Horizzon

Aib di Antara Beluluk dan Namang

Kita harus memahami, petugas kepolisian atau penegak hukum mana pun harus dipahami sebagai representasi negara dalam setiap tugas yang dijalankan.

Editor: suhendri
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr/Pemred BANGKA POS GROUP 

JARAK antara Desa Beluluk dan Namang tidaklah begitu jauh. Jika ditempuh menggunakan mobil, kira-kira hanya sekitar 10-20 menit dengan kecepatan sedang.

Tidak ada yang aneh sebenarnya antara dua desa yang sama-sama ada di wilayah Kabupaten Bangka Tengah ini. Kalaupun di dua desa ini sama-sama berdiri SPBU, mungkin itu juga kebetulan belaka.

Apalagi jika memperhatikan jarak, berdirinya SPBU di kedua desa tersebut cukup visibel, baik dilihat dari sisi bisnis maupun sisi memberikan layanan kepada masyarakat, utamanya pengguna jalan yang membutuhkan layanan tersebut.

SPBU Namang yang memiliki register 24-336142 sempat menjadi buah bibir di publik Bangka Belitung. Ini lantaran adanya insiden yang cukup memalukan bagi upaya penegakan hukum.

Bagaimana tidak, enam anggota polisi dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Bangka Belitung yang tengah melakukan operasi yustisi di SPBU tersebut dianiaya oleh sekelompok orang.

Peristiwa ini terjadi pada Senin (25/4/2022) malam, di mana petugas kepolisian ini tengah melakukan penindakan terhadap dugaan penyelewengan penyaluran BBM bersubsidi justru harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka akibat penganiayaan.

Enam anggota polisi dilaporkan mengalami luka cukup serius dan harus dilarikan ke RS Siloam dan RSBT untuk mendapatkan pertolongan awal. Bahkan kabar beredar, satu dari enam anggota polisi tersebut kondisinya cukup mengkhawatirkan.

Informasi ini tentu menjadi kabar duka bagi upaya penegakan hukum. Di mana enam petugas yang berdinas atas nama negara harus mengalami penganiayaan. Kesan pertama yang muncul adalah negara seakan-akan tak punya kuasa untuk menjalankan tugasnya.

Kita harus memahami, petugas kepolisian atau penegak hukum mana pun harus dipahami sebagai representasi negara dalam setiap tugas yang dijalankan. Ini berlaku dari mulai hal-hal yang besar hingga hal-hal yang sederhana sekalipun, termasuk razia lalu lintas. Petugas yang tengah bertugas di lapangan adalah representasi negara.

Baca juga: Malu Kena Tilang, Tetapi Lebih Memalukan Tidak Mau Ditilang

Namun insiden yang terjadi di SPBU Namang pada Senin (25/4/2022) bukan hanya menunjukkan bagaimana negara kalah. Lebih dari itu, insiden di Namang seakan-akan menampar muka dan mempermalukan negara, yang seakan-akan tak berdaya menghadapi perlawanan yang bisa dipastikan dari oknum-oknum yang melawan kebijakan negara.

Terlebih-lebih, Polda Babel seakan-akan memilih diam dan menyembunyikan insiden ini dari publik. Institusi Polda Babel terkesan menyembunyikan kasus ini dan tidak berani standing untuk bersikap tegas atas nama negara.

Kasus itu yang menunjukkan lemahnya penegakan hukum hanya diserahkan kepada pejabat setingkat Kabid Humas untuk memberikan pernyataan resmi kepada publik. Bahkan dalam memberikan atribusi kepada pelaku, polisi juga seolah-olah mengambil pilihan aman dengan menyebut sekelompok orang-orang terlatih.

Standing Polda Babel dalam menyikapi kasus SPBU Namang seolah-olah menunjukkan bagaimana mereka begitu determinan sebagai panglima yang paling bertanggung jawab atas keamanan dan ketertiban di Bangka Belitung.

Jika ini dibiarkan, bagaimana publik Bangka Belitung akan bisa percaya kepada institusi ini? Namun Polda Babel seolah-olah membiarkan ini seperti aib yang harus ditutupi, sementara publik sebenarnya sudah tahu siapa orang-orang yang melakukan pengadangan terhadap enam anggota Ditkrimsus Polda Babel tersebut.

Sikap polisi yang diam terhadap kasus ini sama dengan membiarkan publik berpikir liar terhadap kasus tersebut. Banyak praduga yang muncul di masyarakat tentang sikap polisi yang ambigu ini.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved