Horizzon
Epilog Dua Truk Nanas
Agak aneh jika ada orang susah payah mengirimkan timah yang nilainya hampir setara dengan barang yang patut diduga untuk mengelabuinya.
SEKILAS, berita tentang 'upaya penyelundupan' 150 kilogram atau 173 kilogram timah, baik dalam bentuk pasir maupun timah yang sudah dilebur adalah sesuatu yang menghebohkan.
Dari sudut pandang penegakan hukum, berita tersebut seakan menjadi bukti bahwa aparat penegak hukum kita bekerja mengamankan aset paling seksi milik Bangka Belitung, yaitu timah. Tidak peduli volume barang yang dikirim, namun menyelamatkan aset paling seksi dari Bumi Serumpun Sebalai tersebut juga akan menjadi opini publik paling seksi.
Agar makin seksi, mari kita kaji lebih dalam terkait dengan ihwal penggagalan pengiriman 173 kilogram timah tersebut. Menurut berita yang bersumber dari kepolisian, timah dalam bentuk pasir dan timah lebur tersebut terendus dari informasi masyarakat tentang dugaan pengiriman timah yang diduga ilegal.
Timah tersebut diangkut bersamaan dengan dua truk nanas dengan tujuan Tanjung Priok Jakarta melalui Pangkalbalam, Pangkalpinang. Mari pelan-pelan kita detailkan apa yang terjadi sesuai dengan berita yang beredar dan menjadi headline di hampir seluruh koran dan portal di Bangka Belitung.
Yang pertama, mari kita hitung nilai ekonomis dari nanas dan timah yang dikirim bersamaan dengan dua truk nanas tersebut. Menghitung nilai ekonomis antara nanas dan pasir timah ini menjadi cukup penting untuk menegakkan motif dari pengiriman timah yang seksi ini.
Dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan, nanas sebanyak dua truk tersebut diperkirakan jumlahnya mencapai 6.800 butir. Ditambahkan dari keterangan pedagang buah, harga satu butir nanas sekitar Rp8.000. Jika dikalikan, maka nanas sebanyak dua truk tersebut jika dirupiahkan nilainya mencapai Rp54 juta sekian.
Sementara nilai dari 173 kilogram timah jika menggunakan estimasi harga timah antara Rp250 ribu hingga Rp 300 ribu, maka jika dirupiahkan, 173 kilogram timah yang menjadi pusat perhatian publik Bangka Belitung ini berkisar antara Rp40 juta hingga Rp50 juta.
Jika narasi yang dipakai adalah penyelundupan timah berkedok pengiriman nanas, maka narasi ini patut digugat kesahihannya. Agak aneh jika ada orang susah payah mengirimkan timah yang nilainya hampir setara dengan barang yang patut diduga untuk mengelabuinya.
Mungkin ini agak masuk akal jika timah yang dikirim adalah 173 ton kemudian di atas pasir timah ini ditutupi dengan nanas yang jumlahnya tidak seberapa dan hanya untuk menutupi agar tidak kentara bahwa yang dikirim sesungguhnya adalah pasir timah.
Dari sudut pandang ini memunculkan beberapa kemungkinan. Pertama pengirim timah tidak profesional dan hanya pemain kecil yang mencoba mengirimkan timah dengan nebeng ke nanas atau bisa jadi apa saja asal bisa keluar dari Babel. Kita tahu, memang untuk memperoleh pasir timah kita harus melalui bursa. Ini barangkali bisa menjawab kemungkinan pertama.
Kemungkinan kedua adalah pengiriman pasir timah bersamaan dengan nanas segar ini adalah uji coba. Artinya, kasus yang kemarin terungkap adalah trial dari pihak-pihak tertentu yang bisa jadi akan melakukan hal serupa dalam jumlah lebih besar ke depannya.
Dua kemungkinan dari sudut pandang pertama ini tentu harus menjadi catatan penting bagi aparat penegak hukum untuk menuntaskan kasus ini. Dan karena kasus ini telah di-publish, maka ujung dari kasus ini harus jelas apa motifnya.
Jika aparat penegak hukum memang melakukan ini didasarkan pada tanggung jawabnya menjaga aset paling berharga di Babel, maka siapa pemilik dari timah ini harus bisa ditangkap. Aparat tak boleh puas hanya sekadar memutus kasus ini pada pengemudi truk, kecuali pengemudi truk memang sebagai pemilik dari timah seksi tersebut.
Perspektif kedua untuk melihat kasus nanas dan timah ini adalah soal kejelian aparat penegak hukum. Meski sumber awal dari kasus ini disebut berasal dari informasi masyarakat, namun pengungkapan kasus seksi ini membuktikan bahwa aparat penegak hukum kita memang cukup canggih.
Tentu tidak gampang memperoleh informasi A-1 yang menyebut bahwa di dalam truk berisi nanas segar penuh itu di bawahnya ada pasir timah yang volumenya bisa kita bayangkan volumenya setara dengan tak lebih dari 50 buah nanas jika dimasukkan dalam karung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)