Kamis, 9 April 2026

Tribunners

Masa Depan Terumbu Karang Pulau Bangka

Untuk merehabilitasi terumbu karang memang tidak mudah. Salah pilih lokasi, spesies, dan metode transplant sangat memengaruhi tingkat hidup

Editor: suhendri
Vivin Silvaliandra Sihombing
Terumbu karang 

Oleh: Vivin Silvaliandra Sihombing - Periset Kepakaran Konservasi Keanekaragaman Hayati (Pusat Riset Ekologi dan Etnobotani) Badan Riset dan Inovasi (BRIN)

TERUMBU karang merupakan ekosistem unik dan rentan perairan tropis dengan tingkat produktivitas dan keanekaragaman biota yang sangat tinggi. Indonesia sendiri terkenal sebagai salah satu penyumbang kekayaan hayati terumbu karang terbesar di dunia dengan lebih dari 95.000 spesies di dalamnya. Mengutip dari Geospasial Tematik Pesisir dan Laut, luas ekosistem terumbu karang Indonesia diperkirakan mencapai 2.517.857 ha yang tersebar luas dari perairan kawasan barat Indonesia sampai kawasan timur Indonesia.

Sangat disayangkan, hanya 30 persen dari luasan tersebut yang masih dalam kategori baik, padahal selain memiliki manfaat ekonomi, yang terpenting terumbu karang juga merupakan paru-paru terbesar dunia. Kenyataannya, penghasil oksigen terbesar di Bumi 80 persen adalah berasal dari fitoplankton yang hidupnya paling banyak di ekosistem terumbu karang.

Untuk merehabilitasi terumbu karang memang tidak mudah. Salah pilih lokasi, spesies, dan metode transplant sangat memengaruhi tingkat hidup dan keberhasilan.

Mengenal Lebih Dekat Terumbu Karang

Tak kenal maka tak sayang. Mungkin sebagian dari kita mengenal terumbu karang sebagai tumbuhan atau bahkan batuan? Dengan permukaannya yang keras, terumbu karang sering disalahartikan sebagai batu. Pun, karena terumbu karang secara kasatmata seolah-olah "mengakar" di dasar laut lantas dianggap sebagai tanaman.

Sebenarnya, terumbu karang tidak sama seperti batu, karena terumbu karang hidup dan tumbuh. Terumbu karang juga tidak dapat berfotosintesis sendiri sehingga jelas tidak masuk dalam kriteria tumbuhan.

Faktanya, terumbu karang sebenarnya adalah hewan karena cabang keras yang sering kita sebut "batu" ini sebenarnya terdiri dari ribuan hewan kecil yang disebut polip. Polip karang adalah invertebrata mikroskopis, memiliki tubuh seperti tabung dan mulut yang dikelilingi oleh tentakel yang menyengat. Polip menggunakan kalsium karbonat (CaCO3) dari air laut untuk membangun kerangka keras untuk melindungi tubuhnya yang rentan. Menariknya, polip karang ini bersimbiosis juga dengan alga yang disebut zooxanthellae (alga endosimbion).

Hubungan antara zooxanthellae dengan polip karang bersifat mutualisme. Polip karang yang tidak dapat berfotosintesis dapat memperoleh energi dari zooxanthellae, sebaliknya zooxanthellae yang hidup di dalam jaringan tubuhnya memperoleh tempat perlindungan dari pemangsa dan memakai karbondioksida yang dihasilkan polip karang dari proses metabolismenya. Asosiasi yang erat ini sangat kompleks namun juga efisien sehingga terumbu karang dapat bertahan hidup, bahkan di perairan yang miskin zat hara.

Indonesia dan Segitiga Terumbu Karang

Segitiga terumbu karang adalah kawasan laut di bagian barat Samudra Pasifik dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Kawasan segitiga terumbu karang memiliki luas 6 juta kilometer persegi, di mana wilayahnya terbentang dari Indonesia hingga Kepulauan Solomon membentuk segitiga sehingga disebut Segitiga Terumbu Karang.

Lantas apa keistimewaan Segitiga Terumbu Karang? Segitiga Terumbu Karang merupakan episentrum keanekaragaman terumbu karang dimana titik yang memiliki keanekaragaman tertinggi adalah di Semenanjung Doberai, Papua. Kekayaan ini menyimpan 2.228 spesies ikan terumbu karang dari total 6.000 spesies ikan terumbu karang dunia dan lebih dari 76 persen spesies terumbu karang dunia ada di wilayah ini. Uniknya, wilayah ini merupakan yang paling tinggi tingkat endemisnya.

Permasalahan Terumbu Karang di Indonesia

Tidak hanya di Indonesia, kerusakan terumbu karang juga terjadi di seluruh dunia. Keberadaan terumbu karang hidup sangat dipengaruhi oleh faktor alam seperti pemanasan global yang dapat mengakibatkan pemutihan karang dan aktivitas manusia.

Secara umum, di perairan Indonesia terumbu karang hidup optimal pada suhu 22-29 derajat celsius. Hasil penelitian tim peneliti Konservasi Keanekaragaman Hayati di Bangka Selatan menunjukkan kenaikan suhu air laut mencapai 28,8 derajat celsius telah menyebabkan pemutihan karang masal. Dari hasil penelitian, kenaikan 1-2 derajat celsius suhu air laut membuat kondisi karang menjadi stress dan mengeluarkan mekanisme pertahanannya sehingga membuat karang menjadi putih.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved