Tribunners
Menjadi Guru Inspiratif Abad 21 yang Memesona
Guru harus sering melakukan refleksi diri dan evaluasi karena abad 21 menuntut peran guru yang makin tinggi dan optimal
Guru superior suka memanfaatkan media pembelajaran sehingga materi pembelajaran mudah diingat dan dipahami oleh peserta didik. Guru superior sudah mampu menciptakan pembelajaran yang berbasis peserta didik namun dirinya tetap aktif.
Tipe keempat disebut great teacher (inspires). Guru dengan tipe great sangat dibutuhkan oleh bangsa dan dirindukan selalu oleh peserta didik. Guru tipe ini seolah-olah memiliki x-factor di mana setiap proses pembelajarannya selalu dilandasi oleh panggilan jiwa, ibadah, dan merasa berdosa apabila tidak mampu menginspirasi peserta didiknya.
Great teacher banyak melakukan refleksi diri dan berupaya terus untuk membangun kompetensinya. Guru tipe ini sepenuh hati dan bermurah hati, tampil memesona namun canggih dalam artinya memiliki literasi TIK yang baik, pandai beranalogi, bermetafora, dapat menyelami perasaan peserta didik, ramah dan berwibawa. Bayangkan jika Anda seorang guru yang selalu dirindukan oleh peserta didik sepanjang hari di mana pun dan kapan pun.
Guru inspiratif yang memesona
Guru harus sering melakukan refleksi diri dan evaluasi karena abad 21 menuntut peran guru yang makin tinggi dan optimal. Sebagai konsekuensinya, guru yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman makin tertinggal sehingga tidak bisa memainkan perannya secara maksimal dalam mengemban tugas dan menjalankan profesinya. Guru abad 21 memiliki karakteristik spesifik dibanding dengan guru pada era sebelumnya. Karakteristik guru abad 21 akan tercermin dengan aksi penampilan memesona di depan peserta didik. Pertanyaannya adalah bagaimana menjadi guru inspiratif abad 21 yang memesona?
Pertama, guru harus bisa menjadi teman belajar (co learner) yang menyenangkan, pandai membuat analogi materi yang sulit dengan padanan sehingga mudah dipahami. Contoh seorang guru ingin menjelaskan peredaran darah yang sehat maka diibaratkan dengan lalu lintas yang lancar tanpa kemacetan.
Kedua, pandai membuat metafora atau perumpamaan sebagai strategi sehingga peserta didik mudah menangkap esensi dari suatu materi. Misalnya guru bisa menggunakan cerita untuk menumbuhkan kesadaran penggunaan teknologi yang bijaksana. Metafora dapat dipergunakan di awal, di tengah maupun akhir pembelajaran. Contoh pernyataan yang mengandung metafora; "jika engkau berhenti belajar, maka jiwamu akan merasakan sebagaimana tubuhmu jika engkau berhenti makan dan minum".
Ketiga, canggih. Guru memesona harus terlihat canggih sehingga generasi Z merasa ada sesuatu yang perlu dipelajari dari gurunya dan terkagum-kagum. Contoh, guru bisa mendemonstrasikan penggunaan teknologi dan merupakan pengalaman menakjubkan bagi peserta didik. Program animasi flash ditunjukkan kepada anak-anak dari gambar kupu-kupu bisa dirancang menjadi terbang.
Sudah pasti apabila guru yang canggih selalu dikerubuti peserta didik yang selalu menantikan hal-hal yang baru dari gurunya. Cara di atas bisa saja dianggap hal biasa oleh peserta didik di sekolah yang sudah maju, karena itulah guru perlu mengimbangi dan beberapa langkah lebih maju dari peserta didik. Inilah pentingnya guru menyelami dan mengerti benar kegemaran peserta didik. Kecanggihan tidak harus bersentuhan teknologi termasuk misalnya guru bisa bermain sulap, bermain musik, bernyanyi, mendemonstrasikan trik-trik dan sebagainya.
Keempat, humoris namun tegas dan disiplin. Guru yang humoris membawa suasana lebih akrab dan dekat, menyebabkan suasana riang namun tetap tegas dan disiplin kapan waktunya belajar dan kapan bersikap humor.
Kelima, guru pandai berempati dan menyayangi peserta didik. Tidak semua peserta didik berasal dari keluarga yang beruntung secara ekonomi atau banyak yang mengalami kondisi keluarga yang kurang harmonis. Guru harus mengenal satu persatu latar belakang dan bahkan menjadi tempat bernaung dan berlindung. Tugas guru adalah membuat peserta didik belajar nyaman, merasa terlindungi dan bahkan bisa membantu menyelesaikan persoalan peserta didik di sekolah maupun di rumah.
Keenam, memiliki rasa kesepenuhhatian dan menyadari apa yang dilakukan adalah panggilan jiwa. Guru perlu bermurah hati sehingga kelas-kelas kita menjadi tempat yang menyejukkan bagi peserta didik dan termotivasi untuk menjadi generasi tangguh dan baik. Beban hidup guru tidak boleh terekspresikan negatif di depan peserta didik, justru memperlihatkan sosok tangguh yang patut diteladani.
Jika Anda seorang guru yang memiliki ciri seperti contoh di atas, maka saya ucapkan selamat dan jika Anda bertanya, apakah saya ingin menjadi guru inspiratif abad 21 yang memesona? Maka saya akan menjawab dengan tegas, ya" saya ingin menjadi "Great Teacher"!. Sebagai seorang guru saya akan berusaha dengan sekuat tenaga bagaimana predikat itu bisa melekat kepada saya. Semoga Allah SWT merahmati guru-guru yang telah mendidik saya dan semua rekan-rekan guru hebat di seluruh Indonesia.
Rasulullah SAW pernah bersabda: "Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kaku dan keras akan tetapi mengutusku sebagai seorang pendidik dan mempermudah." (HR. Muslim). Wallahua'lam Bisshawab. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230807_Tyas-Arista-Guru-SMPN-2-Selat-Nasik.jpg)