Rabu, 6 Mei 2026

Tribunners

Sekolah, Lokomotif Terbentuknya Budaya Masyarakat Baru yang Lebih Baik

Jika pendidikan kita mengutamakan pendidikan karakter (yang baik) secara nyata, tujuan pendidikan menyejahterakan masyarakat akan terwujud

Tayang:
Editor: suhendri
ISTIMEWA
Kurniati - Kepala SMAN 1 Riau Silip 

Oleh: Kurniati - Kepala SMAN 1 Riau Silip

"SEKOLAH adalah lokomotif terbentuknya budaya masyarakat baru yang lebih baik dan produktif" tulis Ardiansyah dkk. dalam bukunya Kepemimpinan Kepala Sekolah. Membaca kalimat ini, adakah sesuatu yang menguat dalam pikiran kita? Lalu bagaimana dengan proses lingkungan sekolah yang telah ada?

Jika kita menyimak dengan hati terbuka, dan benar-benar berada dalam alam nyata pendidikan saat ini, kita akan mengangguk setuju. Bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat dengan budaya yang baik. Dunia pendidikan adalah dunia beragam individu dengan bermacam versinya dan berproses/membudaya membentuk keluarga dan masyarakat. Kumpulan tak berbatas untuk tatanan usia berapa pun dalam dunia pendidikan. Sebuah komunitas yang berkumpul dalam wadah, waktu, dan visi yang sama, untuk tempo yang konsisten dan lama.

Hal utama dari sebuah harapan adalah melihat adanya peradaban baik yang pasti akan terbentuk dari sebuah institusi pendidikan (sekolah). Ruang interaksi yang begitu mapan dikemas dalam periode yang terjadwal dengan baik. Minimal dalam prosesnya terjadi interaksi antara pendidik dan peserta didik hingga mampu menghasilkan masyarakat baru yang apik.

Akan tetapi, bagaimana dalam kenyataannya? Ada sedikit rasa khawatir, bahwa dunia pendidikan kita masih dipenuhi tanda tanya (?) Dengan pengertian bahwa untuk mencapai tujuan pendidikan, kita masih harus banyak berbuat. Harapan yang digantungkan terkadang tidak dicoba untuk dijangkau. Masih banyak hambatan dan pekerjaan yang harus ditangani secara baik.

Saat ini, secara umum kita masih merasakan adanya kelemahan perilaku bangsa ini. Bahwa masyarakat kita masih memiliki mentalitas yang meremehkan mutu, masyarakat kita memiliki mentalitas yang suka instan (menerabas), kurang percaya pada diri sendiri, kurang disiplin, dan kurang). Pendapat yang kurang lebih senada bertanggung jawab (Koentjaraningrat dalam Ardiansyah, 2020:23).

Ditambahkan lagi, pendapat yang kurang lebih senada ditandai pula oleh budayawan dan sastrawan kita, Mochtar Lubis (dalam Ardiansyah, idem). Budayawan itu mencatat hal yang ada pada masyarakat kita dengan konotasi yang negatif, yaitu; masyarakat suka berpura-pura (penampilan berbeda di depan dan di belakang), segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatan, putusan, bahkan terhadap pikirannya sendiri, dan masih memiliki jiwa feodalistik.

Realitas ini, tentu sangat mengganggu perasaan kita sebagai sebuah bangsa yang besar. Sebagai sebuah negara dengan sumber daya manusia yang banyak, namun sedikit menghasilkan karya besar. Akibatnya kenyataan ini menjadi pekerjaan besar bagi institusi atau dunia pendidikan kita untuk dapat memberikan pengaruh yang baik pada perilaku peserta didik, anak-anak yang pada intinya adalah bagian dari masyarakat dunia. Pendidikan harus menjadi pilar bagi tertatanya kehidupan masyarakat yang madani, yaitu masyarakat yang menjunjung tinggi nilai, norma, ilmu, iman, hukum, dan teknologi yang membangun peradaban.

Sementara itu, dunia pendidikan kita dalam proses membangun budaya baik ini masih cenderung setengah hati. Padahal tujuan pendidikan telah jelas. Tujuan pendidikan diatur dengan undang-undang dan berpedoman pada tujuan yang secara nasional ditetapkan sekaligus beriringan dengan tujuan negara ini dibangun.

Memang, secara kuantitas level pendidikan kita tak kalah bersaing menghasilkan orang-orang pintar. Akan tetapi keberhasilan mencetak sarjana yang banyak (sesuai dengan banyaknya jumlah penduduk) tak sebanding dengan kualitas manusianya. Banyak yang berpendidikan tinggi namun rendah kualitas diri. Banyak yang membanggakan intelektual yang dimiliki, tetapi memalukan akal nurani. Lebih menyedihkan lagi bahkan mereka banyak menjadi pemuja orang-orang yang berbicara tinggi namun rusak pada budi pekerti. Mengapa terjadi?

Semua terjadi karena kualitas tujuan pendidikan belum terpenuhi. Fenomena pribadi yang kurang baik sering menjadi asupan publik, setiap hari dipertontonkan melalui media massa. Mereka yang berlaku salah bahkan dijadikan duta. Setiap saat hal ini tersaji maka menjadilah konsumsi yang setiap hari dinikmati sehingga menghasilkan kualitas diri yang tidak baik. Peran pengawas atau pengontrol sosial laksana selalu menderita amnesia dan katarak setiap saat. Ibarat penyakit yang menjadi sporadis dan pandemik.

Untuk inilah, perlunya penguatan sekolah sebagai wadah mendidik jiwa-jiwa peserta didik agar tetap menjadi baik. Aura kebaikan alami setiap manusia menjadi terjaga jika dibarengi dengan pola budaya sekolah yang sempurna. Dunia pendidikan dalam hal ini di sekolah, memang bukanlah sebuah ranah yang dapat membentengi penuh pengaruh pada jiwa-jiwa murni (anak-anak didik) tetapi, setidaknya dapat menjadi lembaga yang mempertahankan, memelihara, melestarikan, dan membina perilaku dan karakter manusia-manusia yang bijaksana. Dengan demikian, perubahan budaya beserta kemajuan berpikir masyarakatnya dapat meningkatkan kesejahteraan bangsa.

Dalam catatan pengajaran sedunia, telah terjadi pembaruan arah atau kiblat bagaimana melihat pola pendidikan yang baik di sebuah negara. Saat ini bukan negara Barat atau Finlandia yang memiliki kemajuan dalam sistem pendidikan. Sistem pendidikan terbaik saat ini diduduki oleh negara ginseng Korea. Ya. Negara yang memiliki sistem pendidikan dengan baik ada di Korea Selatan. Siapa yang tak tahu negara yang terkenal dengan K-popnya ini? Di sana, pendidikan dengan pola membiasakan (budaya) telah terbukti mampu mengangkat mereka menjadi negara yang makmur dan memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia (Edu-Tech Lister.co.id,diakses 8 Februari 2022 15:34).

Beberapa artikel menulis bahwa sistem pendidikan di Korea Selatan termasuk dalam daftar negara Asia yang berhasil menembus peringkat dunia dalam bidang pendidikan. Ditulis pula berdasarkan laporan; peringkat rata-rata skor PISA (Programme for International Student Assessment) menunjukkan keberhasilan itu. Tentu hal ini luar biasa, secara negara pangeran BTS idol KPop dunia ini adalah negara yang baru membangun sistem pendidikannya di akhir abad ke-20. (Berkat pendidikan, negara dengan drama terbaiknya ini dijuluki pula sebagai Asian Tiger karena performa ekonominya yang mampu beranjak dari negara miskin). Setelah Korea Selatan, negara berpendidikan terbaik berikutnya adalah Jepang, Singapura, Hong Kong, dan Finlandia.
Bagaimana cara mereka membudayakan sumber daya yang ada hingga menjadikan sistem pendidikan memengaruhi kualitas pendidikan, bahkan melesatkan kemajuan negaranya?

Berdasarkan beragam ulasan, terdapat beberapa faktor menjadi sistem kekuatan pendidikan di sana. Pertama; Lama Belajar yang Sangat Menguras Waktu. Diinformasikan bahwa waktu belajar para pelajar di Korea Selatan belajar di sekolah adalah 16 jam sehari, atau 50 jam seminggu. Artinya mereka menjalani pendidikan di sekolah dari pagi hingga malam hari. Biasanya setelah pulang sekolah, mereka akan mengikuti bimbingan belajar (bimbel) hingga pukul 22.00. Selain itu, belajar di sekolah juga dilakukan di hari Senin hingga Sabtu. Mereka libur pada saat hari libur nasional dan semester. Tak ada yang instan di sana. Adapun ditinjau dari sisi positifnya, para pelajar akan terhindar dari kegiatan anarkis karena sudah terlalu lelah belajar. Sementara itu untuk Indonesia hanya 8 jam sehari atau 44 jam seminggu itu pun bagi sekolah menengah atas.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved