Tribunners
Tawuran Bukan Ajang untuk Mencari Identitas Diri
Identitas diri yang dicari remaja perlu mendapat pengarahan dan bimbingan yang benar, serta dukungan sosial yang cukup dari lingkungan sosialnya
Oleh: Tiko Pajri - Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Bangka Belitung
PADA November 2022 lalu, terjadi peristiwa yang sangat jarang terjadi di Kota Pangkalpinang, yaitu tawuran antarpelajar. Dikutip dari Kompas.com (11/11/2022), puluhan siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) dan sekolah menengah atas (SMA) di Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, terlibat tawuran.
Kejadian bermula pada Selasa (8/11/2022) saat terjadi keributan di sebuah SMK. Ketika itu ada siswa yang terlibat perkelahian. Selanjutnya pada Rabu (9/11/2022) kembali terjadi keributan antarsiswa. Kali ini jumlahnya bertambah dari sebuah SMA dan sebuah SMK. Lokasi bentrok pun berpindah ke Jembatan Gantung, Jerambah Gantung. Kemudian pada Rabu (9/11/2022) sore hingga malam, aksi tawuran siswa berlanjut di kawasan Stadion Depati Amir dan GOR Sahabuddin. Bahkan saat kericuhan terjadi di lokasi stadion, siswa sulit dibubarkan sehingga polisi terpaksa mengeluarkan tembakan peringatan.
Tawuran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung pengertian perkelahian massal atau perkelahian yang dilakukan secara beramai-ramai. Dengan demikian, tawuran pelajar dapat diartikan sebagai perkelahian yang dilakukan secara massal atau beramai-ramai antara sekelompok pelajar dengan sekelompok pelajar lainnya.
Tawuran antarpelajar sebenarnya hanya salah satu dari bentuk kenakalan pada remaja. Masih banyak lagi permasalahan psikologis maupun kriminal yang sering dialami dan dilakukan remaja. Perilaku menyimpang yang dilakukan remaja merupakan suatu bentuk perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang hidup di dalam lingkungan masyarakat.
Masa remaja adalah masa di mana anak tidak lagi merasa berbeda dengan orang-orang yang lebih tua, melainkan mereka berpikir memiliki tingkatan yang sama, terutama dalam masalah hak. Sebagai pelajar, remaja merupakan individu yang hidup dalam situasi transisi antara dunia anak menuju dewasa. Pada situasi transisi remaja akan merasakan perubahan emosi dan fisik yang tidak stabil dan mulai menyadari kebutuhan sosialnya untuk diterima sekaligus diakui oleh komunitas masyarakat di sekitarnya.
Faktor pemicu terjadinya tawuran antarpelajar yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari dalam diri pelajar dan faktor eksternal dari luar diri pelajar sebagai remaja. Faktor internal pemicu terjadinya tawuran antara lain:
* Mengalami krisis identitas (identity crisis)
Krisis identitas ini menunjuk pada ketidakmampuan pelajar sebagai remaja dalam proses pencarian identitas diri. Identitas diri yang dicari remaja adalah bentuk pengamalan terhadap nilai-nilai yang akan mewarnai kepribadiannya. Jika tidak mampu menemukan panutan dan meyakini sendiri identitasnya, maka remaja akan mencari identitas yang sedang tren yang berkembang pada teman sebaya. Jika hal ini berlangsung dengan teman sebaya yang kurang positif, maka akan berakibat pengidentifikasian diri yang dilakukan akan mengarah pada hal-hal yang negatif sesuai dengan apa yang diyakini oleh kelompok teman sebayanya.
* Memiliki kontrol diri yang lemah (weakness of self control)
Remaja lemah dalam pengendalian diri. Kelemahan tersebut berakibat pada ketidakstabilan emosi, mudah marah, frustrasi, dan kurang peka terhadap lingkungan sosialnya. Hal tersebut berdampak pada saat menghadapi suatu masalah cenderung melarikan diri atau menghindarinya, bahkan lebih suka menyalahkan orang lain, dan kalaupun berani menghadapinya, biasanya memilih menggunakan cara yang paling instan atau tersingkat untuk memecahkan masalahnya.
* Tidak mampu menyesuaikan diri (self maladjustment)
Ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan yang makin kompleks seperti keanekaragaman pandangan, ekonomi, budaya, dan berbagai perubahan di berbagai kehidupan lainnya yang makin lama makin bermacam-macam. Imbas dari perubahan lingkungan sosial, para remaja dalam penyelesaian masalah yang dialami dengan tergesa-gesa/ tanpa berpikir panjang dahulu akibat yang akan muncul.
Di samping faktor internal atau faktor psikologis sebagai remaja, faktor lain yang juga dapat menyebabkan remaja terlibat dalam tawuran adalah kondisi eksternal (kondisi di luar diri remaja), yakni lingkungan sosialnya. Faktor-faktor yang bersumber dari lingkungan sosial pelajar ini, antara lain:
* Pengaruh media
Berbagai bentuk pertunjukan/tontonan kekerasan di media memengaruhi remaja dan dapat menyebabkan mereka bertindak agresif. Tindakan tersebut juga meningkatkan pikiran marah serta meningkatkan detak jantung dan tekanan darah remaja memuncak serta tidak dapat dikendalikan.
* Lingkungan keluarga
Keluarga adalah tempat pendidikan pertama kali diterima remaja sebagai pelajar. Dengan demikian, baik buruknya pendidikan keluarga yang diterima pelajar akan menentukan sikap dan perilakunya. Pendidikan yang salah di keluarga, seperti terlalu memanjakan, terlalu mengekang, atau malah terlalu memberi kebebasan tanpa kontrol yang jelas, kurang memberikan pendidikan moral dan agama, atau justru adanya penolakan terhadap eksistensi anak, serta kurangnya dukungan sosial keluarga dan perhatian bisa menjadi penyebab terjadinya tawuran.
Suasana keluarga yang menimbulkan rasa tidak aman dan tidak menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat menimbulkan bahaya psikologis bagi remaja. Apalagi tidak adanya komunikasi atau adanya perselisihan antaranggota keluarga bisa menjadi salah satu pemicu perilaku negatif pada pelajar.
* Tekanan teman sebaya
Setiap pelajar memiliki perilaku yang berbeda, dan setiap perilaku yang terbentuk pada diri pelajar merupakan cerminan dari lingkungan pertemanannya. Mereka berkelompok karena mereka merasakan sebuah perasaan senasib. Perasaan senasib tersebut menimbulkan sebuah solidaritas yang sifatnya fanatik dan simbolik. Mereka yang tidak bisa memenuhi tuntutan solidaritas tidak akan terekrut dalam kelompok-kelompok yang ada. Di sinilah mereka harus menunjukkan jati diri eksistensi mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20221228_Tiko-Pajri-Mahasiswa-Magister-Manajemen-Universitas-Bangka-Belitung.jpg)