Jumat, 1 Mei 2026

Berita Sungailiat

Mesin Pencacah Kelapa Muda Polman, Solusi Atasi Sampah Jadi Pupuk

Bahkan mesin hasil ciptaan mereka ini berhasil memenangkan juara pertama Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) Tingkat Kabupaten Bangka

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: edwardi | Editor: Iwan Satriawan
Bangkapos.com/edwardi
Robert dan kawan-kawan mempraktekkan mesin pencacah limbah Kelamud. 


BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Meningkatnya volume sampah di Kabupaten Bangka pada saat bulan Ramadan ini, salah satu disebabkan banyaknya limbah sampah kulit kelapa muda (Kelamud) yang diproduksi para pedagang yang berjualan hampir di setiap jalanan dan sudut Kota Sungailiat.

Namun sebenarnya limbah kulit Kelamud ini bisa diolah menjadi pupuk organik bagi berbagai jenis tanaman, seperti pohon kelapa sawit.

Karena itu bila ditangani tangan terampil para anak muda ini dipimpin Robert Napitupulu dan para mahasiswa Polman Babel berhasil menciptakan mesin pencacah limbah kulit kelapa muda (Kelamud).

Bahkan mesin hasil ciptaan mereka ini berhasil memenangkan juara pertama Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) Tingkat Kabupaten Bangka Tahun 2023 yang digelar Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Pemdes) Kabupaten Bangka.

Sedangkan hasil cacahan limbah kulit Kelamud ini bisa dimanfaatkan untuk campuran pembuatan pupuk organik untuk tanaman kelapa sawit.

Robert mengatakan awal munculnya ide untuk membuat mesin pencacah kulit kelapa muda (Kelamud) melihat banyaknya kulit kelapa muda yang dibuang sia-sia di tempat-tempat sampah, apalagi saat ini bulan Ramadan semakin banyak masyarakat yang menjual kelapa muda untuk berbuka puasa.

"Saat itu kami lagi jalan-jalan di daerah Lingkungan Cendrawasih Sungailiat ada sekelompok orang sedang mengolah kulit kelapa muda dengan cara dicincang menggunakan parang. Saat itu kami tanya untuk apa hasil cincangan kulit kelapa muda ini, rupanya untuk campuran pupuk tanaman kelapa sawit," kata Robert yang ditemui di sela-sela presentasi Lomba TTG Tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Pemdes) Kabupaten Bangka, Senin (03/04/2023).

Dilanjutkannya, masyarakat sekitar 4 orang yang mengolah/mencacah limbah kulit Kelamud ini dalam satu hari hanya bisa mengolah sebanyak 60-80 kg limbah Kelamud.

"Kita juga survei ke kebun kelapa sawit yang dipupuk dengan hasil cacahan limbah Kelamud ini, ternyata limbah ini dicampuri lagi dengan pupuk cair yang dibuat sendiri dari bahan alami dan kita lihat tanaman kelapa sawitnya juga subur dan berbuah lebat," ujar Robert yang juga dosen Polman Negeri Babel ini.

Dilanjutkannya, akhirnya dengan niat membantu warga tadi akhirnya mencoba membantu membuat mesin pencacah limbah kulit Kelamud ini dan kebetulan ada Lomba TTG Tingkat Kabupaten Bangka, dan ternyata mesin ini mendapatkan juara pertama.

"Mesin pencacah limbah Kelamud kita ini mampu mencacah sebanyak 232,6 kg kulit kelapa muda per jam, jadi kalau satu hari kerja 6-7 jam bisa memproduksi 1 ton lebih hasil cacahan kulit Kelamud ini," ujarnya.

Diungkapkannya, untuk biaya membuat mesin ini sekitar Rp6 jutaan, namun biaya ini juga termasuk biaya riset sebelumnya karena mesin ini baru pertama kali dibuat.

"Untuk pembuatan pertama pasti kita butuh biaya riset dan ujicoba beberapakali untuk penyempurnaan mesin, tapi kalau mau diproduksi massal tentunya biaya bisa lebih rendah dari Rp6 juta," tukasnya.

Diakuinya, saat ini mesin pencacah limbah kulit Kelamud ini juga sudah dihibahkan untuk warga Cendrawasih yang sudah mengolah limbah Kelamud ini untuk dijadikan pupuk organik bagi tanaman kelapa sawit kebunnya.

"Semoga ke depan mesin pencacah limbah kulit Kelamud ini bisa terus dikembangkan dan diproduksi untuk membantu masyarakat yang membutuhkan untuk menunjang usaha perkebunan kelapa sawit dan lainnya," harapnya.

(Bangkapos.com/Edwardi)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved