Kamis, 9 April 2026

Tribunners

Melestarikan Budaya Nusantara Melalui Etnomatematika

Tudung saji dapat kita jadikan media dalam mempelajari matematika materi lingkaran.

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Silvia Dwi, S.IP, S.Pd. - Guru SD Negeri 6 Pangkalpinang 

MATEMATIKA memiliki peran yang penting dalam kehidupan. Matematika merupakan muatan pelajaran wajib yang ada dalam kurikulum di sekolah. Penguasaan dalam mempelajari matematika akan menjadi bekal dalam menghadapi tantangan abad ke-21.

Tuntutan kemampuan siswa dalam matematika tidak sekadar memiliki kemampuan berhitung saja. Kemampuan bernalar yang logis dan kritis dalam pemecahan masalah menjadi sangat penting untuk dapat dikuasai siswa. Pemecahan masalah ini tidak semata-mata masalah yang berupa soal rutin saja. Memasukkan permasalahan sehari-hari dalam ruang matematika menjadi penting untuk diimplementasikan.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA), kemampuan numerasi matematika siswa di Indonesia masih rendah. Indonesia berada di bawah rata-rata internasional. Tidak hanya itu, mayoritas siswa hanya dapat menyelesaikan masalah di bawah level 2.

Berdasarkan laporan PISA (Programme International for Student Assessment) tahun 2019, skor membaca Indonesia ada di peringkat 72 dari 77 negara, skor matematika ada di peringkat 72 dari 78 negara, dan skor sains ada di peringkat 70 dari 78 negara. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari betapa pentingnya literasi matematika untuk diterapkan siswa pada zaman era 4.0 saat ini.

Masalah kritis yang harus diatasi dalam pembelajaran matematika salah satunya adalah kurangnya kebebasan siswa selama pembelajaran. Miskonsepsi terkait tujuan pembelajaran matematika menjadi hal yang harus diluruskan, baik bagi siswa maupun bagi guru. Siswa hanya belajar matematika dengan tujuan agar dapat mengisi soal ulangan atau ujian sehingga fokus belajar siswa terbatas pada menghafal dan menerapkan rumus. Ketika ulangan atau ujian berakhir, proses belajar dianggap lengkap. Seharusnya, belajar merupakan proses yang dapat mengarahkan siswa untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan nyata yang sangat bervariasi dan kompleks.

Kreativitas guru dalam pembelajaran sangat dibutuhkan. Siswa perlu difasilitasi agar dapat memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi dan mampu menggunakan nalar matematika untuk memecahkan sebuah persoalan.
Etnomatematika, budaya dalam matematika

Etnomatematika merupakan salah satu wujud pengintegrasian nilai budaya dan numerasi dalam pembelajaran matematika. Melalui pendekatan etnomatematika, budaya yang ada di sekitar siswa digunakan dalam pembelajaran matematika. Praktik budaya tersebut dapat menanamkan konsep, ide, dan aktivitas matematika seperti menghitung/membilang, mengukur, mengelompokkan, merancang bangun, dan aktivitas bernalar lainnya.

Salah satu bentuk pengintegrasian pendidikan karakter dalam pembelajaran yakni dengan melibatkan unsur budaya, khususnya kearifan lokal dalam pembelajaran di sekolah. Pengintegrasian ini diharapkan agar siswa menjadi generasi yang berkarakter dan mampu menjaga serta melestarikan budaya sebagai landasan karakter bangsa. Penanaman nilai budaya penting dilakukan sejak dini pada setiap individu, termasuk pada siswa.

Nilai-nilai kearifan lokal yang terus tergerus seiring globalisasi saat ini, hendaknya menjadi perhatian bagi para pendidik dalam memelihara nilai kearifan lokal agar tetap lestari. Pengintegrasian nilai budaya pada muatan pelajaran, termasuk matematika menjadi sebuah cara dalam membentuk karakter siswa untuk memahami nilai-nilai budaya daerahnya. Dengan pengintegrasian budaya pada muatan pelajaran, maka siswa akan semakin mengenal, menghargai, serta menyadari pentingnya nilai budaya dalam kehidupan.

Pendekatan etnomatematika pada pembelajaran matematika dapat memberikan makna kontekstual bagi siswa. Pendekatan ini dapat membangkitkan daya pikir siswa yang cepat tanggap dengan contoh nyata yang diambil sebagai studi kasus pada pembelajaran matematika dengan bekal pengetahuan siswa tentang budaya yang ada di lingkungan sekitarnya. Motivasi dalam belajar pun dapat tumbuh. Dengan demikian, matematika bukan lagi pelajaran yang menyeramkan, tetapi merupakan pelajaran yang menyenangkan.

Disposisi positif matematika dalam etnomatematika

Disposisi positif matematika artinya siswa memahami manfaat langsung ilmu matematika serta implementasinya dalam kehidupan sehari-hari dengan etnomatematika. Hal ini akan berpengaruh pada peningkatan kemampuan matematika siswa dalam pemecahan masalah sehari-hari yang berhubungan dengan matematika. Dengan pembelajaran matematika berbasis budaya (etnomatematika) akan memberikan dampak yang simultan bagi siswa dalam mengenal budayanya dan sekaligus belajar matematika. Para siswa akan makin mencintai budayanya sehingga budaya daerah dapat dilestarikan.

Banyak hal yang bisa dieksplorasi terkait budaya lokal dalam matematika. Contohnya budaya lokal di Bangka Belitung. Banyak contoh kearifan lokal yang bisa menjadi media dalam mempelajari matematika yang lebih kontekstual. Misalnya tudung saji. Tudung saji dapat kita jadikan media dalam mempelajari matematika materi lingkaran. Siswa dapat mengenali tudung saji, menghitung jari-jari, diameter, keliling, dan luas lingkaran dari tudung saji tersebut.

Kain batik cual juga bisa dijadikan media dalam pembelajaran matematika terkait materi pencerminan. Siswa dapat belajar terkait materi rotasi, dilatasi, dan sebagainya sehingga mereka dapat memecahkan masalah matematika secara riil.

Eksplorasi budaya lokal lainnya bisa juga dilakukan pada tempat-tempat yang memiliki nilai budaya. Taman Sari, Alun-Alun Taman Merdeka, stadion, tempat pariwisata seperti pantai, air terjun, hutan mangrove, dan tempat budaya lainnya yang ada di sekitar siswa dapat dimanfaatkan sebagai media dalam mempelajari matematika.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved