Sabtu, 18 April 2026

Horizzon

Omicron Menyerang Pasukan Kelelahan yang Kehilangan Panglima

Persis seperti varian Betha yang mampu menembus imunitas, varian ini juga membawa gen varian Delta yang memiliki tingkat penularan sangat ekstrem

Editor: suhendri
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP 

Terlepas dari perdebatan yang juga masih kuat hingga saat ini, apakah pandemi ini nyata atau akal-akalan, kita semua pernah merasakan teror ketakutan akibat Covid-19 ini. Kita pastikan, terlepas dari diskusi antara benar dan tidak tentang wabah ini, yang jelas virus ketakutan nyata memang mewabah tidak hanya di negeri kita, tetapi telah menginfeksi peradaban manusia.

Kita juga tahu, saat diskursus soal benar atau tidaknya esensi dari wabah ini tak pernah tuntas, pikiran kita justru terganggu dengan hal-hal yang jauh dari akal sehat. Rasa percaya kita terhadap wabah ini justru terusik oleh kebijakan berbau 'korup' yang justru diambil dalam hal mengatasi pandemi.

Masih ingat soal kebijakan PCR yang membuat kepercayaan kita terhadap wabah menjadi luluh lantak setelah tahu orang-orang yang selama ini menjadi penentu regulasi atas penanganan pandemi ini adalah pemain utama importir PCR. Lebih sakit hati lagi dan itu juga menganvaskan sikap percaya kita pada wabah adalah saat tahu, harga PCR yang awalnya mencapai jutaan rupiah, ternyata bisa dilakukan hanya dengan puluhan ribu rupiah saja.

Tidak berhenti sampai di situ. Kebijakan soal vaksin juga ikut menyumbang luluh lantaknya kepercayaan publik atas pandemi ini. Vaksin Nusantara, karya anak bangsa yang diyakini efektif membentengi negeri ini dari virus asal Wuhan justru dipersulit eksistensinya.

Pemerintah lebih suka mengimpor vaksin asing yang justru masih diperdebatkan efektivitasnya daripada sekadar memberi ruang untuk vaksin karya anak bangsa. Sikap pemerintah yang justru tidak nasionalis terkait vaksin Nusantara ini diakui atau tidak, telah memberi ruang terhadap analisis liar dari publik bahwa yang menuding pemerintah sengaja tutup mata atas cukong vaksin yang memainkan cuan atas impor vaksin.

Terakhir, sikap pemerintah yang justru mendegradasi kepercayaan publik terkait wabah ini adalah sikap pemerintah yang justru tidak nasionalis terhadap GeNose, alat tes produk dalam negeri yang juga tak memiliki eksistensi di negeri sendiri. Meski di dalamnya ada uang asing dalam pengembangan GeNose, alat tes kreasi UGM ini justru lebih banyak dipersekusi dan akhirnya terpinggirkan.

Kita harus akui, saat ini kepercayaan publik terhadap Covid-19 ada berada di tingkat paling rendah. Kebijakan yang 'korup' dan tidak esensial yang terkesan menguntungkan cukong-cukong membuat publik yang sudah kelelahan menjadi putus asa.

Dua tahun bertahan dalam keraguan dan ketidakpastian, kini harus diakui bahwa publik benar-benar sudah lelah dan tak peduli. Kita harus akui, selama ini virus yang benar-benar nyata menyerang kita semua adalah virus ketakutan, dan publik telah memperoleh kekebalan alami dari 'vaksin' kebijakan yang lucu.

Lalu bagaimana dengan Omicron? Jika benar apa yang disampaikan WHO, maka kita akan benar-benar dalam situasi yang membahayakan. Jika ancaman Omicron ini nyata, maka Omicron adalah pasukan musuh yang akan mampu membumihanguskan peradaban manusia yang telah lelah karena perang panjang sekaligus pasukan yang tak lagi percaya dengan panglima perangnya. (*)

Sumber: bangkapos
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved