Kamis, 9 April 2026

Tribunners

Menulis Menggunakan Bahasa Indonesia yang Berlimpah

Tak heran bahasa Indonesia bisa sedemikian kaya karena lema kita disaring di belantara rimba bernama bahasa daerah dari Pulau Weh sampai Pulau Rote

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Purnawiwansyah, S.Pd. - Guru Bahasa Indonesia SMKN 1 Kelapa 

Oleh: Purnawiwansyah, S.Pd. - Guru Bahasa Indonesia SMKN 1 Kelapa

HIDUP di Indonesia dengan menggunakan bahasa resmi yakni bahasa Indonesia sebagai bahasa tulis harusnya membuat kita bersyukur karena bahasa Indonesia itu tidak membosankan. Bagaimana bisa membosankan, sebagai contoh, sedikitnya kita bisa memilih sembilan opsi lain dari kata melihat. Sebut saja menonton, menyaksikan, menengok, menampakkan, memandang, menatap, mengamati, memperhatikan. Terlebih-lebih, kosakata dan ungkapan bahasa Indonesia tak pernah layuh malah terus bertambah lantaran bahasa selalu bertumbuh.

Buktinya, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi I (KBBI I, 1988) memuat 62.100 butir kata ataupun frasa. KBBI II (1991) memajang sekitar 72.000 butir kata maupun frasa. Pada KBBI III (2008) bertambah menjadi 78.000 kata maupun frasa dan 2.034 peribahasa. KBBI IV (2008) dipermeriah dengan memuat hingga 90.049 kata maupun frasa. Terkini, isi KBBI V makin kaya dengan 127.036 kata maupun frasa.

Kata atau frasa disebut juga dengan lema. Tak heran bahasa Indonesia bisa sedemikian kaya karena lema kita disaring di belantara rimba bernama bahasa daerah dari Pulau Weh sampai Pulau Rote. Bukan hanya itu, para pekamus kita juga berburu kosakata di samudra bernama bahasa asing dari seluruh penjuru dunia.

Mula-mula hanya baju dan pakaian, kemudian hadir busana yang kita jala dari bahasa Sanskerta. Jangan heran juga jika ternyata kata "desa" merupakan kata yang kita serap dari bahasa Sansekerta. Kendi, sarjana, istimewa, bencana, graha, cakrawala, bahtera adalah contoh kosakata lain yang kita serap dari bahasa Sansekerta. Mula-mula menyeruak kata persaingan, pertandingan, atau perlombaan, lalu menyembul kata kontestasi yang diserap dari bahasa Latin. Itu hanya sekadar menyebut contoh.

Jika kita mau meluangkan waktu bertamasya dari lema ke lema, kita akan melotot, membelalak, menjegil, menyalang, dan melengung. Boleh jadi menjelengar dan menyelingar. Pada situasi digelimuni rasa takjub dan heran, kita bakal tertegun, tercengang, ternganga, tergemap, terpangah, dan terkesima. Sebelas kata tersebut baru sebagian kecil dari variasi kata "terkejut" dalam bahasa Indonesia.

Manakala kita 'terkejut dengan mata terbuka lebar-lebar', masih ada segelintir penulis yang sangat setia pada kata membelalak. Bayangkan apabila novel setebal 400 halaman memuat kata membelalak sebanyak 30-40 kali. Padahal, bahasa Indonesia masih punya membelalang dan mencelang (jika hanya terkejut) atau membeluntang (jika terkejut dan tegang).

Meski begitu, kita mesti berhati-hati dalam memilih diksi. Tidak semua kata yang bermakna mirip dapat dipertukarkan penggunaannya. Pada konteks tertentu, bisa dan racun dapat kita pertukarkan. Namun, cermatlah dalam membubuhkan kata bisa dan racun ke dalam kalimat.

Pun sama halnya dengan kata tinggal dan menetap yang dapat kita substitusikan. Namun, pada kalimat "kualitas selebgram di era digital amatlah kontroversial. Bagaimana tidak, jika untuk menjadi terkenal mereka hanya perlu membuat gimik abal-abal, jika netizen berkata itu melenja, tinggal minta maaf saja". Kata tinggal tentu tak bisa disubstitusikan oleh kata menetap. Jadi penyesuaian kalimat mutlak diberlakukan.

Sekali Lagi, Bahasa Indonesia Itu Kaya

Pengantar di atas penulis berikan di kelas XII Kompetensi Keahlian Multimedia SMKN 1 Kelapa saat mengajar materi mengonstruksi esai. Sebelum siswa mengonstruksi esai, penulis merangsang motivasi siswa menulis dengan memberi pengantar di atas.

Keterampilan menulis diawali latihan dan praktik yang banyak. Dari itu, siapa pun bisa menjadi penulis. Agar karya tulis yang kita gubah entah itu esai, novel, tulisan populer, cerita pendek baik itu fiksi, nonfiksi, maupun faksi tak membosankan, sejatinya kita bisa mengganti kosakata yang biasanya sering digunakan menjadi kosakata baku yang jarang digunakan.

Selain itu, untuk bisa mengangit tulisan yang gurih dibaca, kita harus belajar dari penulis terkenal dengan membaca tulisan-tulisannya yang bermutu maupun kiat-kiat menjadi penulis yang ditawarkannya. Ditambah untuk menghasilkan tulisan yang baik, siswa juga perlu membaca tulisan-tulisan bermutu. Penulis kemudian meminta siswa membaca tulisan-tulisan dari Hamid Basaid yang kaya dengan diksi, Dahlan Iskan yang kreatif dalam menggunakan kalimat-kalimat pendek, dan dari Jalaluddin Rakhmat yang sistematis dalam menulis sebagai bahan referensi dalam menulis.

Pada kegiatan pembelajaran materi mengonstruksi esai, sebanyak 32 siswa kelas XII Kompetensi Keahlian Multimedia SMKN 1 Kelapa penulis tugaskan membuat esai populer dengan tema "Eksistensi Kertas di Era Masyarakat Tanpa Kertas". Tujuan dari penulisan esai ini adalah menggali persepsi siswa terkait keberadaan dan penggunaan kertas di era digital. Hasilnya pun membuat penulis terpukau. Berbagai persepsi siswa tentang kertas membuat jendela berpikir penulis membesar.

Nadia Sasti menyematkan pemikiran bahwa dunia dengan kertas adalah antitesis dari masyarakat tanpa kertas. Si kritis yang selalu ceria ini mengutarakan bahwasanya masyarakat tanpa kertas adalah masyarakat yang enteng untuk melakukan sesuatu tanpa pikir panjang karena setiap kesalahan pengetikan bisa dengan mudah diubah maka membuat kesalahan pun bukan masalah. Ini tentu berimpresi pada karakter masyarakat era digital yang kurang menyaring ucapannya. Ketika ucapannya sesat dan viral, tinggal klarifikasi minta maaf, semudah itu. Begitulah makna tersirat dari esai yang ditulis siswa yang masuk peringkat 10 besar di kelas ini.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved