Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Alex Sang Penjaga Ikan Cupang Endemik, Tak Lelah Meski Tak Dibayar

Alex (24) tampak memperhatikan dengan seksama seekor ikan cupang endemik di Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung The Tanggokers, Selasa (11/1/2022).

Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Cici Nasya Nita
Alex (24), satu diantara anggota Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung The Tanggokers, Selasa (11/1/2022). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Alex (24) tampak memperhatikan dengan seksama seekor ikan cupang endemik di Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung The Tanggokers, Selasa (11/1/2022).

Ikan berwarna agak hijau kecokelatan itu jenis dari Wild Betta schalleri (Tempalak Pungor) tampak menggerakan sirip dan ekornya.

Pria yang rambutnya dikucir ini, setiap hari selalu memberi makan ikan yang biasa dikenal oleh masyarakat Bangka Belitung, dengan sebutan ikan tempalak atau tepalak.

Warga kota Pangkalpinang ini tak lelah mesti tak dibayar dan melakukan budidaya ikan-ikan lokal dan endemik dengan ikhlas.

Terhitung sudah tiga tahun, dia bergabung di Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung The Tanggokers.

Baca juga: Kalahkan Persipas Lewat Adu Pinalti, PS Bangka Tengah Juara 3 Soeratin U-17

Baca juga: CPNS 2021 Masuk Masa Pemberkasan, Pemkot Pangkalpinang Terima Dua Sanggahan

Awal berdiri itu, baru berupa komunitas namun seiring berjalan waktu fokus menjadi komunitas yang bergerak di bidang konservasi dan edukasi.

"Iya sering kasih makan, kadang pagi tapi paling sering malam dan ganti-ganti air juga, memang karena keinginan sendiri, sudah merasa seperti kewajiban," kata Alex.

Selain menjaga ikan endemik ini, dia yang memiliki usaha percetakan ini tetap gemar dan semangat untuk merawat ikan-ikan yang ada di yayasan ini.

"Memang gemar dengan ikan lokal, kalau untuk cupang endemik ini, ada dua jenis di sini, itu ada ikan tempalak mirah dan tempalak pungor," katanya.

Perbedaan dua jenis ikan ini, Wild Betta Burdigala (tempalak mirah), yang mana penyebaran terbatas hanya ada pada daerah Bangka Selatan dengan ukuram 3-3,5 cm.

Kedua, Wild Betta schalleri (Tempalak Pungor), dengan ukuran 8-10 cm.

"Kalau anakan itu kita hidupkan di baskom-baskom, ada kisaran 20 anak dari masing-masing jenis ini," katanya.

Ikan tempalak
Ikan tempalak (Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Sementara itu, pakan ikan sendiri, untuk anakan itu diberikan kutu air dan ikan yang sudah besar itu cacing dan jangkrik.

"Kalau ganti air itu sesuai dengan penurunan kualitas air, kita ada alat ukurnya, biasanya sebulan sekali ganti air," katanya.

Baca juga: Bangka Belitung Miliki Potensi Budidaya Rumput Laut untuk Ekspor, Banyak Manfaatnya

Sementara itu, Pendiri dan Pembina dari Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung The Tanggokers, Landa berharap dengan adanya budidaya ikan cupang endemik ini dapat menjadi upaya konservasi.

"Harapan kami ini ada peran serta dari pemerintah dalam hal regulasi dan penegasan yang berbersifat perda atau pergub dalam perlindungan ikan endemik pulau Bangka, karena ini kebanggaan dari kita yang mempunyai harta karun terpendam, yang tidak dimililiki oleh daerah lain," katanya.

(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved