Benarkah Makan Jeroan Bisa Picu Kolesterol Tinggi? Ini Kata dr Dina Oktaviani
Dokter Dina Oktavian mengedukasi para viewersnya untuk berhati-hati akan makanan jeroan dan daging-dagingan agar tidak memicu kolestrol tinggi
Penulis: Nur Ramadhaningtyas | Editor: Dedy Qurniawan
BANGKAPOS.COM - Jeroan adalah salah satu makanan yang tak asing dikonsumsi orang Indonesia.
Sebut saja, menu soto babat, sup lidah sapi, gulai otak, paru-paru goreng, atau satai hati ampela.
Selain rasanya yang enak, jeroan juga memiliki banyak nutrisi yang baik bagi tubuh.
Melansir Buku 35 Resep Masakan Olahan Hati & Ampela Ayam (2010) oleh Lilly T. Erwin lewat Kompas.com, jeroan merupakan bahan pangan yang mengandung cukup banyak gizi, seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral.
Vitamin yang terdapat pada jeroan adalah vitamin B kompleks, vitamin A, vitamin B12, dan asam folat.
Untuk mineral, ada zat besi, kalsium, kalium, magnesium, fosfor, dan seng yang terkandung di dalam jeroan.
Kandungan vitamin B12 pada jeroan sebenarnya dapat mengurangi potensi gangguan sistem kerja sel-sel saraf sehingga mampu mengoptimalkan fungsi sel-sel saraf, termasuk menurunkan risiko terjadinya gangguan memori pada otak.
Baca juga: Ramuan Herbal untuk Mengatasi Kolesterol, Simak Penjelasan dr Zaidul Akbar
Sementara itu, kandungan seng dan vitamin A pada jeroan, khususnya hati, baik untuk memelihara kesehatan jaringan epitel, termasuk endothelium pembuluh darah.
Kandungan asam folat dan zat besi juga menjadikan jeroan baik untuk mencegah anemia.
Meski begitu, jeroan ternyata tidak baik jika dikomsumsi terlalu banyak.
Apalagi bagi orang yang memiliki riwayat penyakit kolesterol.
Dokter Dina Oktaviani lewat akun TikTok-nya mengedukasi para followers untuk berhati-hati akan makanan jeroan dan daging-dagingan agar tidak memicu kolesterol tinggi.
Dikatakannya untuk mencegah kolesterol tinggi bisa dengan memperbanyak makan makanan yang mengandung serat dan rutin berolahraga.
Ia juga menyarankan viewers TikTok-nya untuk menghindari rokok dan alkohol.
Kolesterol total diklasifikasikan tinggi saat lebih dari 240 mg/dL dan baiknya kurang dari 200 mg/dL.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220603-ilustrasi-babat.jpg)