Rabu, 20 Mei 2026

Human Interest Story

Kisah Tukang Service Jam Asal Padang, Bertahan Hingga Puluhan Tahun

Di tengah ramainya lalu lalang kendaraan di perempatan Bangka Trade Center (BTC) Pangkalpinang, tampak seorang pria

Tayang:
Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Akhmad Rifqi Ramadhani
Heri (49) tukang servis jam yang mangka di depan Bangka Trade Center (BTC) Kota Pangkalpinang. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Di tengah ramainya lalu lalang kendaraan di perempatan Bangka Trade Center (BTC) Pangkalpinang, tampak seorang pria yang sedang sibuk bongkar pasang jam. Tangannya cekatan dalam hal mengotak atik benda mungil satu ini.

Sesekali, ia menyeka keringat yang membasahi wajahnya Sabtu, (19/03/2022) siang.

Pria itu bernama Heri (49). Berusia hampir setengah abad dan memiliki dua orang anak ia menikmati hidup sederhana di Kota Pangkalpinang.

Menggeluti profesi sebagai tukang servis jam selama puluhan tahun membuatnya merasa tak ada pilihan untuk membuka karir baru.

Pekerjaan sebagai tukang servis jam dimulai saat tahun 1996. Hampir 26 tahun lamanya. Pria satu ini sangat menekuni pekerjaannya. Mengotak atik hingga hafal jenis mesin berbagai merek jam.

"Sudah lama jadi tukang servis jam, udh puluhan tahun dari awal merantau ke Bangka," kata pria yang tinggal di Bukit Tani itu.

Bercerita kepada Bangkapos.com ia mengatakan pernah mengadu nasib ke Cilegon, Banten guna mengadu nasib untuk mencari pundi-pundi rupiah di tempat rantauan.

Tukang servis jam adalah profesi yang digelutinya saat itu.

Namun, hal tersebut tak berlangsung lama. Berselang satu tahun ia kembali lagi ke Padang mengingat usahanya kian tak menunjukan perkembangan yang baik.

"Sebelum ke Bangka sempat ke Cilegon dulu merantau, tapi gak lama cuman 1 tahun karena gak jalan baik usahanya," katanya.

Sejak tahun 1996, pria kelahiran Padang ini hanya mangkal menunggu pelanggan di Jl. Letkol Saleh Ode, Ps. Padi, Kecamatan Rangkui, persis di depan Bangka Trade Center (BTC). Bermodal gerobak kecil dan tenda payung dari plastik ia membuka usaha servis jam.

Saat ditanya mengapa tidak membuka lapak jasa servis jam di kios, Heri hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.

“Ga ada modalnya, begini aja udah,” ujarnya setengah pasrah.

Bila sepi pelanggan, ia hanya duduk menatapi lalu lalang kendaraan di hadapannya. Kadang juga, ia langsung pulang.

Saat malam hari, ia kembali bekerja sebagai pedagang wedang jahe.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved