Tribunners
Menjadi Guru Inspiratif Abad 21 yang Memesona
Guru harus sering melakukan refleksi diri dan evaluasi karena abad 21 menuntut peran guru yang makin tinggi dan optimal
Oleh: Tyas Arista, S.Pd. - Guru PPKn SMPN 2 Selat Nasik
BELUM selesai pembahasan mengenai generasi milenial, dunia pendidikan kembali harus menyesuaikan dengan kehadiran generasi Z, yaitu anak-anak yang lahir setelah tahun 1995. Generasi Z berada pada rentang usia 14-19 tahun dan memiliki banyak sebutan seperti generasi I, Generation Next, New Silent Generation, Homelander, generasi YouTube, generasi Net, dan sebagainya (Giunta, 2017). Generasi ini lebih banyak menghabiskan waktu berinteraksi dengan media genre baru (new media) seperti komputer, internet, video games, dan besar kemungkinannya tidak sempat menjalani kehidupan analog, namun langsung masuk dalam lingkungan digital.
Bisa kita buktikan dan amati, jarang dijumpai generasi Z masih mendengarkan siaran radio, memutar CD, memutar kaset video, dan menonton televisi. Interaksi dengan media generasi sebelumnya (old media) seperti televisi, media cetak, dan musik audio mulai berkurang intensitasnya. Fenomena ini bukan hanya mengubah "apa" yang dipelajari, namun mengubah cara "bagaimana" generasi Z ini mempelajarinya. Lantas Seperti apakah karakteristik generasi Z? Mari kita kenali cirinya.
Pertama, generasi Z menyukai kebebasan dalam belajar (self directed learning) mulai dari mendiagnosis kebutuhan belajar, menentukan tujuan belajar, mengidentifikasi sumber belajar, memilih strategi belajar, dan mengevaluasi hasil belajarnya sendiri.
Kedua, generasi Z suka mempelajari hal-hal baru yang praktis sehingga mudah beralih fokus belajarnya. Merasa nyaman dengan lingkungan yang terhubung dengan jaringan internet karena memenuhi hasrat berselancar, berkreasi, berkolaborasi, dan membantu berbagi informasi sebagai bentuk partisipasi.
Ketiga, generasi Z lebih suka berkomunikasi dengan gambar images, ikon, dan simbol- simbol daripada teks. Keempat, generasi Z tidak betah berlama-lama untuk mendengarkan ceramah guru sehingga lebih tertarik bereksplorasi daripada mendengarkan penjelasan guru. Memiliki rentang perhatian pendek (short attention span) atau dengan kata lain sulit untuk berkonsentrasi dalam jangka waktu lama.
Kelima, generasi Z terbiasa bersentuhan dengan teknologi tinggi dengan aksesibilitas cepat, misalnya ponsel pintar. Rentang perhatian manusia makin pendek ada di kisaran 8 detik (Glum, 2015). Keenam, generasi Z berinteraksi secara kompleks dengan media seperti ponsel pintar, televisi, laptop, desktop, dan iPod. Sering kita amati fenomena seorang peserta didik mengetik dengan laptop sambil melacak informasi lewat ponsel pintar sekaligus menonton televisi. Ketujuh, generasi Z lebih suka membangun eksistensi di media sosial daripada di lingkungan nyata dan cenderung memilih menggunakan aplikasi seperti Snapchat, Secret, Whisper, dan WhatsApp.
Tipe guru
Setelah kita mengetahui karakteristik generasi Z yang hidup di era pembelajaran abad 21, lantas timbul pertanyaan bagi kita yang berprofesi sebagai guru, apakah kita termasuk ke dalam kriteria guru abad 21? Jika guru sering melakukan refleksi dalam pembelajaran, mungkin timbul pertanyaan dalam diri, apakah mereka peserta didik pernah mengikuti pembelajaran yang mudah dipahami dan menyenangkan?
Pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sangat bergantung pada kemampuan guru dalam memfasilitasi pembelajaran. Cara guru bertindak dan bekerja sangat ditentukan oleh pengetahuan, pengalaman, dan sistem kepercayaan terhadap pembelajaran itu sendiri. Ketiga hal tersebut membentuk pola pikir atau paradigma yang melandasi setiap tindakan guru, apakah dia akan menjadi guru yang efektif atau menjadi guru yang tidak efektif. Mari kita mengenal 4 jenis tipe guru, guru seperti apakah kita?
Tipe pertama disebut guru medioker (mediocre teacher). Guru tipe medioker sering menjengkelkan bagi sebagian besar peserta didik. Ciri guru medioker adalah monoton, mata lebih banyak melihat buku dan membacanya, selalu duduk atau berdiri di depan ruang kelas, pendapatnya seolah-olah merupakan kebenaran mutlak, dan peserta didik lebih banyak mendengar suara guru. Mungkin jika dihitung persentase apakah aktivitas mengajar lebih banyak mendengarkan peserta didik atau lebih banyak menceramahi peserta didik?
Guru tipe medioker hanya menggugurkan kewajiban, susah menerima kritik, dan menutup diri. Guru tipe ini bisa berdampak negatif secara luas, kurang disenangi peserta didik dan orang tua, sampai menurunnya rasa hormat kepada guru. Dampak luas kepada peserta didik adalah timbul rasa malas dan bosan di sekolah, sebagai pelariannya akan mengekspresikan energinya di luar sekolah yang bisa berpotensi negatif. Guru medioker akan digilas zaman dan menjadi bahan gunjingan generasi Z.
Tipe kedua disebut guru yang baik (good teacher). Guru dalam kategori ini selangkah lebih baik. Guru tipe baik memiliki kemampuan ceramah dan menjelaskan berdasarkan hasil analisis, bukan sekadar membaca ulang dan menghafal meskipun dilihat dari gaya mengajarnya masih cenderung berpusat guru.
Selain itu, gaya mengajarnya juga masih bersifat teacher center. Suatu fakta sekaligus merupakan tragedi di mana masih banyak guru yang memahami materi pembelajaran dengan baik, namun gagal memahami peserta didik. Guru tipe ini sebatas terampil memahami materi pembelajaran (content knowledge) dan mentransfer pengetahuan yang sebenarnya bisa digantikan oleh teknologi. Guru tipe ini juga harus segera berubah dari sekadar menuangkan pengetahuan menjadi berorientasi mengembangkan keterampilan baru abad 21 dengan cara yang baru dalam memfasilitasi pembelajaran.
Tipe ketiga disebut guru superior (demonstrates). Apabila guru dapat membuat suasana kelas menjadi lebih interaktif dan kreatif, semua peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat, maka ia termasuk guru yang superior. Interaksi pembelajaran tidak lagi hanya terjadi guru dengan peserta didik, namun di antara peserta didik dan peserta didik dengan sumber belajar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230807_Tyas-Arista-Guru-SMPN-2-Selat-Nasik.jpg)