Tribunners
Belajar dari Siswa
JIKA ada yang masih menganggap guru itu satu-satunya sumber ilmu, barangkali ia tengah melindur
Pasca-ide sudah ditetapkan, kru produksi mulai memikirkan treatment dalam mikro film Semangkuk Inspirasi. Treatment adalah hal yang utama dan mutlak ada dalam pembuatan film sebab treatment merupakan cara kru produksi menerjemahkan perasaan-perasaan yang ingin disampaikan oleh talent-talent atau pemain-pemain dalam film.
Treatment yang dilakukan oleh kru produksi Semangkuk Inspirasi adalah treatment sinematografi. Kru produksi Semangkuk Inspirasi menggunakan 4 aspek sinematografi dalam menerjemahkan perasaan pada setiap adegan.
Komposisi, warna, pencahayaan, dan pergerakan kamera. Empat aspek ini digunakan oleh kru produksi Semangkuk Inspirasi sebab kru merasa 4 aspek ini amat penting untuk memengaruhi perasaan penonton untuk terbawa perasaan saat menonton mikro film Semangkuk Inspirasi. Kru produksi memiliki pendirian untuk membuat tiap adegan bukan sekadar talent-nya kelihatan saja, tetapi ikut hanyut dengan perasaan yang dirasakan talent.
Sebelum mengambil video scene, kamerawan Semangkuk Inspirasi selalu memikirkan letak objek di dalam frame dan membuat objek tersebut lebih menonjol daripada objek-objek yang ada di sekelilingnya untuk membangun cerita sesuai agar maksud cerita tersampaikan dengan tepat. Inilah yang dinamakan aspek sinematografi komposisi sehingga kamerawan selalu mengaktifkan grid rule of third pada kamera dan memastikan garis horizontal pada rule of third lurus dengan objek apa pun yang ditangkap layar kamera. Dengan cara ini, dapat dipastikan shoot yang akan diambil tidak akan miring.
Kedua, kamerawan Semangkuk Inspirasi meletakkan talent di dalam garis rule of third, baik itu di sebelah kiri maupun kanan rule of third sebab ilmu fotografi menyebutkan penonton cenderung merasa nyaman dan menyatu melihat objek yang ada di titik-titik rule of third. Tentunya kita ingin penonton betah melihat film kita. Ya kan!
Warna tak kalah penting memainkan peranan dalam alur cerita mikro film Semangkuk Inspirasi. Ketika scene kembali ke peristiwa di masa lampau, warna dalam scene berubah menjadi hitam putih. Ketika scene hujan, warna yang digunakan adalah warna flat tanpa memainkan color grading. Warna flat mengisyaratkan perasaan sendu. Kru produksi Semangkuk Inspirasi sangat hati-hati dalam melakukan color grading karena kru produksi paham bahwa setiap warna memberikan mood yang berbeda-beda kepada penonton.
Konsistensi warna antar-scene juga menjadi hal yang wajib. Kru produksi Semangkuk Inspirasi memastikan tone warna setiap scene sama sehingga emosi yang tercipta dari satu adegan dapat berlanjut ke adegan lainnya. Kru produksi menggunakan palet warna untuk menjaga konsistensi tone warna pada tiap-tiap scene. Untuk mendapatkan color grading sinematik yang sesuai dengan suasana yang ingin dihadirkan dalam film, seorang editor film harus menguasai tentang highlight, midtone, dan shadow pada warna.
Pada umumnya, kamerawan menggunakan aspek pencahayaan untuk membuat penonton melihat atau tidak harus melihat apa yang ada di dalam scene. Namun lebih dari itu, kamerawan Semangkuk Inspirasi membuat pencahayaan pada mikro film ini dapat memberikan perasaan-perasaan tertentu. Ada scene-scene dalam mikro film Semangkuk Inspirasi diambil dengan pencahayaan yang terang untuk membangkitkan mood yang positif.
Ketika mood yang akan dibangkitkan adalah mood yang sedih, maka kamerawan akan mengambil scene dengan pencahayaan yang redup. Biasanya kamerawan Semangkuk Inspirasi mengatur pencahayaan pada kamera di bagian histogram; underexposure lebih ke arah redup atau overexposure lebih ke arah terang, namun sebaiknya memang properly exposure atau pencahayaan yang pas sesuai kebutuhan adegan.
Pergerakan kamera memainkan peranan dalam menggambarkan aktivitas talent dengan detail. Dalam mikro film Semangkuk Inspirasi, pergerakan kamera yang dipakai adalah still yakni kamera tidak ada pergerakan sama sekali sehingga kamerawan memasang tripod pada kamera. Pergerakan kamera selanjutnya yang dipakai adalah tracking (track in mendekat ke objek, track out menjauh dari objek). Kamerawan menggunakan track in pada adegan ekspresi wajah talent agar penonton dapat lebih fokus pada emosi di raut wajah talent, dan menggunakan track out pada adegan menjauhi talent seolah-olah meninggalkan cerita si talent di sana.
Kamerawan Semangkuk Inspirasi juga menggunakan crabbing atau pergerakan kamera dari kanan ke kiri atau kiri ke kanan. Shoot dengan pergerakan kamera crabbing pada mikro film Semangkuk Inspirasi memperlihatkan kesan menunggu. Terakhir, kamerawan menggunakan handheld semacam kamera sengaja digoyangkan sehingga memberikan kesan alami pada shoot seakan-akan momen yang ada di scene tersebut natural dan tak dibuat-buat.
Pengalaman membersamai siswa-siswa yang hebat ini dalam memproduksi mikro film Semangkuk Inspirasi mengajarkan penulis untuk jangan pernah berhenti berkarya, jangan pernah berhenti latihan sebab di setiap langkah karya, kita pasti kita belajar dari situ untuk kualitas yang lebih baik. Jangan takut salah, jangan malu salah, biarkan saja orang mencemooh, biarkan saja orang meremehkan, bodo amat dengan apa kata orang, yang terpenting kita berkarya dari diri kita sendiri, kita berkarya secara jujur, dan kita bisa berlatih dari trial and error karya kita untuk kemajuan dari kualitas karya kita. Bukankah sering kita melihat ada pelangi setelah hujan? Semangat! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230527_Ameliana-Tri-Prihatini-Novianti.jpg)