Departemen Pariwisata UPI Bandung Dias Pratami Putri mengatakan penyandang autisme saat ini dirasa jarang mendapat perhatian.

Terlihat dari bagaimana penyediaan makanan yang bebas gluten dan kasein sangat jarang ditemukan.

Padahal penderita autis sangat bergantung terhadap diet bebas gluten dan casein tersebut.

"Jadi lewat Altilis Cookies ini diharapkan dapat dijadikan wadah atau media penyaluran rasa kepedulian terhadap penderita autis dan juga hewan‑hewan endemik yang terancam punah," katanya. (del)

Sumber: bangkapos
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved