Human Interest Story
Kisah Tukang Service Jam Asal Padang, Bertahan Hingga Puluhan Tahun
Di tengah ramainya lalu lalang kendaraan di perempatan Bangka Trade Center (BTC) Pangkalpinang, tampak seorang pria
"Dari jam 8 pagi buka sampai sore, malam lanjut lagi jualan wedang jahe," katanya ramah.
Tak ada pelajaran khusus, hanya bermula dari hobi Heri akhirnya mahir menservis jam.
Heri bertahan puluhan tahun mengandalkan keahliannya untuk mengais rupiah demi menghidupi keluarganya.
“Belajar sendiri, kita cuma sekolah SD,” ungkap lelaki yang memakai topi abu-abu.
Pekerjaannya sebagai tukang servis jam memanglah tak menentu. Omzet setiap hari tak dapat diprediksi.
Kadang ramai, kadang sepi bahkan pernah tidak ada omzet selama sehari.
"Kalau ramai ya bisa dapat Rp200.000 sehari, paling sedikit itu pernah dapat Rp15.000, bahkan pernah gak ada sama sekali," katanya dengan nada sedikit sendu.
Heri (49) sempat merasakan masa kejayaan. Pelanggannya ramai.
Omzetnya lancar. Tapi tak bertahan lama, pendapatannya kian hari semakin melempem. Pelanggannya satu per satu tak lagi menggunakan jasanya.
Seiring berjalannya waktu, pelanggannya memang berangsur turun.
Namun caranya agar tetap bertahan ialah dengan memberikan pelayanan terbaik terhadap pelanggannya.
"Kepada pelanggan itu harus ramah, dan servisnya juga harus benar-benar teliti, jadi mereka balik lagi nanti," ungkapnya.
(Bangkapos.com/Akhmad Rifqi Ramadhani)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220319-jam.jpg)