Horizzon

Molen dan Pangkalpinang

Molen dan Pangkalpinang adalah dua kata yang identik yang jika disebutkan satu, maka yang lain akan mengikuti. Ini adalah 'karma' bagi Molen

Editor: suhendri
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP 

Catatan kedua di momen 265 tahun Kota Pangkalpinang yang ingin saya sampaikan adalah apa yang terjadi di upacara Sabtu pagi. Bukan soal tiang bendera, melainkan soal apa yang disampaikan Molen dalam amanatnya, plus tema PIN emas untuk 265 tahun Kota Pangkalpinang.

Duduk di kursi tamu atas, saya mencoba menyimak apa saja yang terjadi pada upacara kemarin. Saya bahkan mencatat poin amanat yang dibacakan Molen pagi itu yang harus saya 'kritisi' sebagai amanat yang datar-datar saja.

Ini berbeda dengan karakter Molen yang selalu terlihat berapi-api, namun pagi itu, Molen tampak datar saja saat menyampaikan amanatnya. Satu lagi, tak ada pihak yang dicolek alias disenggol oleh Molen dalam kesempatan itu.

Dari catatan saya, ada dua atau tiga poin dalam amanat yang disampaikan wali kota di momen HUT ke-265 Pangkalpinang. Yang pertama, Molen memilih untuk menjelaskan dan menguraikan sejarah berdirinya Kota Pangkalpinang.

Dengan lugas, Molen membacakan sejarah Pangkalpinang yang awalnya adalah kawasan pusat perniagaan timah kala itu yang kemudian berkembang menjadi kota administratif hingga menjadi ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat ini.

Lengkap menceritakan perjalanan Pangkalpinang, tema kedua amanat yang sempat saya catat adalah bagaimana Molen menyebut bahwa tahun ini adalah tahun terakhir konsep pembangunan Kota Pangkalpinang melalui proposal (RPJMD) yang ia susun akan memasuki tahun terakhir.

Molen menggarisbawahi bahwa selama menakhodai Pangkalpinang, ia telah menetapkan target yang pas berikut perjalanan serta cita-cita ke depan Pangkalpinang yang sudah on the track.

Molen mengingatkan itu sebagai momentum Pangkalpinang harus menyusun kembali cita-cita yang lebih jauh ke depan di saat memasuki tahun terakhir RPJMD 2018-2023.

Ia memastikan, bahwa tugas-tugas dirinya dan jajaran organisasi yang ia tata belum selesai. Molen mengajak seluruh jajarannya untuk mengelaborasi berikut mengevaluasi tentang apa yang harus dikerjakan di tahun-tahun terakhir.

Soliditas dan mewujudkan misi ditekankan Molen agar jajaranya menjadi lebih semangat membangun PGK yang terus tersenyum.

Memang agak sulit menyimpulkan apa mau Molen dalam amanat tersebut, namun tak salah juga jika ini saya kaitkan dengan pertanyaan Molen pada kesempatan sebelumnya tentang perjalanan pribadinya.

Bisa jadi salah, namun saya ingin menegaskan bahwa apa yang ia sampaikan di amanat tersebut adalah sebuah semiotika yang harus di-reinforcement dengan sebuah penegasan bahwa ia harus paham bahwa apa yang ia lakukan empat tahun belakangan telah menjadi 'candu' bagi Pangkalpinang.

Molen dan Pangkalpinang adalah dua kata yang identik yang jika disebutkan satu, maka yang lain akan mengikuti. Ini adalah 'karma' bagi Molen.

Kebetulan, ia juga menyebut bahwa tugas-tugasnya belum selesai untuk membawa lebih banyak senyum di Pangkalpinang. Untuk itu, saya kira Molen harus lebih fokus untuk menata Pangkalpinang dengan proposal barunya.

Proposal baru itu adalah proposal untuk melanjutkan apa yang belum selesai untuk Pangkalpinang. Dirgahayu Kota Pangkalpinang. (*)

Sumber: bangkapos
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved