Rabu, 17 Juni 2026

Tribunners

Jejak Bung Karno di Pulau Timah

Tatkala Bung Karno dan Haji Agus Salim tiba, sambutan masyarakat Bangka begitu semarak

Tayang:
Editor: suhendri
ISTIMEWA
Irwanto 

Oleh: Irwanto - Pranata Humas Pemprov Babel

6 Juni diperingati sebagai hari lahir Bung Karno. Pendiri negara dan proklamator kemerdekaan ini lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur. Sebagai tokoh besar bangsa ternyata Bung Karno juga menyimpan jejak di Kepulauan Bangka Belitung atau Pulau Timah.

Nama besar Bung Karno tak hanya dikenal lewat nama Jalan Soekarno-Hatta di Kota Pangkalpinang saja, namun terpatri juga sebagai nama rumah sakit umum daerah milik Pemprov Kepulauan Bangka Belitung. Patung Bung Karno dan Bung Hatta juga telah berdiri gagah di Kota Muntok yang diresmikan oleh Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2 Juli 2000 lalu.

Namun sebetulnya nama besar Bung Karno telah lama berkibar di Pulau Timah. Bahkan saat ia masih hidup sehingga meninggalkan jejak mendalam bagi masyarakat Babel. Bung Karno dan sejumlah pemimpin bangsa lainnya pernah diasingkan Belanda di Muntok Bangka sehingga bagi Bung Karno Bangka adalah rumahnya sendiri.
Berdasarkan catatan sejarah, pada 19 Desember 1948 secara mendadak Belanda menyerang Lapangan Terbang Maguwo. Pasukan payung diterjunkan. Bom dijatuhkan di ibu kota Republik Indonesia, Yogyakarta. Belanda berhasil menguasai Negara RI.

Pada 20 Desember 1948, Panglima Militer Belanda minta Presiden Soekarno mengumumkan gencatan senjata namun ia menolak kendati Bung Karno dan pemimpin lainnya sudah ditawan Belanda. Sementara itu, Jenderal Sudirman beserta pasukan TNI menyingkir ke luar kota. Mereka melancarkan aksi perang gerilya. Adapun Menteri Urusan Ekonomi Sjafruddin Prawiranegara yang kebetulan berada di Bukittinggi segera memimpin pemerintahan darurat di sana.

Pada 28 Desember 1948, Wakil Presiden Bung Hatta, Mr. Assaat, Sekretaris Presiden AG Priggodigdo dan Panglima AURI Suryadarma disingkirkan atau ditawan Belanda ke Pulau Bangka. Tak lama kemudian menyusul Ali Sastroamidjojo dan Mohammad Roem.

Sementara itu, Bung Karno, Haji Agus Salim, dan Sutan Sjahrir awalnya dibuang Belanda ke Brastagi dekat Danau Toba, Sumatera Utara. Kemudian awal Februari 1949, mereka diterbangkan ke Pulau Bangka bergabung dengan Bung Hatta di Muntok.

Waktu itu 6 Februari pesawat Catalina mendarat di muara Sungai Pangkalbalam Pangkalpinang. Dengan kapal motor mereka dijemput dan dibawa ke pelabuhan. Namun Bung Sjahrir tak kelihatan. Dia ditempatkan Belanda di Jakarta.

Tatkala Bung Karno dan Haji Agus Salim tiba, sambutan masyarakat Bangka begitu semarak. Mereka menyerbu dan berebutan menyalami sekaligus memeluk kedua pemimpin itu. Rakyat begitu antusias, bersemangat, dan tak dapat dibendung oleh oleh kawalan petugas keamanan.

Tetapi ada juga yang kecewa lantaran menunggu di Lapangan Terbang Kampung Dul. Mereka menyangka Bung Karno mendarat di sana (AA Bakar, Kenangan Manis dari Menumbing--Ketika Pemimpin Bangsa Dibuang ke Bangka, Balai Pustaka, 1993).

Semula telah disiapkan sebuah mobil sedan Plymouth warna putih BN 2. Tetapi Bung Karno tidak mau duduk di dalam. Ia ternyata lebih suka duduk di sepatbor mobil. Tentu ini untuk memuaskan rakyat yang telah menyambut dan memenuhi sepanjang jalan. Kadang kala mesin mobil dimatikan. Mobil berjalan perlahan-lahan hanya didorong para pemuda.

Setelah istirahat sekaligus makan siang di rumah Ketua Dewan Bangka Masyarif, Bung Karno dan Haji Agus Salim beserta rombongan langsung dibawa ke Muntok yang berjarak 138 km dari Pangkalpinang. Penduduk Kota Muntok sendiri sengaja menunggu kedatangan Bung Karno di Pal I kawasan pinggiran kota. Karena tidak ada kepastian pukul berapa Bung Karno tiba, maka ada yang menunggu sejak tengah hari. Seperti di Pangkalpinang, kehadiran Bung Karno di Muntok disambut hangat oleh masyarakat.

Di Muntok, mereka ditempatkan di dua tempat yang berbeda. Rombongan Bung Hatta, Mr. Assaat, Suryadarma, dan Pringgodigdo di Pesanggrahan puncak Bukit Menumbing, sedangkan rombongan Bung Karno, Haji Agus Salim, Ali Sastroamidjojo, dan Mohammad Roem ditempatkan di pesanggrahan perusahaan timah Wisma Ranggam di Kota Muntok yang tak jauh dari pasar dan pelabuhan.

Kondisi Pesanggrahan Bukit Menumbing sangat mengenaskan. Sekeliling dinding gedung dilingkari kawat berduri. Hawanya dingin dan lembap. Di luar gedung penjagaan sangat ketat.

Ruang gerak mereka pun sangat terbatas. Hanya seluas 4x6 meter. Pernah Bung Hatta dan pemimpin lainnya ditawari kebebasan bergerak di Pulau Bangka dengan kompensasi bersedia menandatangani pernyataan menarik diri dari kegiatan politik. Tentu saja tawaran itu ditolak mentah-mentah (Mavis Rose, Biografi Politik Mohammad Hatta).

Sumber: bangkapos
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
3 - 1
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
1 - 4
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
VS
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
VS
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved