Berita Pangkalpinang
Usia SMA Sederajat Rentan Terpapar Radikalisme hingga Terorisme, Ini Kata Nasir Abbas
Mantan Teroris Nasir Abbas mengingatkan bahwa usia sekolah sangat rentan terpapar paham radikalisme dan terorisme.
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Mantan Teroris Nasir Abbas mengingatkan bahwa usia sekolah sangat rentan terpapar paham radikalisme dan terorisme.
Pasalnya di usia remaja ini para pelajar masih berproses mencari jati diri sehingga mereka lebih mudah terpengaruh.
"Usia SMA/sederajat merupakan usia yang sangat rentan terpapar paham radikalisme," ungkap Nasir Abbas, sosok yang pernah menjadi pemimpin Mantiqi III Jamaah Islamiah saat Forum Group Discussion (FGD) di Fox Harris Hotel Pangkalpinang pada Kamis (17/3/2022).
Bahkan berdasarkan pengalamannya, Nasir Abbas mengakui ia mulai terpapar dan tergabung saat usia SMP, bahkan saat berusia 17 tahun dirinya sudah belajar bagaiamana merakit senjata.
Baca juga: Mantan Teroris Nasir Abbas Ingatkan Intoleran Berpotensi Jadi Pelaku Radikalisme dan Teroris
Baca juga: Nelayan Lepar Pongok Temukan Mayat Bayi Mengapung di Laut, Dibalut Kain dan Dimasukkan Plastik Merah
Menurut Nasir, remaja usia SMA atau lebih kurang berusia 18 tahun rentan terpapar pemahaman radikalisme hingga berujung kepada aksi terorisme lantaran minimnya pendidikan anti radikalisme ataupun pendidikan dan toleransi di lingkungan.
Untuk itu Nasir mengimbau agar pendidikan anti radikalisme maupun toleransi harus terus digalakkan demi mencegah penyebaran paham radikalisme.
"Gagal paham atau salah paham dapat menjadikan sifat intoleran hingga akhirnya berakhir menjadi teroris. Oleh karena itu pelajar kita harus pandai memilih apa yang perlu dipelajari dan harus kritis dengan bertanya kepada pihak-pihak yang mengetahuinya lebih dalam," saran Nasir Abbas.
Guna mengantisipasi meluasnya pemaparan virus radikalisme yang dapat berujung aksi terorisme pada pelajar, Nasir memberikan trik-trik seperti misalnya selalu bertanya kepada diri sendiri bagaiamana hal itu terjadi pada diri sendiri atau keluarga, apakah benar langkah itu sesuai ajaran agama dan kemanusiaan, serta apakah telah sesuai dengan konsep Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila.
Kepada para remaja yang memiliki banyak aktivitas di dunia maya, harus pandai-pandai dalam mencari perbandingan informasi dan jangan langsung dipercayai, harus diklarifikasi.
Menurut Nasir, main HP boleh, sosial media juga boleh tetapi harus bijak dan pintar sehingga jangan sampai merusak.
"Selain itu pula harus bersikap kritis terhadap apa saja yang kita baca, kita lihat, kita tonton dan kita dengar. Jangan lupa pula melakukan klarifikasi kepada orang-orang yang berpengetahuan sehingga apa yang diketahui itu benar dan tidak keliru," ungkapnya.
Intoleransi
Mantan Koordinator Jamaah Islamiah Wilayah Asia Tenggara, Nasir Abbas mengakui dirinya bergabung menjadi teroris lantaran minimnya informasi mengenai pemahaman radikalisme dari seluruh pihak apalagi pemerintah.
Nasir juga menyebutkan jika tidak ada satu orang pun yang tidak berpotensi menjadi teroris dan pelaku radikalisme. Setiap orang juga berpotensi direkrut oleh pelaku terorisme.
"Saya tahu bagaimana merekrut teroris, karena saya merupakan perekrut dulunya dan sudah berjibaku di Afganistan dan wilayah lainnya," ungkap Nasir Abbas dalam Forum Group Discussion (FGD) yang mengangkat tema "Upaya Mereduksi Sikap Intoleran dan Paham Radikalisme Guna Mencegah Tindakan Kekerasan dan Terorisme di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung" pada Kamis (17/3/2022).
Baca juga: Operasi KRYD di Pangkalpinang, Masih Ditemukan Pengendara Motor dan Mobil Tidak Memakai Masker
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220317-nasir.jpg)