Rabu, 22 April 2026

Inilah Dampak Mendidik Anak dengan Cara yang Keras Menurut Dokter Aisah Dahlan

Dokter Aisah Dahlan menjelaskan dampak mendidik anak dengan cara yang keras, anak menjauhi orang tua.

Penulis: Widodo | Editor: M Zulkodri
Capture YouTube
dr Aisah Dahlan 

BANGKAPOS.COM -- Mendidik anak tentunya sudah menjadi tugas dari orang tua.

Baik itu ibu maupun ayah yang membesarkan buah hatinya itu selalu memberikan didikan setiap hari.

Perilaku terhadap anak sebagai cerminan dari didikan orang tuanya.

Baik itu didikan secara lembut maupun keras.

Perlu diketahui bahwa didikan yang keras memiliki pengaruh yang kurang baik bahi sih anak.

Demikian diungkapkan oleh dr Aisah Dahlan dalam salah satu kajiannya.

Hal itu ia beberkan di kanal YouTube Alid TV yang diunggah pada 24 Mei 2021 lalu.

Menurutnya, didikan dengan cara yang keras berdampak buruk.

Lalu seperti apa dampaknya? Berikut penjelasan dr Aisah Dahlan.

"Di dalam Al-Qur'an juga kita sudah dilarang untuk keras. Allah berfirman maka karena rahmat Allah engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka.

Sekiranya engkau keras dan berhati kasar mereka menjauh darimu," ujarnya.

Baca juga: Goyang Pargoy Ala Dianna Dee Starlight Pakai Sport Bra Bikin Netizen Berkoar Nggak Ada Obat

Baca juga: Si Keladi Loreng Asal Lahat Aglonema Pictum ini Dibanderol Puluhan Juta Rupiah

Dia mengatakan jika hal tersebut terjadi dalam didikan maka sangatlah berbahaya.

dr Aisah Dahlan menceritakan ada pasiennya pencandu narkoba karena orang tua terlalu keras dan berhati kasar.

"Maka anak menjauh dari orang tua, sering nongkrong-nongkrong di luar rumah. Bahayanya karena bandar narkoba masih banyak berkeliaran di sana".

"Bahayanya jika anak ketemu sama bandar narkoba dan mendapat solusi yang salah di waktu yang salah," kata dr Aisah Dahlan.

Oleh karena itu dia menyarankan bersikaplah lemah lembut kepada anak.

Sebab seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa bila keras maka mereka akan menjauh.

"Semua penyimpangan anak-anak itu karena dia menjauh dari orang tuanya," sebutnya.

Namun jika didikan orang tua sudah lemah lembut tetapi sang anak bersikap acuh maka orang tua hendaknya memaaafkanlah mereka.

"Ya Allah maafkanlah anakku, kita ngomong sebagai orang tua. Saya maafkan anakku ya Allah, sebut namanya dan mohonkan ampun untuk dia ya Allah," tuturnya.

Jika orang tua bersikap lemah lembut pada anak itu adalah rahmat Allah yang turun.

Menurut dr Aisah Dahlan, pada dasarnya orang tua pada anak kandung maunya cepat dan sulit lembut.

Berbeda ketika ke anak orang lain lebih mudah lembut.

Jika dia membuat kesalahan maafkanlah dia dan ajak untuk musyawarah.

Baca juga: Ini Cara Mengatasi Lendir di Dada dan Tenggorokan Ala dr Zaidul Akbar, Serta Pantangan Makannya

Baca juga: Hotman Paris, Soroti Kasus Istri Dituntut 1 Tahun Penjara, Marahi Suami Mabuk, Apresiasi Pihak Ini

Simak video di bawah ini :

Seni Menegur Anak

dr Aisah Dahlan menyebutkan perlu menegur tetapi bukan hanya karena sang anak membuat kesalahan saja.

Kenapa disebut seni karena supaya anak tidak tersinggung, tetapi tersentuh.

Tersingung dan tersentuh pada hakekatnya sama, terkena. cuma kalau tersingung goncangannya luar bisa tetapi kalau tersentuh tidak ada goncangan tetapi lembut.

Hal itu ia beberkan dalam kanal YouTube Rumil Al-Hilya yang diunggah pada 25 September 2019 lalu.

"Banyak saya lihat orang tua menegur anak, tetapi anaknya bingung. Apa salahku bunda?," jelas dr Aisah Dahlan.

"Itu terjadi sebenarnya karena kita belum memberi peraturan. Misalnya menegur anak buang sampah sembarangan. Kalau kita tidak pernah kasih tau jangan buang sampah sembarangan bingung dia," katanya.

dr Aisah Dahlan menjelaskan yang berkaitan dengan seni menegur anak.

"Jadi intinya harus terlebih dahulu kita beri peraturan, jika belum kita kasih tau maka anak akan binggung," katanya.

"Makanya kalau kita mau menegur kita orangtua harus mengigat dulu pernah kasih tau ngak yah," paparnya.

Baca juga: Dikira Sakit Pinggang Biasa, Awas Penyakit Kanker Berbahaya Ini Mengintai, Jangan Anggap Sepele!

dr Aisah menjelaskan kita juga tidak boleh membuat label kepada anak.

"Misalnya kamu bodoh, kamu bandel, kamu nakal, kamu jorok, kamu pencuri, kamu penakut ini namanya membuat label, labelnya negatif. itu di otaknya anak langsung tertanam itu sangat berbahaya, kalau ibunya bilang anak langsung merekam, karena ibu melahirkan," jelas dr Aisah.

Seorang anak selalu berharap siapapun yang mengatai dia tapi berharap ibunya membela dia.

Tetapi kalau ibu yang berbicara, hancur dia tidak lagi ada pegangan lagi.

Ingat akhlak anak sama dengan akhlak seorang ibu.

Terus bagaimana kalau sudah terlanjur, orang tua jangan meratapi dan merasa bersalah, itu harus diganti dengan rasa kurang.

Karena kalau rasa bersalah akan berbahaya, menjadi sakit dan paling parah lama-lama menyalahkan Allah.

Tetapi kalau rasa kurang itu bisa diisi.

Dikatakan dr Aisah di zaman milenial sekarang ini memang berbeda di zaman dulu yang banyak mengadopsi gaya kolonial.

Sehingga wajar banyak keliru dalam pola asuh anak.

"Jangan segan-segan orangtua untuk meminta maaf kepada sang anak apabila orangtua melakukan kesalahan," ucapnya

Hal itu akan direkam oleh anaknya dan mereka akan melakukan hal yang sama.

"Nanti anaknya melunjak. ngak itu karena kata-kata kita omongan kita masuk ke telinga anak jalan di badan," ungkapnya.

Harus dibedakan atau pribadi anak dengan perilakunya. Kalau perilaku bisa saja salah, tetapi kalau pribadi anak senantiasa baik.

(Bangkapos.com/Widodo)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved