Tribunners
Basa-basi Pariwisata Babel
Saat kita mulai berpikir pariwisata, setidaknya kita harus serius menciptakan tata kelola dan ekosistem timah yang sehat di Bangka Belitung.
Gegara sibuk melihat kekonyolan yang betkelanjutan ini, kita bahkan tak sempat berpikir bagaimana mengelola CSR yang nilainya tidak sedikit dikucurkan.
Sampai saat ini, untuk hal yang sangat sederhana ini kita tak pernah berpikir untuk mengelola dana CSR ini untuk kepentingan yang lebih konstruktif. Yang masif kita dengar, CSR dari industri pertimahan seolah-olah dianggap sudah sah saat disalurkan ke rumah ibadah, yayasan sosial dan hal-hal yang bersifat partial.
Kenapa Babel tak pernah berpikir atau berani membuat terobosan bahwa dana CSR ini dikelola secara simultan agar memiliki tujuan yang 'terstruktur, sistematis dan masif.'
Kita bahkan tak pernah berpikir bagaimana dana CSR ini dikelola dengan baik sehingga program yang dicapai berkelanjutan alias sustainable.
Bukankah kita bisa sedikit demi sedikit kembangun budaya, pendidikan, aspek sosial kemasyarakatan saat kita mampu mengelola dana CSR ini dengan baik?
Hari ini, 21 November 2022, Provinsi Bangka Belitung genap berusia 22 tahun. Dirjen ESDM, Ridwan Djamaluddin didaulat pemerintah pusat untuk menjadi nakhoda sementara Provinsi Babel adalah sosok yang sangat terbuka dan gemar berdiskusi.
Meski tidak cukup banyak waktu untuk membuat masterplan arah Babel ke depan, akan tetapi Ridwan Djamaluddin telah membuka budaya diskursus yang cair.
Kita berharap hal ini mampu menjadi ungkitan agar Babel lebih cepat sadar untuk membangun dirinya sendiri, tentang masa depannya termasuk pariwisata, dan bukan terbuai dengan seremoni-seremoni basa-basi yang sesungguhnya sudah basi.
Dirgahayu Bangka Belitung. Kita harus mampu membuat langkah nyata untuk segera menata fondasi ekonomi Bangka Belitung di masa yang akan datang. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220913-IBNU-TAUFIK-Jr-Pimred-BANGKA-POS-GRUP-1.jpg)