Berita Pangkalpinang
Kebijakan Impor Sapi dari Australia, Kepala BPS Babel Prediksi Pembelian Daging Lokal akan Menurun
Gubernur Provinsi Bangka Belitung, Erzaldi Rosman, membuka keran dengan melakukan impor sapi potong dari Australia.
Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: nurhayati
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Gubernur Provinsi Bangka Belitung, Erzaldi Rosman, membuka keran dengan melakukan impor sapi potong dari Australia.
Rencana impor sapi Australia tersebut sebagai upaya melepas ketergantungan kebutuhan sapi di Bangka Belitung dari daerah lainnya.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Babel, kebutuhan ternak sapi di Babel pada 2020 sebanyak 16.820 ekor dan 85 persen sapo dipasok dari luar daerah atau 12.717 ekor.
Dengan rincian kebutuhan di Pulau Bangka 10.174 ekor dan Belitung 2.543 ekor per tahun.
Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bangka Belitung bahwa rata pengeluaran per kapita/bulan untuk konsumsi daging yakni pada Maret 2020 sebanyak 0,04 Kg dengan nilai Rp4.583.
Baca juga: 1.000 Ekor Sapi Australia Segera Tiba di Babel, Erzaldi: Untuk Kebutuhan Daging Sekaligus Pembibitan
Baca juga: Babel Bersiap Diri Impor Sapi dari Australia, Erzaldi: Kita Berharap Harga Daging Sapi Terkendali
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Dwi Retno Wilujeng Wahyu Utami, mengatakan daging sapi dikonsumsi masyarakat di Babel umumnya berasal dari Lampung dan Madura.
"Yang dari lampung jenisnya salah satunya ada sapi Australia. Jika kita mengimpor sapi dari luar negeri dalam bentuk daging beku yang harganya lebih murah dari daging sapi segar maka masyarakat tidak membedakan jenis daging beku atau segar dan akan memilih produk impor yang lebih murah," kata Dwi, Jumat (8/10/2021) kepada Bangkapos.com.
Baca juga: Ini Alasan Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman Buka Keran Impor Sapi dari Australia
Baca juga: Anggota DPRD Babel Dukung Kebijakan Impor Sapi dari Australia, Beliadi: Sepanjang untuk Kebaikan
Dia menilai dengan kebijakan ini, otomatis pembelian sapi lokal baik dari dalam provinsi maupun dari luar provinsi akan berkurang.
"Namun selera masyarakat tidak seluruhnya menyukai daging beku, yang menyukai daging segar tetap akan memilih daging segar.
"Setidaknya nanti tetap akan menurunkan harga daging segar lokal namum di satu sisi impor atau pembelian daging lokal akan mengalami penurun dan peternak akan merasakan dampaknya," ungkap Dwi.
(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/bahaya-daging-dibungkus-plastik_20150510_101141.jpg)