Breaking News:

Horizzon

Molen dan Pangkalpinang

Molen dan Pangkalpinang adalah dua kata yang identik yang jika disebutkan satu, maka yang lain akan mengikuti. Ini adalah 'karma' bagi Molen

Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP 

MENGENAKAN celana pendek, kaus oblong dan sandal jepit, saya sengaja berniat untuk ikut berpesta di malam puncak peringatan HUT ke-265 Kota Pangkalpinang, Sabtu (17/9) malam.

Konser Budi Doremi yang menjadi jingle dari malam puncak 265 Tahun Kota Pangkalpinang ini serasa menjawab kerinduan kita semua setelah dua tahun lebih terpenjara basa-basi akibat Covid-19.

Sayangnya, meski sudah mengantisipasi sejak dari rumah memilih jalan kaki karena membayangkan akan bingung memarkir kendaraan, rupanya kenyataan yang terjadi jauh lebih parah dari apa yang saya pikirkan.

Ribuan manusia tumpah ruah di Alun-Alun Taman Merdeka untuk berpesta. Dibanding yang ada di lokasi panggung, saya pastikan lebih banyak orang yang berstatus sama dengan saya, yaitu gagal masuk ke panggung dan harus rela mengikuti pesta dari luar area panggung.

Saya dan tentu banyak orang yang lain sudah berupaya untuk menerobos di antara deretan tenda UMKM yang seolah-olah menjadi barier ke arah panggung, Namun, upaya itu tetap saja sia-sia. Terlalu banyak orang dan tak memungkinkan untuk memaksa masuk.

Di saat saya ragu antara pulang atau terus berusaha mencari peluang, saya terjeda dan menyempatkan diri memotret suasana lautan manusia yang barangkali 'kecewa' lantaran gagal ikut pesta.

Nah saat niatan pulang ini sudah bulat, saya menyempatkan mengirimkan foto tersebut ke Wali Kota Pangkalpinang, Bang Molen. 'Gile Abang nie....' itulah caption yang saya kirimkan bersamaan dengan foto ke ponsel wali kota.

Saya tidak berpikir bagaimana Bang Molen memaknai pesan itu dengan narasi gila di caption foto tersebut. Karena narasi gila itu bisa dimaknai dua, yang pertama suasananya yang memang gila atau bisa juga dimaknai dengan wali kota yang gila lantaran membuat orang yang haus dengan panggung harus kecewa lantaran gagal ikut pesta.

Saya tahu, ribuan orang yang berada di Alun-alun Taman Merdeka malam itu berebut jaringan sehingga saat mengirim pesan harus antre. Untuk itu, pesan yang aku kirim ke wali kota harus idle alias centang satu dan baru centang dua sekitar tengah malam.

Lagi-lagi, tanpa berpikir kemungkinan salah tafsir dengan narasi gila yang saya kirimkan, sekitar 00.30 pesan tersebut berbalas. Bang Molen hanya mengirimkan emoticon yang tentu akan saya tanyakan maknanya saat nanti ketemu langsung.

Saya hanya tahu, Bang Molen yang ada di tengah pesta bersama Budi Doremi dan ribuan publik Pangkalpinang saat itu tengah dalam suasana gembira. Bagi mereka yang berhasil ada di dalam 'episentrum' panggung, suasana malam itu adalah suasana yang sangat dirindukan semua orang, termasuk publik Pangkalpinang.

Dua tahun lebih pandemi membuat orang haus akan hiburan langsung dan bukan sekadar layar ponsel dengan berbagai ragam hiburan yang disajikan di dalamnya. Konser musik adalah salah satu bentuk hiburan yang tidak hanya memanjakan mata dan otak, melainkan memenuhi segala aspek dalam diri, baik fisik maupun psikologis.

Nah inilah satu poin yang ingin saya sampaikan, lantaran banyak yang tak bisa menikmati konser Budi Doremi kemarin, tak berlebih rasanya jika kita minta kepada Molen membayar lunas kekurangan ini.

Molen harus mengulang alias membuat konser susulan dengan konsep berbeda, di mana tak perlu ada tenda UMKM di area ATM sehingga publik bisa ikut bergembira bersama. Jika pun boleh usul, maka Sheila on 7 adalah bintang tamu yang harus dihadirkan untuk publik Pangkalpinang.

Halaman
12
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved