Breaking News:

Tribunners

Menakar Pilihan Membaca Buku

Apa yang dikhawatirkan sebagai kiamat buku belum tiba. Penerbit buku cetak masih banyak yang eksis.

Editor: suhendri
Menakar Pilihan Membaca Buku
ISTIMEWA
Muhammad Mufti AM - Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bantul, DIY

Oleh: Muhammad Mufti AM - Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bantul, DIY

KEBERADAAN buku digital (e-book) menjadi tren membaca di era milenial. Betapa tidak, berbagai kemudahan berbekal perangkat gawai makin memanjakan masyarakat memilih alternatif bacaan. Di kalangan anak-anak daerah perkotaan, konten digital sudah bukan hal asing lagi. Semenjak pandemi Covid-19 melanda negeri kita, perangkat elektronik terhubung internet cukup berpengaruh terhadap intensitas online untuk kepentingan pembelajaran maupun hal lainnya, termasuk membaca buku.

Sayangnya, kondisi serupa tak berlaku buat masyarakat pelosok desa di sejumlah kawasan Indonesia. Buku bacaan tercetak masih merupakan barang langka akibat distribusi kurang merata. Apalagi belum semua tersentuh jaringan internet. Akhirnya, buku bacaan menjelma jadi hiburan menyenangkan. Pengalaman para penggiat literasi yang membagi-bagikan buku ke daerah membuktikan bahwa buku tercetak masih diminati dan ditunggu kehadirannya.

Di satu sisi, kemajuan dan perkembangan teknologi harus selalu diikuti supaya tidak gagap alias gaptek atau ketinggalan zaman. Di sisi lain, kehadiran teknologi tidak selalu membawa dampak positif, terutama bagi anak-anak. Maka kerap kita lihat, orang tua memarahi anak karena terlalu asyik bermain gawai lupa waktu. Membaca buku digital bukan alasan kuat orang tua percaya kepada anak yang sedang memegang gawai. Orang tua pasti merasa lebih tenang, mudah mengawasi ketika melihat anak membaca buku tercetak.

Para ahli menyarankan agar orang tua membiasakan anak-anak membaca buku cetak, bukan melalui perangkat gawai (online). Di samping bagus memacu perkembangan otak, buku cetak membantu melatih perkembangan saraf motorik. Beberapa aktivitas fisik membaca seperti mengamati, memegang, mengangkat, membalikkan halaman buku pasti ada. Oleh sebab itulah, buku disesuaikan kondisi dan usia anak.

Pilihan membaca

Perilaku masyarakat memang terus berubah mengikuti zaman. Namun, keberadaan buku cetak bukanlah sesuatu yang terbilang usang. Para penikmat buku, komunitas buku, penggiat taman bacaan, perpustakaan bergerak, serta aktivis literasi lain bermodalkan buku cetak masih cukup gencar menggelar kegiatan berbasis membaca. Bagi masyarakat berbudaya baca, membaca buku cetak atau buku digital adalah soal pilihan.

Platform penyedia buku digital di internet begitu menjamur bahkan gratis. Perpustakaan Nasional hingga perpustakaan daerah kabupaten/kota tidak mau ketinggalan menyediakan sarana akses buku digital. Sebut saja aplikasi semacam iPusnas, iJogja, iMagelang, iMadiun, dan berbagai aplikasi e-pusda lainnya. Tujuannya memberikan kemudahan serta mengakomodasi pilihan membaca masyarakat.

Kemajuan teknologi menjadikan segalanya serba mungkin, termasuk tersedianya jenis buku berbicara (audiobook). Cukup instal aplikasi, pasang headphone, lalu dengarkan. Buku tak perlu lagi ditenteng-tenteng. Buku sudah terkemas ringkas siap baca dalam perangkat gawai, baik terkoneksi internet maupun tanpa akses internet.

Saya pribadi lebih suka membaca dan mengoleksi buku cetak, tetapi juga tidak anti- buku digital. Kalau membaca dan menikmati keseluruhan buku, saya pilih buku cetak. Lebih sejuk dan bersahabat di mata. Buku digital saya pakai untuk pencarian informasi cepat semacam referensi menulis, menyusun materi presentasi, dan sejenisnya. Bukan konteks membaca menghabiskan isi buku. Lagi pula, menatap monitor terlalu lama membuat mata panas, perih, dan cepat lelah. Sementara itu, audiobook tidak begitu familier meski terkadang juga perlu.

Buku cetak cukup mampu membentuk karakter membaca keluarga saya. Di samping berbagai pengalaman masa lalu terkait buku, ada faktor emosional, sensasi, dan kenyamanan membaca turut memengaruhi mengapa saya suka buku cetak. Bukan mengejar simbol cerdas, status terpelajar, dipandang berpendidikan atau akademisi sebagaimana sering diungkapkan orang.

Sisi positif

Buku cetak dan buku digital mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Terlepas dari segala kekurangan, itu adalah pilihan membaca. Pilihan setiap orang tentu tak sama sehingga yang dilakukan pasti berbeda. Berikut beberapa hal positif buku cetak dan buku digital berdasarkan pengalaman pribadi yang saya rasakan.

Buku cetak memberikan sensasi fisik lain dibanding buku digital. Kita akan menikmati sensasi menyobek bungkus kemasan, mencium khas bau kertas buku baru, menyentuh dan meraba tekstur buku, memegang dan membalik-balik halaman buku. Buku cetak lebih ramah pada mata, terutama saat keinginan membaca habis keseluruhan isi buku muncul. Buku cetak mampu membangkitkan kenangan, baik kenangan tempat dan cara memperolehnya, atau pengalaman unik menyertai penggunaan buku.

Halaman
12
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved