horizzon

Apa Kabar GeNose?

GeNose menjadi satu-satunya alat deteksi virus yang paling cepat hingga saat ini

BangkaPos
IBNU TAUFIK Jr / Pimred BANGKA POS GRUP 

LAHIR di negeri sendiri dan dibidani oleh putra-putri terbaik bangsa ini, GeNose benar-benar tak punya tempat di tanah kelahirannya, Indonesia.

Hadir sebagai karya anak bangsa yang seharusnya mengharumkan nama pertiwi, GeNose yang dibidani oleh pakar-pakar UGM tenggelam begitu saja, entah karena alasan apa. Kehadiran GeNose justru tergusur oleh antigen dan juga PCR buatan luar negeri.

Dikembangkan sejak awal pandemi Covid-19, alat deteksi virus berbasis kecerdasan buatan untuk menganalisa Volatile Organic Compound (VOC) atau pola embusan napas ini diperkenalkan pada Oktober 2020.

Baca juga: Syarat Naik Pesawat ke Bangka Belitung, Berlaku Mulai 7 September 2021

Dari hasil riset panjang yang dilakukan UGM bersama sejumlah pihak, GeNose diklaim sebagai alat deteksi virus corona yang cepat, praktis, akurat dan juga murah.

GeNose menjadi satu-satunya alat deteksi virus yang paling cepat hingga saat ini, lantaran hanya butuh waktu 80 detik, kecerdasan buatan yang dimiliki bisa mendeteksi apakah seseorang terpapar virus Covid-19 atau tidak.

Alat ini juga sangat praktis sekaligus mudah digunakan, sebab untuk mendeteksi keberadaan virus Covid-19 cukup dengan meniupkan napas ke dalam kantong plastik yang kemudian dianalisa oleh komputer yang sudah diberikan software khusus yang berisi kecerdasan buatan.

Baca juga: Menunggu Nasib GeNose C-19 yang Belum Kantongi Lisensi WHO

Hasil penelitan pakar dari UGM ini juga mengesankan, karena dari hasil uji coba yang dilakukan, tingkat akurasinya cukup mengesankan. GeNose diklaim memiliki tingkat akurasi antara 93 persen hingga 94 persen, jauh dibanding tes antibodi yang ada sebelumnya.

Dan terakhir, karya anak bangsa ini juga sangat murah. Saat dikenalkan pertama kali, UGM mengklaim bahwa untuk melakukan pengetesan Covid-19, cukup dengan biaya Rp400 alias 400 perak.

Memang, GeNose pernah ‘ingkar janji’ soal tarif ini. Diklaim bisa digunakan hanya dengan biaya Rp400saat diperkenalkan, tarif GeNose naik 100 kali lipat menjadi hingga Rp40 ribu saat alat tersebut mulai diproduksi massal.

Baca juga: Giliran GeNose yang Ingkar Janji

Memang kita mencium ada peran uang dari Filiphina saat proyek pengembangan GeNose ini diproduksi massal. Tapi apapun itu, GeNose adalah alat tes Covid-19 produksi anak negeri yang kita tahu, saat ini sama sekali tak punya tempat di tanah kelahirannya sendiri.

Saat kebijakan PPKM pertama kali diluncurkan, muncul kabar miring bahwa GeNose sempat dilarang digunakan. Isu tersebut sempat ditepis oleh Juru Bicara Tim GeNose, Dr M Saifudin Hakim.

Saifuddin Hakim menegaskan bahwa GeNose memang tidak menjadi rekomendasi dalam regulasi syarat perjalanan dalam kebijakan PPKM, namun demikian, izin edar GeNose masih ada dan belum dicabut.

Pihak GeNoses justru berdalih, tidak dimasukkannya GeNose dalam rekomendasi syarat perjalanan di era PPKM justru menjadi kesempatan bagi tim untuk mengembangkan GeNose.

Lantaran GeNose ini mendeteksi virus dari kecerdasan buatan, maka munculnya varian baru Covid-19 ini sangat mudah bagi GeNose untuk menyesuaikan. Pihak GeNose mengklaim tengah menyesuaikan kecerdasan buatan yang ada di software GeNose untuk varian baru. Selain itu, GeNose juga diklaim sangat mungkin digunakan untuk pengujian lain pascapandemi. Semua tinggal menyesuaikan dengan ekcerdasan buatan yang visible dikembangkan di Softwarenya.

Baca juga: Mengeja Tahun Pagebluk 2020

Hilangnya eksistensi GeNose ini tak lepas dari pemberitaan di media terkait dengan banyaknya missing hasil pengetesan dari GeNose terhadap pelaku perjalanan. Bahkan di awal merebaknyak kasus Covid-19, GeNose sempat dijadikan kambing hitam.
Waktu itu, meningkatnya kasus Covid-19 diklaim lantaran GeNose tak mampu melakukan screnning terhadap pelaku perjalanan dengan ketat. GeNose dituding sebagai penyebab meledaknya kasus Covid-19 di sekitar Mei-Juni 2021 lalu.

Perlakuan tidak adil bangsa ini terhadap karya anak negeri tak hanya dialami oleh GeNose. Setali tiga uang, nasib ini juga dialami oleh vaksin nusantara yang tengah dikembangkan oleh dr Terawan, mantan Menteri Kesehatan yang lengser di era pandemi.

Yang berbeda, GeNose sempat lahir menjadi produk dan gagal eksis lantaran regulasi pemerintah lebih memilih Rapit Antigen dan PCR produk luar negeri dibanding produk anak bangsa. Sementara Vaksin Nusantara justru sudah ‘dipersulit’ saat vaksin yang diklaim juga lebih praktis, efektif dan murah ini masih dalam tahap uji klinis.

Nasib GeNose dan Vaksin Nusantara ini pada akhirnya menyisakan pertanyaan besar di tengah banyaknya ‘kelucuan’ kebijakan pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Patut diduga, produk anak negeri ini tersingkir di tanah kelahirannya sendiri lantaran bangsa ini memang belum memiliki kepercayaan diri. Meski sudah merdeka secara fisik, bisa jadi mental bangsa ini memang masih terjajah sehingga masih mengagungkan produk asing dan tidak pernah bangga dengan karya anak bangsa.

Kita berharap, dugaan tersebut salah, sebab dugaan tersebut tentu melukai martabat bangsa ini. Untuk itu kita mencoba menganalisa penyebab lain, semisal unsur ekonomi yang ada di belakang GeNose dan Vaksin Nusantara yang barangkali tidak berpihak pada para pengambil kebijakan di era pandemi ini.

Bisa jadi, GeNose dan Vaksin Nusantara tak memperoleh dukungan regulasi lantaran mengimpor Antigen atau PCR dan vaksin dari Tingkok jauh lebih mudah memperoleh fee pengadaan dibanding memanfaatkan karya anak bangsa.

Kalaupun sebenarnya sama-sama memberikan peluang, mungkin cincai dengan orang asing pemilik lisensi vaksin dan alat tes lebih sedikit peluang untuk terbongkar.

Analisa kedua ini juga bisa kurang tepat. Namun yang tersisa tinggal satu alasan yang jelas-jelas tidak rasional. Alasan terakhir adalah soal akurasi dan juga efektivitas.

Soal vaksin, jika vaksin nusantara dipertanyakan efektivitasnya? Bukankah vaksin-vaksin impor yang saat ini digunakan juga rendah tingkat efektivitasnya? Bahkan dalam beberapa kasus, vaksin-vaksin impor tersebut juga menimbulkan fatalitas setelah digunakan.

Sama halnya dengan alat deteksi Covid-19. Jika GeNose yang jelas-jelas produk anak bangsa, kebanggaan kita semua dipersoalkan akurasinya, apakah Antigen dan PCR bisa menjamin lebih valid?

Terakhir, keputusan pemerintah memberikan batasan harga termahal dari PCR dan Antigen beberapa waktu lalu, sesungguhnya tak lebih dari menambah kelucuan belaka. Pemerintah tahu persis berapa HPP dari Antigen dan PCR masuk di Indonesia.

Untuk itu jika mereka bisa membuat kebijakan menurunkan herga, kenapa kebijakan tersebut diambil sangat-sangat terlambat. Bahkan kebijakan itu justru membuka mata kita semua bahwa PCR di negara lain, tarifnya bisa sangat-sangat murah. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved