Tribunners
Apa Kabar Miak?
Masyarakat Bangka menyebut kata 'miak' sebagai kata sapaan atau pun sebutan untuk menyapa atau memanggil kaum perempuan belia dan belum menikah
Oleh: Kurniati - Kepala SMAN 1 Riau Silip
MENDENGAR kata miak, tentu yang tervisualisasi dalam pikiran kita adalah seorang gadis remaja berusia tidak kurang dari lima belas tahun hingga tujuh belas tahun. Gambaran lain adalah gadis tersebut mengenakan baju kurung (khas daerah) biasanya berwarna ungu dan berkain songket atau cual, dengan hiasan di kepala berupa rambut cepluk terdapat selipan kembang goyang yang bergetar-getar.
Kata "miak" tak asing lagi di telinga orang Bangka. Masyarakat Bangka menyebut kata 'miak' sebagai kata sapaan atau pun sebutan untuk menyapa atau memanggil kaum perempuan belia dan belum menikah. Sebutan ini diberikan untuk para perempuan muda pada hampir di seluruh tanah Bangka (kini Bangka induk). Sayangnya, penulis belum membaca/mengetahui siapakah penyebut pertama untuk sapaan "miak". Tapi kata tersebut telah begitu dikenal. Bahkan, begitu bersejarah kata ini, hingga dibakukan (nomenklatur) menjadi icon sebuah ajang lomba 'kebisaan' remaja perempuan Bangka, yaitu dalam ajang Pemilihan Bujang Miak Bangka.
Agenda tahunan ini laksana sebuah perhelatan besar lain seperti HUT kota dan hari jadi. Ajang bakat bertema kelokalan agenda Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ini menyeleksi putra putri pilihan yang disyaratkan dengan pemenuhan berbagai kriteria. Kita sebut saja semacam pemilihan Putri Indonesia, Pemilihan Miss World dan acara adu 'kepandaian' lainnya. Dan pada akhirnya, berdasarkan kriteria dan seleksi yang ketat, terpilihlah satu orang perempuan muda, dan satu orang laki-laki muda sebagai Miak dan Bujang pada tahun terselenggaranya ajang pemilihan. Tentu saja, Bujang Miak yang terpilih dalam ajang ini akan mendapatkan berbagai penghargaan serta kesempatan dalam berbagai even. Secara ini adalah ajang bergengsi yang sangat prestisius.
Akan tetapi, tahukah Anda sejarah atau asal usul kata "miak"? Berdasarkan cerita, sebutan untuk kata "miak" mulanya bermakna jauh dari elok. Bahkan berkonotasi tidak enak didengar. Hal ini dilatarbelakangi oleh sikap yang kurang baik alih-alih menyatakan kelembutan sifat seorang gadis remaja. Kata 'miak' merupakan sebutan untuk seorang gadis yang bersikap "nyeleneh," terlalu "beriak" di hadapan lawan jenis. Tingkah gadis remaja ini setidaknya perkara yang kurang baik untuk disandang oleh para gadis remaja.
Hal ini pun sempat membuat penulis terkejut, ternyata kata 'miak' panggilan untuk perempuan muda orang Bangka tersebut tidak sama dengan makna yang kita ketahui saat ini. Keresahan ini penulis ketahui, bermula dari "gerahnya" seorang Datok budaya (Ketua LAM Provinsi) kita dengan maraknya penyebutan 'miak' padahal sebutan ini dinobatkan menjadi lambang sebuah ajang kebudayaan daerah Bangka.
..
Tidak banyak yang tahu. Kecuali saya ceritakan kepada teman-teman. Itupun dalam konteks yang terkait dengan penyebutan 'miak' itu.
Surut ke belakang. Di penghujung tahun 60-an. Kami para remaja di SMA sering bersenda gurau. Biasalah begitu seperti anak remaja di mana pun.
Salah satu senda gurau adalah olok mengolok remaja lelaki kepada remaja perempuan. Istilah 'cowok' dan 'cewek' belum muncul pada masa itu.
Jika ada anak gadis lewat di jalan, baik berjalan kaki maupun bersepeda, siul menyiul pastilah muncul. Nah, jika anak gadis itu bersikap sedikit genit atau membalas reaktif terhadap godaan itu, makin semarak pula godaan para remaja lelaki itu.
Di tengah situasi inilah muncul sebutan 'miak' itu. Konotasinya lebih kepada kegenitan para gadis remaja. Berkembang lah kemudian; jika melihat gadis bersikap genit dan senang pada godaan lelaki, lantas gadis itu dipanggil 'miak'.
Jadi, sebutan 'miak' itu lebih berkonotasi 'merendahkan', hanya untuk olok-olok semata.
.." (BR, Mei 2022)
Dalam sejarahnya (dikisahkan Datok Bustami), mulanya kata 'miak' untuk menyatakan sisi ketidaketisan sikap seorang remaja perempuan yang diperlihatkannya di depan lawan jenis yang menggodanya/nakal. Dalam bahasa Bangka tingkah yang diperlihatkan adalah "kegatelan" atau kegenitan dalam bahasa Indonesia. Bagi penulis, informasi ini sangat menarik. Karena selama ini diketahui makna kata 'miak' adalah sebutan yang wajar bagi gadis muda (perempuan muda) Bangka.
Sementara itu, Datuk Wahar (pengurus Lembaga Adat Melayu Bangka) juga ikut mengomentari perihal 'miak' ini. "Kata orang, Miak itu Dayang klitet. Ntah mane bener e," tukas Datuk Wahar. Komentar ini menguatkan pernyataan Ketua LAM Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di atas.
Makin menarik, informasi ini dikuatkan juga oleh beberapa datuk pengurus Lembaga Adat Melayu (LAM) Bangka. Di antaranya, Jaka Filyamma yang juga bertugas sehari-hari di Kantor Pemerintahan Desa, Jaka menyatakan;
[07.44, 23/5/2022] Kalau mendengar dan melihat kebiasaan masyarakat (dulu) miak, dare, dayang begitu tingkatan e. Dalam bahasa Indonesianya anak-anak (wanita), remaja, dewasa.
Dari sifat dan tingkah laku miak sering berkelakuan (maaf) kurang senonoh dalam arti tertawa terbahak, suka berlari dll. Memasuki fase dare anak ini sudah mulai mengetahui kodratnya sebagai kaum hawa, seterusnya ke tingkat dewasa (maaf kalau salah). Ketika dare, dayang bertingkah kurang dewasa, secara spontan kita menyebutnya miak klitet dan sebagainya.
Ada juga yang mengatakan (lupa siape) miak jarang digunakan, hanya dare, dayang saja. Spontan sebutan 'miak' mungkin pernah ada tokoh bernama Miak yang bertingkah tidak seperti perempuan lain. Tingkah tokoh ini melekat jadi sebutan perempuan yang sama tingkahnya. Misal (ada tokoh aji asin yang kesehariannya selalu berpikiran ekonomis (ketol) maka siapa saja yang seperti itu spontan dijuluki aji asin).
Berdasarkan informasi yang diberikan Jaka tentang kata 'miak' terdapat dua kemungkinan sebab. Sebab pertama situasinya hampir sama seperti yang dinyatakan Datuk Bustami, dan kemungkinan sebab kedua adalah adanya seseorang yang bernama Miak memiliki tingkah yang kurang enak, lalu masyarakat (?) mempersamakan perilaku seseorang dengan menyebutkan nama orang tersebut.
Membaca makna yang baru diketahui tersebut, penulis merasa penasaran. Bagaimana sesungguhnya etimologi kata 'miak' berdasarkan makna kamus. Dan kasus ini, menjadi semakin sangat menarik. Mengapa? Sebab, ternyata setelah penulis mencari makna kata 'miak' dalam kamus bahasa daerah Bangka, kata 'miak' bahkan tidak ada dalam entri kosakata bahasa daerah. Baik Kamus Bahasa Melayu Bangka-Indonesia (2018), dan buku Ungkapan Tradisional Bangka (2019) tidak menampilkan kata 'miak'. Ada pun dalam Kamus Bahasa Indonesia-Melayu Bangka (2021) tersebut kata 'miak' namun dalam artian beberapa kata daerah yang lain. (gadis.n mentinak; budak dare, gades miak; dare; dayang, gedis, metinak, gades, dayang, perawan). Artinya kata 'miak' tidak termasuk dalam kosakata yang tercatat dalam kamus maupun dalam kata ungkapan tradisional bahasa daerah Bangka.
Memang, secara ilmiah penulis belum pernah membaca ada penelitian tentang asal usul kata dalam bahasa daerah Melayu Bangka yang mendalam. Buku-buku berbau bahasa daerah dan atau yang membahas tentang bahasa daerah Melayu Bangka masih jauh panggang dari api. Padahal minat dan kebutuhan akademisi juga sekolah-sekolah terbilang banyak. Tetapi, referensi kebahasaan daerah Bangka belum tersedia, alih-alih tersimpan/terpajang di etalase atau lemari-lemari perpustakaan kita. Realita ini entah sampai kapan.
Jika tak ada yang berani mengambil sikap dan berani berjuang untuk pelestarian bahasa daerah ini, maka jangan harap akan ada perubahan. Terutama dalam program pelestarian, pengembangan bahasa daerah. Masih bersilat lidah bangsa sendirilah kalau tidak, tarik ulur tali kelambu, saling mengklaim ini dan itu, tak akan pernah berakhir. Beragam argumen dan kepentingan yang disampaikan membuat lemah keinginan untuk mendalami bahasa daerah Bangka. Setidaknya, daerah Bangka selayaknyalah, telah memiliki referensi bacaan tentang morfologis dan sintaksis bahasa daerah Melayu Bangka (versi manapun saja) sebagai rujukan bagi peneliti yang bersimpati terhadap bahasa daerah ini.
Kembali pada kata 'miak' tadi, jika akan dijadikan sebagai sebuah kajian dapat kita kaitkan dengan melihat sebuah fenomena penggunaan bahasa atau asal usul kata (etimologi). Bidang studi yang mempelajarinya adalah fenomenologi. Fenomenologi dengan demikian, merupakan ilmu yang mempelajari, atau apa yang menampakkan diri fenomenon. Karena itu, setiap penelitian atau setiap karya yang membahas cara penampakkan dari apa saja, sudah merupakan fenomenologi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20221222_Kurniati-Kepala-SMAN-1-Riau-Silip.jpg)