Kamis, 7 Mei 2026

Ramadhan 2023

Apa Itu Rukyatul Hilal? Pemerintah Gunakan 2 Metode Penetapan Awal Puasa Ramadhan

Metode rukyat atau rukyatul hilal adalah adalah aktivitas pengamatan hilal dengan melihat secara langsung atau menggunakan teleskop.

Tayang:
Editor: fitriadi
Bangkapos.com/Cici Nasya Nita
Pengamatan bulan saat rukyatul hilal di Desa Penagan, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka pada Selasa (11/5/2021). Metode rukyatul hilal digunakan dalam menentukan awal Ramadhan. Tahun 2023 ini, pengamatan hilal akan dilakukan di sejumlah titik pada hari Rabu (22/3/2023). 

BANGKAPOS.COM - Penetapan awal Ramadhan sangat ditunggu-tunggu masyarakat muslim di Indonesia.

Dengan ditetapkannya tanggal awal bulan Ramadhan bisa dijadikan acuan bagi umat muslim umumnya untuk memulai melaksanakan ibadah puasa dan ibadah sunnah lainnya di bulan Ramadhan.

Di Indonesia, penetapan awal Ramadhan secara nasional akan diputuskan pemerintah melalui Kementerian Agama RI dalam sidang isbat.

Tahun 2023 ini, sidang isbat penetapan awal Ramadhan 1444 H akan digelar oleh Kemenag pada hari Rabu, 23 Maret 2023.

Pemerintah melalui Kemenag akan menggunakan metode gabungan antara rukyat atau rukyatul hilal dan hisab.

Seperti diketahui, metode rukyatul hilal biasa digunakan ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) dalam menentukan 1 Ramadhan.

Sedangkan metode hisab digunakan ormas Islam Muhammadiyah.

Metode Rukyatul Hilal

Menurut Lapan, metode rukyat atau rukyatul hilal adalah adalah aktivitas pengamatan hilal dengan melihat secara langsung atau menggunakan teleskop.

Sementara dilansir dari laman bali.kemenag.go.id, hilal adalah nampaknya bulan sabit muda pertama setelah terjadinya konjungsi (ijtimak atau bulan baru) di arah matahari terbenam yang dijadikan acuan jatuhnya awal bulan dalam kalender Hijriyah termasuk Ramadhan.

Baca juga: Apa Itu Hisab, Metode Penetapan 1 Ramadhan Oleh Muhammadiyah

Baca juga: Apa Itu Sidang Isbat, Sejarah dan Rangkaian Sidang Penetapan Awal Puasa Ramadhan 2023

Kapan waktu pengamatan hilal yaitu pada hari ke-29 untuk menentukan apakah hari berikutnya sudah terjadi pergantian bulan atau belum.

Metode rukyatul hilal digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU) dengan melakukan pengamatan di beberapa titik di Indonesia.

Dalam metode rukyat, hilal yang berada di bawah ketinggian dua derajat mustahil diamati dengan mata, namun jika lebih dari dua derajat maka hilal memungkinkan untuk dilihat dengan mata telanjang.

Adapun tahun ini Kementerian Agama mengadopsi kriteria baru yaitu kesepakatan Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) di mana tinggi bulan baru yang teramati minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Jika menggunakan metode rukyat, maka visual hilal yang teramati akan menjadi tanda bahwa esok hari akan jadi hari pertama bulan dalam kalender Hijriah.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved