Horizzon

Selamatkan Polisi yang Babak Belur

Terakhir, kita hanya bisa berdoa, semoga Kepolisian Republik Indonesia mampu melewati ini semua dan mengakhirinya dengan ksatria

Editor: suhendri
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP 

Potongan kisah ini makin lengkap manakala kuasa hukum keluarga Brigadir J mencatatkan ke akta notaris sejumlah catatan dan rekaman pembicaraan selama proses autopsi kedua yang dilakukan terhadap jenazah Brigadir J.

Melalui dua dokter yang mewakili keluarga di autopsi tersebut, kita seperti dipertontonkan pada kengerian yang luar biasa atas fakta-fakta di balik kematian seorang polisi bernama Brigadir Josua. Tak perlu terlalu detail, cukup sebuah catatan bahwa otak almarhum pindah ke perut, ada lubang di bagian kepala yang kemudian ditutup dengan lem.

Selain itu, dua organ jenazah yang tak ditemukan, yaitu pankreas dan kantong kemih yang tidak ditemukan sampai sekarang. Satu lagi, selain luka tembak juga ditemukan sejumlah luka terbuka di sejumlah bagian tubuh dan sejumlah tulang yang retak dan misposition.

Catatan tersebut tentu tak cocok dengan skenario awal yang menyebut bahwa kematian Brigadir J lantaran baku tembak dengan Bharada Eliezer. Catatan dalam autopsi kedua ini menguatkan dan mengantarkan kita semua untuk berimajinasi liar atas skenario di balik kematian Brigadir J.

Lantaran spekulasi tersebut tak segera dijawab dengan lugas dan logis oleh sebuah institusi sebesar Polri, maka kita juga tak bisa melarang jika kemudian publik menganggap bahwa skenario baku tembak yang disebut polisi sebagai background kematian Brigadir J adalah bohong.

Ketidaklogisan yang nyata atas skenario baku tembak ini menjadi standing awal publik untuk tidak percaya kepada polisi terkait kasus ini. Ironisnya, ketidaklogisan skenario baku tembak ini menjadi titik awal 'gelombang tsunami' yang membawa sejuta spekulasi liar atas kasus Brigadir J.

Tidak hanya berhenti pada kasusnya, tsunami yang membuat polisi benar-benar babak belur ini juga mulai merembet ke hal-hal lain. Spekulasi mulai liar dan terus menggerogoti kepercayaan publik terhadap polisi yang pada survei terakhir angkanya cukup moncer, yaitu 80,2 persen publik percaya pada kinerja kepolisian.

Tak bisa dibendung, publik mulai menata puzzle apakah benar Ferdy Sambo memiliki kartu truf yang mampu mengunci pimpinan Polri sehingga tak berani tegas. Atau publik juga kembali mengorek luka lama pada kasus kilometer 50 yang tak pernah tuntas.

Harus jujur, apapun ending dari kisah Brigadir J ini benar-benar telah membuat polisi kita babak belur. Ibarat pepatah panas setahun, hujan sehari, kasus ini telah merontokkan muruah kepolisian yang dengan susah payah dibangun pelan-pelan.

Publik yang mulai percaya bahwa polisi sudah makin baik bukan hanya kembali ragu, tetapi benar-benar sudah tidak percaya. Kita tahu, hal paling elementer pada sebuah organisasi adalah pada proses kaderisasi.

Kita tahu dan harus tahu bahwa tidak semua polisi memiliki pandangan yang sama dengan apa yang menjadi kebijakan organisasi polisi. Kita harus percaya bahwa banyak di antara prajurit Bhayangkara yang sebenarnya marah dengan kasus ini.

Selain merontokkan kepercayaan publik terhadap kepolisian, kisah Irjen Ferdy Sambo feat Brigadir J ini juga membuat polisi-polisi di garda terdepan pelayanan tertampar mukanya, mereka malu dan kecewa dengan institusinya.

Butuh langkah konkret untuk menyelamatkan Kepolisian Republik Indonesia. Apapun alasannya, organisasi ini harus diselamatkan. Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo bahkan dengan lantang pernah mengatakan, jika tak mampu membersihkan ekornya, maka kepalanya yang akan dipotong. Pesan tersebut begitu kuat dan barangkali memungkinkan untuk diambil demi menyelamatkan institusi.

Terakhir, kita hanya bisa berdoa, semoga Kepolisian Republik Indonesia mampu melewati ini semua dan mengakhirinya dengan ksatria. Polisi pasti paham bahwa menciptakan rasa keadilan bagi publik adalah prioritas utama untuk mengurai dan menuntaskan episode Irjen Ferdy Sambo feat Brigadir J yang menjadi perhatian publik ini. (*)

Sumber: bangkapos
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved