Tribunners
Perihal Riwayat Fariduddin Attar
Pada prinsipnya, jalan menuju Tuhan didasarkan pada pengetahuan batin yang diperoleh melalui pintu hati yang paling dalam
Universalitas tasawuf
Pada prinsipnya, jalan menuju Tuhan didasarkan pada pengetahuan batin yang diperoleh melalui pintu hati yang paling dalam. Tidak jarang manusia terjebak di lembah pengetahuan yang bersifat konvensional, seperti nalar-nalar yang terlampau rasional dan ilmiah.
Padahal, perjalanan ilmu-ilmu kerohanian harus ditempuh dengan berlapis-lapis riyadah dan mujahadah. Menurut Attar, pengetahuan rasional dan ilmiah bukannya tidak penting, tetapi justru dapat membantu proses percepatan untuk dapat menangkap pesan-pesan ilahiyah.
Dalam karyanya “Asrar Nameh”, Attar justru menekankan pentingnya tarekat dan syariat, yang berasas pada penelitian ilmu yang berlandaskan akal pikiran untuk menerjemahkan keimanan dengan sebaik-baiknya. Dalam posisi ini, Attar mengingatkan bahwa penampakan seorang sufi kepada Tuhan tidak berbentuk Hulul sebagaimana konsep Al-Hallaj. Karena menurutnya, manusia adalah makhluk sosial yang saling mengisi dan memengaruhi, demi untuk memperkaya khazanah keilmuan yang membahagiakan.
Dalam buku “Tadzkiratul Awliya” tergambar jelas karakteristik manusia yang beragam, sebagai simbol kearifan lokal (local wisdom) termasuk jalan yang ditempuh sufi di berbagai belahan dunia. Untuk menulis buku tersebut, Attar mengakui dirinya telah diilhami oleh sekitar 710 bacaan tentang pengalaman sufistik.
Dari semua jalan yang ditempuh, menurut Attar, maqam “Mahabbah” (cinta murni) tergolong stasiun paling aman dan mudah untuk ditempuh. Bagaikan seekor kupu-kupu yang terbang di malam hari dalam terang api, hingga terbakar oleh dorongan cinta sejati. Demikian pula perjalanan spiritual yang berat harus dikobarkan dan dinyalakan oleh nyala api cinta yang berkobar, tanpa mengenal kata padam.
Ada banyak tanda dan sinyal ilahiyah di sekitar kehidupan manusia, jika manusia mampu menangkapnya. Akan tetapi, kebanyakan manusia lalai dan lupa diri, hingga kemudian tanda-tanda dan sinyal itu memudar dan menghilang. Kelemahan mental karena stres, ketidaktaatan, dan semua faktor yang menyebabkan manusia berpuas diri, akan dapat menghapus jejak kasih dan karunia Tuhan.
Itulah yang membuat pentingnya seorang guru (mursyid) yang dapat menunjukkan jalan riyadah dan mujahadah untuk mencapai kemurnian spiritual, serta membuat jiwa manusia akan mudah terkoneksi dengan pesan-pesan ilahiyah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230514_Guru-Ponpes-Al-Bayan_Eeng-Nurhaeni.jpg)