Rabu, 17 Juni 2026

Tribunners

Jejak Bung Karno di Pulau Timah

Tatkala Bung Karno dan Haji Agus Salim tiba, sambutan masyarakat Bangka begitu semarak

Tayang:
Editor: suhendri
ISTIMEWA
Irwanto 

Sebaliknya, Bung Hatta memutuskan Belanda harus mengakui mereka adalah pemimpin pemerintahan. Bukan pemberontak pribumi. Ia mendesak pemimpin lainnya agar mengambil sikap berwibawa, antara lain, harus berpakaian rapi setiap keluar kamar dan tidak boleh mengenakan piama atau sarung.

Pada saat anggota Komisi Jasa Baik datang, mereka sangat terkejut melihat kondisi pemimpin RI yang ditawan. Apalagi salah seorang anggota yang bernama Critchley merupakan sahabat Bung Hatta sejak di Yogyakarta. Sekembalinya Komisi Jasa Baik ke Jakarta, mereka langsung membuat laporan pendek ke Markas Besar PBB di New York. Dalam beberapa jam laporan itu sudah menyebar dan terekspose ke seluruh penjuru dunia, termasuk negara-negara sahabat.

Tentu saja dunia internasional jadi geger. Kecaman keras datang bertubi-tubi. Selama ini Belanda memberi kesan bahwa Resolusi PBB untuk membebaskan para tawanan di Pulau Bangka telah dilaksanakan. Dr. Van Roijen, juru bicara Belanda di PBB terpaksa minta maaf. Belanda berjanji akan bertindak kooperatif dan memperlunak sikapnya.

Oleh Sebab itu, dalam kurun waktu Januari hingga 6 Juli 1949, Pulau Bangka menjadi pusat perhatian dunia. Di Pulau Timah ini diplomasi tingkat internasional kerap digelar. Menteri-menteri Negara BFO, pejabat Belanda, Komisi Jasa Baik, dan wartawan dari mancanegara datang silih berganti.

Bung Karno sendiri dalam buku biografinya "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" yang ditulis Cindy Adams menuturkan, "Aku telah ditahan selama beberapa bulan di Pulau Bangka, ketika keadaan semakin sulit buat Belanda. Mereka menyampaikan pesan bahwa mereka ingin melakukan musyawarah."

Selanjutnya Bung Karno juga menuturkan, "Demikianlah mulai sebuah prosesi panjang dari para diplomat dan kurir yang pergi-pulang ke Mentok, kota tambang timah yang sunyi di Pulau Bangka. Kompromi terakhir dari persetujuan Rum-Royen berlangsung di meja dapurku di rumah instansi perusahaan tambang di mana aku tinggal."

Terlepas dari perjuangan gerilya dan gerakan lainnya, maka ada yang mencetuskan istilah, "Dari Bangka Datangnya Kemenangan" atau dalam bahasa Belanda, "Van Bangka Begint de Victorie". Hal ini diakui juga oleh AA Bakar dan Mohammad Roem (Diplomasi, Ujung Tombak Perjuangan RI hal.62-63).

Rakyat Bangka sendiri waktu itu sangat mendukung penuh para pemimpin dan kemerdekaan Republik Indonesia. Mengenai sikap patriot rakyat Bangka ini Bung Karno, antara lain, menulis, "Rakyat Bangka nyata bersemangat republiken, nyata berkehendak Bangka masuk dalam daerah Republik. Seorang pemimpin rakyat Bangka yang tidak berbuat sesuai dengan kehendak rakyat Bangka itu, dan berbuat memisahkan rakyat Bangka dari Republik, adalah berbuat bertentangan dengan demokrasi, bahkan menghianati demokrasi itu".

Bung Karno memang mencintai rakyat Bangka yang bersikap mendukung penuh perjuangan para pemimpin dan kemerdekaaan RI. Bahkan sikap keras Belanda terhadap para pemimpin itu ternyata tak membuat Bung Karno jauh dari rakyat. Malah Bung Karno terlihat selalu riang bersemangat.

Wisma Ranggam selalu ramai dikunjungi rakyat dari berbagai kalangan dan beberapa daerah. Apalagi Bung Karno pandai merancang acara menarik yang melibatkan rakyat banyak.

Selain itu Bung Karno juga membina kegiatan olahraga di kalangan pemuda, mengajak rekreasi ke pantai, menikahkan pemuda pemudi, dan menggelar ceramah. Ia juga kerap diundang menghadiri pertemuan dengan rakyat di luar Muntok. Untuk itu di Pangkalpinang telah disediakan rumah untuk menginap (sekarang gedung Museum PT Timah Tbk).

Di Pulau Bangka pula bendera pusaka Republik Indonesia pernah disimpan saat Bung Karno ditawan Belanda. Setidaknya keberadaan bendera pusaka ini pernah diungkapkan oleh almarhum Hadi Muchtar yang juga suami Isnawati Hadi, penggiat dan pengusaha kain cual Bangka.

Menurut Hadi, berdasarkan kisah dari ayah dan kerabatnya, saat di Pulau Bangka Bung Karno mempunyai beberapa orang kepercayaan di kalangan pemuda, termasuk Yusuf Rasidi (Kenangan saat Bendera Pusaka Disimpan di Bangka, Majalah Pemkot Pangkalpinang edisi Juli 2005). Suatu ketika Yusuf dipanggil Bung Karno. Dia mendapat tugas penting, yakni menyimpan bungkusan berisi bendera pusaka. Bung Karno berpesan agar bendera pusaka tersebut jangan sampai jatuh ke tangan Belanda.

Yusuf yang dinikahkan oleh Bung Karno dengan Soleha binti Said Yazan akhirnya menjaga amanah itu dengan baik. Bendera pusaka disimpannya dengan hati-hati di antara lipatan baju yang terletak di rak pakaian.
Selama beberapa waktu bendera pusaka itu tersimpan aman hingga dimintakan kembali oleh Bung Karno saat akan kembali ke Yogyakarta. Anak pertama Yusuf yang lahir pada 15 Juni 1950 sempat diberi nama Nurmarhaeni oleh Bung Karno.

Selain Yusuf, banyak lagi pemuda dan pemudi Bangka yang dipercayai oleh Bung Karno selama ditahan Belanda di Muntok, antara lain, almarhumah RA Indrawati. Ibunda dari Pj Gubernur Babel Ridwan Djamaluddin ini lahir pada 22 Oktober 1929. Semasa remaja RA Indrawati aktif menjadi anggota Palang Merah TKR dan Persatuan Wanita Indonesia (Perwani).

Sumber: bangkapos
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
3 - 1
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
1 - 4
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
3 - 0
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
Live
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved