Sabtu, 2 Mei 2026

Warga Sumatera Utara ini Terjebak di Ukraina, Sembunyi dari Pasukan Vladimir Putin di Bunker

Sembilan pekerja Indonesia pabrik, dua rekan Nepal mereka dan seluruh staf Ukraina berkumpul di lantai pabrik, bertanya-tanya apa yang harus mereka...

Tayang:
KOMPAS.COM/DEWANTORO
Rutami sambil membawa foto anaknya, M. Raga Prayuda (22) menangis karena anaknya menderita di Ukraina. Anaknya bersama dengan 8 WNI lainnya yang merupakan warga Kota Binjai dan Langkat masih belum bisa dievakuasi karena perang Rusia - Ukraina. 

Satu dari WNI yang masih bertahan adalah anak dari Rutami.

Rutami membawa foto anaknya saat telekonferensi dengan pihak Duta Besar Indonesia untuk Ukraina di Binjai Command Center (BCC) Balai Kota Binjai pada Senin (7/3/2022) siang.

Ia mengaku sedih, karena mengetahui kondisi sang anak tidak akan dan dalam gempuran ledakan bom Rusia.

"Ini kan kami lagi ada video call. Tiba-tiba dia teriak lari, lari, ada bom meledak. Kami dengar semua. Makanya kami sedih," katanya sambil menangis sesenggukan dan mengusap air matanya dengan kain kerudungnya.

Rutami menuturkan bahwa sang anak sudah bekerja di Ukraina sejak tahun 2019.

Selama perang terjadi, dia intens berkomunikasi dengan anaknya melalui WhatsApp call.

Sang anak, Raga Prayuda diketahui kerap membagikan kondisi Ukraina di tengah gempuran militer Rusia.

Raga mengaku pada Rutami ia selalu mengunggah kondisi Ukraina di laman Facebooknya, agar bisa menjadi bukti penderitannya selama di sana.

"Saya bilang, jangan di-Facebook-kan, nanti kau diejek, dia bilang, enggak apa-apa Mak. Biar orang tahu penderitaan kami di sini. Itu hancur perasaan kami. Berarti anak saya di sana menderita, dia anak baik Pak. Saya enggak punya harta selain dia," katanya.

(*)

Artikel ini telah tayang di TribunSolo, Kompas.com dan Tribunnews.com

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved