Breaking News

Berita Pangkalpinang

Inspiring People: Kisah Iskandar, Anak Penjual Kue di Kampung yang Mampu Raih Gelar Doktor

Ketika masa itu harus berjuang keliling kampung untuk menjual kue yang dibuat oleh ibu setiap pagi. Setelah berjualan kue,  harus ke sungai

|
Penulis: Rifqi Nugroho | Editor: Iwan Satriawan
istimewa
Iskandar dan keluarga 

BANGKAPOS.COM, BANGKA --  Tepat 50 tahun lalu, Iskandar lahir di Desa Pangkalbuluh, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, dari dua orang tua yang tidak menamatkan pendidikan sampai sekolah dasar (SD).

Menariknya, meski mempunyai latar belakang yang sederhana, saat ini Iskandar berhasil meraih gelar doktor dan menduduki jabatan sebagai Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Babel.

Iskandar mengisahkan, perjuangannya untuk menuntut ilmu ketika SD dilalui dengan berjalan kaki sejauh lima Kilometer dari tempatnya tinggal yang masuk ke kawasan kebun.

Iskandar
Iskandar (dok Bangkapos.com)

"Waktu itu harus jalan kaki, melewati hutan yang sepi dan jalan yang saat itu rusak berat, sepatu yang seharusnya dipakai namun dikalungkan.

Sesekali, diantar ayah juga ketika cuaca tidak memungkinkan, namun lebih banyak jalan kaki," kata Iskandar, Jumat (21/7/2023).

"Menariknya selama di jalan itu, jika mendengar suara motor, saya lari masuk hutan untuk bersembunyi.

Karena saat itu isu yang berkembang terkait dengan penculikan anak kecil yang dijadikan tumbal untuk jembatan," tambahnya.

Setelah sekitar dua tahun, harus ke sekolah berjalan kaki dengan jarak yang jauh itu, keluarga Iskandar akhirnya mulai tinggal di kawasan perkampungan, karena sang ayah membuka usaha warung sembako sedangkan ibunya membuat kue untuk dijual di pagi hari. 

"Ketika masa itu harus berjuang keliling kampung untuk menjual kue yang dibuat oleh ibu setiap pagi.

Setelah berjualan kue,  harus ke sungai dibelakang rumah untuk mandi bersiap masuk sekolah," katanya.

Kisah Iskandar berlanjut ketika lulus dari MTSN Pangkalpinang dan menjadi lulusan 5 terbaik se-Bangka, kemudian dirinya melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Palembang.

"Waktu kuliah memang ingin di Jogja, tapi di IAIN Sunan Kalijaga belum diterima, akhirnya daftar di fakultas Syariah UII yang masih buka pendaftaran saat ini," tandas Iskandar.

"Selama menjadi mahasiswa,  aktif menjadi aktivis mahasiswa  Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Tentunya masa itu seorang mahasiswa yang berorganisasi sangat aktif dan terkadang harus melakukan aksi demonstrasi, seiring waktu Iskandar pun  ikut melakukan aksi demonstrasi," tuturnya.

Lebih lanjut, setelah Iskandar lulus dari Fakultas Ilmu Agama Islam UII dengan predikat cumlaude ia melanjutkan studi magister di Fakultas Hukum UII Yogyakarta sambil mengabdi di LPPAI UII hingga tahun 2001 berhasil meraih gelar Magister Humaniora (MHum).

Halaman
12
Sumber: bangkapos.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved