Senin, 1 Juni 2026

News Analisis

Parental Burnout Jadi Faktor Utama Kekerasan Anak

Para orang tua terkadang lupa untuk mengontrol emosinya saat mengasuh anak mereka. Secara tidak sadar ia telah melakukan tindak kekerasan pada anak.

Tayang:
Penulis: Cepi Marlianto |
sriwijaya post
ilustrasi 

Kekerasan dilakukan dengan tujuan agar istri dapat memenuhi harapannya tanpa melakukan perlawanan karena ketidakberdayaan.

“Fenomena ini juga masih menjadi salah satu dasar budaya dalam masyarakat bahwa jika perempuan atau istri tidak menurut, maka harus diperlakukan secara keras agar ia menjadi penurut,” tuturnya.

Pada dasarnya manusia hidup memang penuh persaingan dan tidak pernah mau kalah, begitu pun dengan sepasang suami dan istri. Persaingan antara suami dan istri terjadi akibat ketidaksetaraan antara keduanya untuk saling memenuhi keinginan masing-masing, baik dalam pendidikan, pergaulan, penguasaan ekonomi, keadaan lingkungan kerja dan masyarakat dapat menimbulkan persaingan yang dapat menimbulkan terjadinya KDRT.

Hal lain ialah masalah psikologis seperti frustrasi. Kekerasan juga dapat terjadi akibat lelahnya psikis yang menimbulkan frustrasi diri dan kurangnya kemampuan coping stress suami.

Frustrasi timbul akibat ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan yang dirasakan oleh suami terlebih misalkan maslah pekerjaan semasa pandemi.

Hal ini misalkan ketidakmampuan dalam mengelola psikologis atau emosi dengan baik maka frustrasi tadi akan di akhiri dengan kekerasan, menyimpang dan lain sebagainya.

Adanya kesempatan yang kurang bagi perempuan dalam proses hukum dalam mempelajari kasus KDRT turut memperparah adanya kekerasan terhadap perempuan.

“Misalkan saja ketika ada aduan maka cenderung lama mengambil sikap,  karena anggapan ujung-ujungnya pasti akan rujuk atau yang lain,” katanya.

 

Wahyu mengatakan, terkait dampak yang akan dialami oleh objek kekerasan baik anak dan perempuan dapat dipastikan akan memiliki bekas secara fisik seperti luka lebam, memar dan lain sebagainya.

Selain itu memiliki trauma psikologis yang cukup lama karena rerata korban KDRT membutuhkan waktu lama dalam penyembuhannya.

Sehingga jika tidak tertangani dengan baik akan berujung pada depresi misal baik depresi ringan sampai kepada yang berat dan akan menyimpan trauma ini begitu lama dan boleh jadi akan takut, cemas, fobia.

Perilaku tak wajar dan diulangi pada objek baru. Misalkan  anak dengan korban KDRT akan ada masa fiksasi atau mengalami pola akan mengulangi kejadian yang dialami masa kecil dengan objek baru.

Jika dia memiliki anak maka perlakuan pada anaknya akan sama dilakukan dan akan diulangi sampai ia merasa perlakuan ini sama dan dia akan puas.

“Merasa tidak berdaya dan seolah oleh  generasi semua orang tua adalah jahat semua laki-laki adalah kasar dan akan membentuk believe atau keyakinan yang salah,” ujar Wahyu.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved