Jumat, 24 April 2026

Takut Studi Dipersulit, Mahasiswa S2 Ini Rela Jadi Budak Nafsu Ibu Dosen, Kisahnya Hebohnya

Satu kasus yang sempat mengemparkan dunia, adalah kasus pelecehan yang dialami mahasiswa asal jepang.

Editor: M Zulkodri
Paxels
Ilustrasi pelecehan 

Namun, pihak universitas mengesampingkan komplain tersebut dengan dalih perbuatan sang dosen 'bukan merupakan tindakan ilegal layaknya pelecehan'.

Kehabisan pilihan, pemuda ini beralih ke pengadilan.

Baca juga: Inilah Waktu yang Tepat Mendirikan Sholat Tahajud Selama Bulan Puasa Ramadhan

Baca juga: Inilah Agama yang Paling Banyak Dianut di Rusia dan Ukraina

Ia menuntut sang dosen atas tindakan pelecehan seksual dan meminta uang kompensasi sebesar 7 juta Yen atau sekitar 817 juta Rupiah.

Universitas Waseda menyampaikan pernyataan resmi mengenai perkara ini pada 25 Maret 2022.

Menurut pernyataan tersebut, pihak universitas tidak akan mengizinkan tindakan pelecehan ataupun tindakan ilegal lain terjadi di dalam kampus.

Oleh karena itu, mereka janji akan melaksanakan investigasi yang menyeluruh.

Terakhir dikabarkan, pengadilan masih berproses dan belum ada keputusan yang pasti mengenai nasib kedua pihak yang bersangkutan.

Sebagai informasi dilansir dari Kompas.com, pandemi Covid-19 membuat pusat-pusat dukungan di Jepang dihubungi lebih dari 23.000 kali oleh para korban kekerasan seksual antara April dan September.

Jumlah tersebut naik 15,5 persen secara tahunan, seperti disampaikan media setempat, mengutip pernyataan seorang menteri di Kabinet Jepang pada Jumat (6/11/2020).

Dalam sebuah konferensi pers terkait hal itu, Seiko Hashimoto, menteri yang bertanggung jawab atas kesetaraan gender, mengatakan pusat-pusat dukungan didirikan di setiap 47 prefektur di Jepang.

Fasilitas tersebut berfungsi untuk membantu para korban kekerasan seksual yang melapor lewat telepon, surat elektronik (e-mail), atau datang langsung yang totalnya mencapai 23.050 kali, lapor Kyodo News.

"Lebih banyak orang perlu memahami berapa banyak wanita yang menjadi korban kekerasan seksual di tengah pandemi Covid-19, dan pemerintah harus memberi dukungan kepada mereka secara memadai," ujar sang menteri dalam konferensi pers tersebut.

Sebagian besar kontak yang dilakukan oleh para korban ke pusat dukungan itu pada Agustus tercatat 4.456 kasus, naik 895 dibandingkan bulan yang sama tahun lalu sebagaimana dilansir dari Xinhua.

(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved