Sabtu, 11 April 2026

Tribunners

Model Strategi Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar

Menurut Eriyati (2006:152-153) pendidikan kewarganegaraan menekankan pada pengamalan dan pembiasaan dalam kehidupannya.

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Amira Nabila - Mahasiswa PGSD, Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung 

TUJUAN utama pendidikan kewarganegaraan fokus terhadap terbentuknya karakter warga negara memahami terhadap hak dan kewajiban. Dalam konteks Indonesia, pendidikan kewarganegaraan memiliki esensi untuk membentuk sikap warga negara yang terampil, cerdas, serta berkarakter sesuai amanat Pancasila dan UUD 1945.

Menurut Abdulkarim (2006), hak dan kewajiban yang dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia harus dilaksanakan dan dipelihara dengan baik agar tercipta kehidupan yang sesuai dengan konsep selaras, serasi, dan seimbang.

Berdasarkan UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Bab 1 Pasal 1 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dengan demikian, hakikat pendidikan merujuk pada pengembangan dan pembentukan kemampuan individu mengembangkan dirinya agar dapat berperilaku yang bermanfaat untuk kepentingan hidupnya sebagai individu maupun warga negara.

Menurut Eriyati (2006:152-153) pendidikan kewarganegaraan menekankan pada pengamalan dan pembiasaan dalam kehidupannya. Berikut ini tujuan dan ruang lingkup pendidikan kewarganegaraan tingkat sekolah dasar pada tiap jenjang kelasnya.

a) Tujuan PKn di kelas 1 adalah siswa dapat mengemukakan berbagai contoh perbuatan dalam kehidupan yang sesuai dengan moral lingkungannya (keluarga, adat, budaya);

b) Tujuan PKn di kelas II adalah siswa mampu mengikuti/mencontoh berbagai perbuatan yang ada dalam kehidupan di lingkungannya;

c) Tujuan PKn di kelas III adalah siswa dapat melakukan berbagai hal yang dituntut oleh keputusan nilai moral umum dan baku serta mengemukakan perilaku keteladanan yang lebih baik;

d) Tujuan PKn di kelas IV adalah siswa dapat menjelaskan dan mencoba berperilaku yang sesuai dengan tuntutan lingkungan sekitarnya (lingkungan sekitar kecamatan dan kabupaten/kota);

e) Tujuan PKn di kelas V adalah siswa dapat berupaya menyesuaikan perilaku kehidupannya ke arah tuntutan keharusan nilai moral bangsa dan negara (lingkungan sekitar provinsi dan nasional); dan

f) Tujuan PKn di kelas VI adalah siswa meyakini dan dapat berperilaku sebagaimana tuntutan keharusan pemerintah negara Republik Indonesia (wilayah nasional).

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka peran sekolah dan guru mampu untuk menentukan strategi pembelajaran pendidikan kewarganegaraan di sekolah Dasar. Tirtoni (2016) mengungkapkan terdapat tiga strategi sukses dalam pengajaran mata pelajaran PKn di SD, sebagai berikut:

* Strategi model pembelajaran kontekstual PKn. Kebanyakan siswa mata pelajaran PKn merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat membosankan. Sebagian besar materinya mewajibkan siswa untuk menghafal. Ditambah lagi dengan guru pengajar yang tidak dapat menyampaikan materi secara menarik. Hal ini mengakibatkan siswa menjadi bosan dan mengabaikan guru yang sedang menerangkan.

Diperlukan pendekatan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan siswa untuk mengajar mata pelajar ini, seperti pendekatan yang menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran. Dengan pendekatan yang seperti ini, siswa akan mengasah keterampilan dan bakat yang mereka memiliki. Hal ini juga bermanfaat untuk menjadikan siswa lebih cerdas dan berkarakter serta memaksa siswa untuk berpikir secara kritis.

* Strategi model pembelajaran PKn tematis. Pada usia dini, anak-anak atau siswa SD kebanyakan belajar menggunakan imajinasi mereka yang masih abstrak. Hal ini dikarenakan anak-anak seusia mereka masih senang berimajinasi dan membayangkan sesuatu yang mereka pelajari. Bahkan mereka juga akan mengkait-kaitkan sesuatu yang mereka pelajari dengan hal-hal yang terjadi di sekitar mereka. Karena hal itu akan membuat mereka lebih paham akan suatu materi. Hal ini sah-sah saja bahkan dianggap sangat baik untuk anak-anak. Karena dengan begini anak-anak akan lebih kreatif. Potensi mereka secara alami juga akan ikut berkembang.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved