Terkenal Garang, Ini Alasan AS Tak Berani Serang Korea Utara yang Sering Bikin Ketir Dunia
Peluncuran rudal jelajah memang tidak dilarang oleh PBB, namun Korea Utara telah menantang kecaman internasional dari 4 rudal yang telah ditembakkan.
Penulis: Nur Ramadhaningtyas | Editor: Alza Munzi
BANGKAPOS.COM - Korea Utara masih saja terus-terusan melakukan uji coba senjata nuklir hingga saat ini.
Diberitakan Kompas.com, Korea Utara baru saja menembakkan dua rudal ke laut lepas pantai timusnya pada bulan lalu, (25/1/2022).
Peluncuran rudal jelajah memang tidak dilarang oleh PBB.
Namun, beberapa pekan saatu, Korea Utara telah menantang kecaman internasional dari 4 rudal yang telah ditembakkan.
Media Korea Utara juga melaporkan bahwa badan pembuat kebijakan yang dipimpin oleh Kim Jong Un, mempertimbangkan untuk melanjutkan uji coba nuklir dan rudal balistik antarbenua (ICBM).
Program itu disebut sempat dihentikan sementara.
rudal darat-ke-udara lembing di sebelah Bradley Fighting Vehicle (BFV)
AS selama latihan militer (AFP/DELIL SOULEIMAN)
Namun karena upaya berkelanjutan untuk meningkatkan militer negara itu melawan kebijakan dan memilih untuk bermusuhan dengan AS agar pengujian diteruskan.
Baca juga: 20 Aturan Aneh bin Ajaib di Korea Utara, Dilarang Senyum, Pakai Celana Jins, dan Bebas Isap Ganja
Seperti yang tertulis di voanews.com, Amerika mudah saja menghancurkan Korea Utara dengan persenjataan yang ia punya.
Namun semua itu harus dengan persetujuan Korea Selatan.
Presiden Korea Selatan mengatakan tindakan militer terhadap ancaman nuklir dan rudal Korea Utara tidak dapat dilakukan di semenanjung Korea tanpa persetujuan pemerintahnya.
Baca juga: Mayat di Korea Utara Tak Dikubur dengan Layak, Justru Diolah Jadi Pupuk Tanaman, Ini Faktanya
Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in mengatakan bahwa dia akan menghalangi pertempuran di semenanjung itu, di mana sebenarnya perang masih berlangsung sejak 1950-1953.
Keadaan perang secara teknis tetap berlaku sejak Perang Korea 1950-53, yang berakhir dengan perang. gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
"Aksi militer di semenanjung Korea hanya dapat diputuskan oleh Korea Selatan, dan tidak ada orang lain yang dapat memutuskan aksi militer tanpa persetujuan Korea Selatan." ujar Moon mengutip Voanews.com.
Saat itu Trump masih menjabat sebagai Presiden tidak boleh mengesampingkan tindakan militer sepihak oleh Amerika Serikat.
Perlu diketahui perjanjian pertahanan AS-Korea Selatan ditandatangani pada tahun 1953, yang berisi bahwa satu-satunya ancaman langsung yang diajukan Pyongyang adalah Seoul, bukan Washington.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/26042020_kim-jong-un.jpg)